Kesiapan sekolah menjadi salah satu indikator penting dalam menilai mutu pendidikan dasar di Indonesia, terutama pada masa transisi dari pendidikan anak usia dini (PAUD) ke Sekolah Dasar (SD). Periode ini merupakan fase krusial yang menentukan kemampuan anak untuk beradaptasi, belajar, dan berkembang secara optimal di jenjang berikutnya.
Laporan dari Badan Pusat Statistik mengungkapkan bahwa angka kesiapan sekolah di Indonesia terus meningkat dalam lima tahun terakhir. Peningkatan ini mencerminkan bagaimana ekosistem pembelajaran dini, mulai dari keluarga hingga guru, dapat mendukung perkembangan anak secara holistik.
Apa Itu Angka Kesiapan Sekolah?
Angka kesiapan sekolah adalah banyaknya peserta didik yang sedang duduk di kelas 1 SD sederajat yang pada tahun ajaran sebelumnya telah mengikuti PAUD. Semakin tinggi persentasenya, maka semakin tinggi pula partisipasi peserta didik dalam pendidikan usia dini.
Pendidikan usia dini sejatinya tidak hanya fokus pada aspek akademik, melainkan juga pada pembentukan karakter. Banyak nilai-nilai moral, disiplin, tanggung jawab, dan keterampilan sosial yang diajarkan melalui PAUD. Anak-anak juga memperoleh stimulasi dini untuk meningkatkan kemampuan berpikir, kreativitas, dan keterampilan motorik. Untuk itu, tingkat partisipasi PAUD menjadi indikator penting seberapa siap anak Indonesia untuk menerima pendidikan di jenjang formal.
Perkembangan Angka Kesiapan Sekolah
Angka kesiapan sekolah di Indonesia tercatat terus meningkat dari tahun ke tahun, bahkan mencapai rekor tertinggi pada 2025.
Pada 2021, angka kesiapan sekolah sebesar 74,69%, yang artinya 74,69% murid kelas 1 SD sederajat pada tahun tersebut telah mengikuti pendidikan prasekolah dan PAUD. Persentasenya naik menjadi 74,43% pada 2022, dan terus naik pada tahun berikutnya menjadi 76,65%.
Memasuki 2023, angka partisipasi sekolah meningkat menjadi 77,47% dan mencapai nilai tertinggi pada 2025, yakni 80,29%.
Jika ditinjau menurut jenis kelamin, angkanya hampir sama, dengan angka partisipasi sekolah laki-laki sebesar 79,92% dan perempuan mencapai 80,67% pada 2025. Meski begitu, peserta didik di perkotaan punya persentase yang lebih tinggi, yakni 82,48% dibanding di perdesaan yang sebesar 77,36%.
Deputi Koordinasi Peningkatan Kualitas Anak, Perempuan dan Pemuda Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Woro Srihastuti Sulistyaningrum menegaskan pentingnya pendidikan usia dini bagi pembangunan sumber daya manusia. Menurutnya, anak pada usia dini cenderung cepat meniru dan mencontoh apa yang diajarkan, sehingga peran orang tua dan tenaga pendidik sangat penting.
"Mereka adalah peniru ulung dari apa yang dikatakan dan dilakukan oleh orang dewasa yang dekat dengan kehidupan mereka sehari hari. Karena itu, pembentukan karakter bagi anak-anak akan sangat efektif dilakukan sejak usia dini untuk dapat menghasilkan SDM yang berkualitas," tutur Lisa pada peringatan Hari Anak Nasional ke-40 tahun 2024 (29/7/2024), mengutip laman Kemenko PMK.
Baca Juga: Mayoritas Guru SD di Indonesia Berusia 36-40 Tahun
Sumber:
https://www.bps.go.id/id/publication/2025/11/21/d048070f37740b0e04d99350/statistik-pendidikan-2025.html
Penulis: Agnes Z. Yonatan