Bulan Ramadan menjadi momen spesial bagi banyak warga Indonesia, terutama umat Muslim. Momentum bulan suci ini juga sering kali dimanfaatkan brand untuk membangun kedekatan emosional dengan konsumen. Banyak merek menggunakan waktu ini untuk menyampaikan pesan yang relevan dengan nilai kebersamaan, empati, dan solidaritas sekaligus mendorong penjualan.
YouGov melakukan survei terhadap 6.308 responden berusia di atas 18 tahun di lima negara, mencakup Indonesia, Malaysia, Turki, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab pada Desember 2025 untuk memahami iklan seperti apa yang beresonansi dengan konsumen dalam negeri.
Survei menunjukkan bahwa pendekatan emosional masih menjadi strategi paling efektif. Sebanyak 37% responden menilai iklan bertema kisah keluarga menyentuh sebagai yang paling membekas di hati. Narasi tentang orang tua, anak, hingga momen pulang kampung terbukti mampu membangun koneksi yang kuat dengan audiens. Tidak heran jika iklan seperti ini banyak ditemukan di layar kaca selama momen Ramadan.
Menariknya, dari empat negara lain dalam survei, Malaysia dan Turki juga sama-sama memilih iklan bertema kisah keluarga sebagai yang paling ampuh untuk menarik konsumen.
Baca Juga: Simak Ragam Makna Ramadan 2026 bagi Publik RI
Lebih lanjut, di posisi berikutnya, iklan yang menonjolkan kegiatan donasi dipilih oleh 32% responden. Iklan yang menampilkan aksi berbagi, kepedulian sosial, dan semangat membantu sesama dipandang sejalan dengan nilai Ramadan yang identik dengan kebaikan dan kemurahan hati.
Sementara itu, 25% konsumen menyukai iklan yang berisi humor dan kisah sehari-hari. Pendekatan ringan namun tetap relevan membuat pesan lebih mudah diterima tanpa terasa menggurui. Tak jauh berbeda, unsur budaya lokal juga menjadi daya tarik dengan angka 24%, menunjukkan bahwa representasi tradisi dan kearifan lokal tetap relevan dalam membangun kedekatan emosional selama Ramadan.
Menariknya, aspek komersial seperti promo dan diskon berada di urutan kelima dengan angka 23%. Artinya, meskipun Ramadan sering diidentikkan dengan lonjakan konsumsi, pendekatan emosional tetap lebih dominan dibanding sekadar penawaran harga.
Di sisi lain, elemen seperti menampilkan orang dan komunitas asli dipilih oleh 14% responden, sedangkan iklan yang dibintangi selebritas hanya menarik 8%. Angka ini menunjukkan bahwa keaslian cerita lebih berpengaruh dibanding popularitas figur publik. Adapun kategori lainnya mencatat 6%.
Kapan Jam yang Tepat untuk Beriklan?
Tidak hanya konten iklan yang penting untuk diperhatikan, strategi pemasangan jadwal iklan juga harus menjadi perhatian. Survei YouGov menunjukkan bahwa mayoritas konsumen Indonesia menonton TV pada malam hari pukul 7-10 selama momen Ramadan.
Momen menonton TV di malam hari dapat diartikan sebagai waktu bersantai dan melepas letih setelah seharian penuh beraktivitas. Menghabiskan waktu dengan keluarga sambil menonton TV masih menjadi pilihan aktivitas publik Indonesia.
Di urutan kedua, 30% responden menonton TV pada pukul 2 siang sampai 6 sore selama Ramadan, menjadi momen menunggu berbuka bagi yang menjalankan ibadah puasa.
Adapun 18% responden menonton TV pada pukul 10 pagi sampai 2 siang, disusul 17% yang memilih menghabiskan pagi harinya (pukul 6-10) untuk menonton TV.
Dengan proporsi yang lebih rendah, 10% responden memilih menonton TV ketika larut malam, yakni pukul 10 malam sampai 2 pagi.
Baca Juga: Kendaraan Pribadi Masih Jadi Andalan Mudik 2026
Sumber:
https://yougov.com/articles/54011-ramadan-2026-consumer-insights-5-key-findings-across-indonesia-malaysia-saudi-arabia-turkiye-and-the-uae
Penulis: Agnes Z. Yonatan
Editor: Editor