Pemeriksaan Payudara Klinis (SADANIS) merupakan pemeriksaan fisik pada area payudara dan ketiak yang dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih, seperti dokter atau bidan. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mendeteksi kelainan atau tanda awal kanker payudara.
Deteksi dini terhadap potensi kanker payudara penting dilakukan karena dapat membantu meningkatkan peluang kesembuhan hingga 80–90%.
Pada periode tahun 2023-2025, sebanyak 4.089.557 perempuan pada usia 30-50 tahun atau 9,45% dari total sasaran telah menjalani deteksi dini kanker payudara melalui pemeriksaan payudara klinis.
10 Provinsi dengan Persentase Pemeriksaan Payudara Klinis Tertinggi
Baca Juga: 20 Ribu Peserta CKG Dicurigai Kena Kanker Payudara
Pada tahun 2025, data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menunjukkan bahwa cakupan tertinggi pemeriksaan payudara klinis dilaporkan oleh Provinsi Sulawesi Tenggara dengan capaian 20,8%.
Tingginya upaya deteksi dini di Sulawesi Tenggara sejalan dengan tingginya penderita. Direktur RSUD Bahteramas Sultra, dr. H. Hasmudin SpB menyampaikan bahwa terdapat rata-rata 100 pasien kanker payudara setiap bulannya.
“Rata-rata per bulan penderita kanker payudara sekitar 100 orang yang ditangani. Dan ini belum termasuk pasien lama yang datang kontrol.” jelasnya (18/7/2024).
Provinsi berikutnya dengan persentase pemeriksaan deteksi dini kanker payudara tertinggi dipegang oleh Papua Selatan di angka 18,68% dan Maluku Utara yang menunjukkan cakupan SADANIS sebesar 16,9% pada periode 2023-2025.
Kanker payudara beserta kanker rahim merupakan salah satu jenis kanker yang paling banyak ditemukan di wilayah Papua. Kurangnya pemahaman tentang deteksi dini mandiri dan sulitnya akses ke fasilitas kesehatan membuat cukup banyak kasus yang terdeteksi telah berada pada stadium lanjut (stadium 3 dan 4).
Oleh karena itu, pemerintah bersama organisasi-organisasi terkait terus meningkatkan dan mengupayakan layanan SADANIS serta layanan rujukan kesehatan di wilayah Papua untuk menekan angka kasus kanker payudara.
Urutan selanjutnya ditempati oleh Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan masing-masing 14,87% dan 14,79% cakupan pemeriksaan payudara klinis pada periode 2023-2025.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Jawa Tengah tahun 2024, tercatat jumlah penderita kanker payudara mencapai 13.570 orang. Menanggapi fakta tersebut, Dinkes menggandeng kader PKK untuk menggiatkan layanan deteksi dini kanker payudara.
Menyusul dengan persentase yang terpaut tipis adalah Sumatra Barat yang mencatatkan 14,43%, disusul oleh Kepulauan Bangka Belitung di angka 13,89%.
Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mencatatkan 98 orang penderita kanker payudara pada tahun 2024. Artinya, proporsi cakupan deteksi dininya tergolong relatif tinggi.
Peringkat kedelapan diduduki oleh Sumatra Utara dengan persentase sebesar 12,09%, disusul oleh Banten pada posisi kesembilan di angka 11,51%, dan ditutup oleh Sulawesi Selatan dengan cakupan sebesar 10,71%.
Kanker payudara merupakan salah satu jenis kanker yang paling banyak diderita secara nasional. Jumlah penderitanya pun tinggi dan terus meningkat. Oleh karena itu, persentase pemeriksaan payudara klinis nasional masih tergolong rendah dan perlu terus ditingkatkan.
Baca Juga: 66% Puskesmas di Papua Pegunungan Tidak Punya Dokter, Tertinggi pada 2025
Sumber:
https://www.kemkes.go.id/id/profil-kesehatan-indonesia-2025