Nasional

PISA 2025: Siswa Indonesia dengan Growth Mindset Lebih Antusias Belajar

Dalam hasil survei PISA 2025, hanya 38,4% siswa Indonesia yang berpola pikir berkembang sangat senang belajar hal baru, 28,8% lainnya merasa tidak senang.

PISA 2025: Siswa Indonesia dengan Growth Mindset Lebih Antusias Belajar

Ilustrasi Siswa Indonesia | ROMAN ODINTSOV/Pexels

Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) meluncurkan Programme for International Student Assessment (PISA), sebuah survei rutin yang dilakukan setiap tiga tahun sekali terhadap siswa berusia 15 tahun di seluruh dunia untuk mengetahui sejauh mana responden telah menguasai kemampuan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk berperan serta dalam kehidupan sosial dan ekonomi.

Dalam Publikasi PISA 2025 Result, OECD turut menganalisis bagaimana keterlibatan siswa dalam belajar dan bagaimana pengalaman siswa itu sendiri baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah.

Keterlibatan siswa biasanya sering dijelaskan dalam hal keterlibatan perilaku, kognitif, serta emosional ataupun sosial. Hal tersebut yang mengarahkan penilaian terhadap keyakinan siswa tentang kemampuan diri untuk berkembang (growth mindset), dilihat dari bagaimana siswa percaya bahwa kecerdasan intelektual dapat dikembangkan melalui usaha.

Survei PISA pada tahun 2025 telah melibatkan lebih dari 760 ribu siswa dari 91 negara serta wilayah ekonomi, menunjukkan bagaimana siswa melihat kecerdasan intelektual sebagai sesuatu yang dapat diusahakan atau sesuatu yang tidak bisa diubah dan bersifat bawaan lahir.

Hasil Survei PISA Sebut 38,4% Siswa Indonesia yang Miliki Growth Mindset Senang Belajar Hal Baru
Hasil Survei PISA Sebut 38,4% Siswa Indonesia yang Senang Belajar Hal Baru Miliki Growth Mindset | GoodStats

Terdapat 68% siswa yang memiliki pola pikir berkembang di seluruh negara anggota OECD, 70% di antaranya merupakan perempuan dan 68% lainnya merupakan laki-laki. Di 32 negara serta wilayah ekonomi dilaporkan bahwa pola pikir berkembang perempuan lebih mendominasi daripada laki-laki, Indonesia termasuk salah satunya.

Baca Juga: Skor PISA 8 Negara ASEAN 2025, Kemampuan Siswa Indonesia Merosot

Berdasarkan gender, siswa perempuan Indonesia yang tidak setuju terhadap pernyataan “Kamu memiliki tingkat kecerdasan intelektual tertentu, dan kamu percaya itu bawaan lahir, tidak bisa mengubahnya” memiliki persentase hingga 33,5%, jauh lebih unggul daripada persentase laki-laki sebesar 27,3% meskipun perbedaan tersebut cenderung kecil.

Responden siswa Indonesia yang menjawab tidak setuju dari pernyataan tersebut diklasifikasikan sebagai siswa dengan pola pikir berkembang, artinya memiliki keyakinan bahwa kecerdasan intelektual itu dapat ditingkatkan bukan takdir.

Hasil Survei PISA Sebut 38,4% Siswa Indonesia yang Miliki Growth Mindset Senang Belajar Hal Baru | GoodStats
Hasil Survei PISA Sebut 38,4% Siswa Indonesia yang Senang Belajar Hal Baru Miliki Growth Mindset | GoodStats

OECD menjelaskan bahwa pola pikir yang berkembang berkorelasi positif dengan antusiasme atau rasa ingin tahu belajar. Grafik di atas menunjukan bahwa responden siswa Indonesia merasa senang ketika mempelajari hal baru.

Hanya sebanyak 38,4% responden yang memiliki growth mindset tercatat senang belajar hal baru, sedangkan responden siswa yang merasa senang mempelajari hal baru tetapi tidak mempunyai pola pikir berkembang hanya 28,8%.

Hasil Survei PISA Sebut 38,4% Siswa Indonesia yang Miliki Growth Mindset Senang Belajar Hal Baru | GoodStats
Hasil Survei PISA Sebut 38,4% Siswa Indonesia yang Senang Belajar Hal Baru Miliki Growth Mindset | GoodStats

Sama halnya dengan mempelajari hal baru, responden siswa Indonesia yang pantang menyerah ketika menghadapi pekerjaan yang sulit didominasi oleh siswa yang memiliki pola pikir berkembang. Hal tersebut dapat dilihat dari persentase yang mencapai 34,5% pada tahun 2025. Hanya 28,7% yang tidak memiliki pola pikir berkembang.

Rata-rata seluruh responden siswa anggota negara OECD yang bersifat pantang menyerah jika diberikan pekerjaan sulit dipenuhi oleh siswa berpola pikir berkembang, yakni sebanyak 72%. Sementara itu, yang tidak mempunyai pola pikir berkembang hanya 67%.

Dengan demikian, responden siswa Indonesia sebenarnya cenderung memiliki pola pikir yang berkembang dan aspek tersebut yang memengaruhi kemampuan pembelajaran dan keterlibatan siswa yang lebih luas. OECD turut menegaskan bahwa aspek ini sebaiknya tidak diperlakukan sebagai label tetap, tetapi cara melihat bagaimana siswa memahami pembelajaran.

Penting bagi anak muda untuk memiliki keterampilan, pengetahuan, dan kemampuan agar sukses dalam hidup dan pekerjaan. Keluarga, sekolah, dan komunitas memainkan peran krusial dalam mendukung keterlibatan siswa dan kesuksesan pendidikan. Dengan begitu, OECD menekankan bahwa anak muda harus terus belajar seumur hidup sesuai dengan tuntutan ekonomi dan sosial.

Baca Juga: Skor PISA 2025 Rilis, Inilah 10 Negara dengan Kualitas Pendidikan Sains Terbaik

Sumber:

https://www.oecd.org/en/publications/pisa-2025-results-volume-i_73451bc5-en.html

Penulis: Zalfa Ronaa Editor: Editor

Terima kasih telah membaca sampai di sini

Lupa Sandi?