Optimisme Ketersediaan Lapangan Kerja Menyusut pada Mei 2026

Penurunan optimisme ketersediaan lapangan kerja paling terasa pada strata pendidikan pascasarjana dan kelompok usia 51-60 tahun.

Optimisme Ketersediaan Lapangan Kerja Menyusut pada Mei 2026 Ilustrasi penurunan | Magnific
Ukuran Fon:

Ketersediaan lapangan kerja merupakan salah satu indikator utama dalam menjaga stabilitas dan perputaran roda ekonomi nasional. Ketika koridor dunia kerja terbuka lebar, daya serap tenaga kerja akan meningkat, yang secara otomatis mendorong kepastian pendapatan masyarakat.

Penghasilan yang stabil inilah yang menjadi bahan bakar utama bagi konsumsi rumah tangga, komponen yang selama ini menyumbang lebih dari separuh Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Oleh karena itu, memantau persepsi publik terhadap kemudahan mencari kerja menjadi indikator krusial untuk memproyeksikan arah pertumbuhan ekonomi ke depan.

Survei Konsumen oleh Bank Indonesia (BI) untuk periode Mei 2026 mendapati keyakinan konsumen secara umum masih berada di zona optimis dengan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) sebesar 120,9.

Kendati, di balik kokohnya angka agregat tersebut, persepsi masyarakat terhadap ketersediaan lapangan kerja saat ini justru menunjukkan tren penyusutan yang merata. Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK) yang menjadi salah satu penyusun Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) melandai ke level 105,0 pada Mei 2026, turun dari bulan sebelumnya yang sempat bertengger di angka 108,8.

Persepsi Ketersediaan Lapangan Kerja Berdasarkan Strata Pendidikan

Pascasarjana menjadi strata pendidikan dengan penurunan indeks terbesar di bulan Mei
Pascasarjana menjadi strata pendidikan dengan penurunan indeks ketersediaan lapangan pekerjaan terbesar | GoodStats

Baca Juga: Pasar Kerja Indonesia 2026, Lulusan Melimpah, Lapangan Kerja Makin Sempit?

Optimisme terhadap ketersediaan lapangan kerja mengalami penurunan di seluruh jenjang pendidikan. Kelompok responden dengan tingkat pendidikan sarjana memang masih memegang level optimisme tertinggi dengan indeks 117,3, meskipun angka ini menyusut dari bulan sebelumnya yang sempat mencapai 118,5. Lulusan akademi/diploma juga terpantau relatif stabil walau turun tipis dari 109,5 ke level 109,2.

Penurunan indeks justri dirasakan oleh dua kutub paling ekstrem yakni lulusan SMA dan lulusan pascasarjana. Untuk kelompok pendidikan SMA, indeks anjlok dari 104,3 menjadi 100,1. Posisi lulusan SMA kini berada tepat di bibir jurang zona pesimis (batas indeks 100), mencerminkan betapa sulitnya persaingan kerja di level operasional saat ini.

Di sisi lain, lulusan pascasarjana mencatatkan penurunan paling drastis, yakni merosot dari 115,5 menjadi 101,6. Tren ini mengindikasikan ruang bagi tenaga kerja ahli berspesifikasi tinggi atau posisi manajerial atas di pasar domestik juga sedang mengalami penyempitan yang signifikan pada Mei 2026.

Persepsi Ketersediaan Lapangan Kerja Berdasarkan Tingkat Usia

Usia 41-50 menjadi kelompok dengan penurunan indeks ketersediaan lapangan kerja terbesar
Usia 41-50 menjadi kelompok dengan penurunan indeks ketersediaan lapangan kerja terbesar | GoodStats

Kelompok usia produktif muda, khususnya responden berumur 20–30 tahun, tercatat sebagai kelompok yang paling percaya diri memandang ketersediaan lapangan kerja dengan indeks sebesar 114,3, meskipun porsi ini menurun dari bulan April yang berada di angka 116,1. Tren penurunan serupa dialami kelompok usia 31–40 tahun yang melandai dari 107,6 menjadi 104,9.

Kondisi kontras yang sangat mengkhawatirkan justru terjadi pada segmen pekerja senior. Kelompok usia 41–50 tahun dan 51–60 tahun terlempar masuk ke zona pesimis. Responden usia 41–50 tahun mencatatkan penurunan indeks dari 105,4 menjadi 99,9 (di bawah ambang batas 100), sementara usia 51–60 tahun anjlok lebih dalam dari 103,9 menjadi 97,5.

Angka-angka ini menjadi refleksi nyata atas fenomena kerentanan kerja bagi para pekerja paruh baya yang menghadapi risiko terpental dari pasar kerja akibat gelombang efisiensi korporasi, restrukturisasi industri, hingga sulitnya mencari peluang kerja baru di usia senja. Sebaliknya, kelompok usia di atas 60 tahun merangkak naik tipis dari 99 ke level pas 100.

Metodologi

Data berkala ini diperoleh melalui instrumen Survei Konsumen Bank Indonesia yang rutin digelar setiap bulan sejak Oktober 1999. Dalam pelaksanaannya dari Januari 2007, jajak pendapat ini menjangkau kurang lebih 4.600 rumah tangga yang dipilih secara acak terstratifikasi (stratified random sampling) pada 18 kota utama, mulai dari kawasan Jakarta, Bandung, hingga wilayah terjauh seperti Ambon dan Manado.

Pengukuran data makroekonomi per kota tersebut mengandalkan kalkulasi rumus balance score dengan menjumlahkan net balance dasar dengan angka 100. Skor indeks di atas 100 menunjukkan kondisi optimis, sedangkan di bawah 100 mencerminkan kondisi pesimis.

Baca Juga: 10 Sektor Lapangan Usaha dengan Pekerja Terbanyak pada 2025

Sumber:

https://www.bi.go.id/id/publikasi/laporan/Documents/SK-Mei-2026.pdf

Penulis: Anggia Leksa
Editor: Editor

Konten Terkait

Harga Emas Perhiasan Hari Ini 15 Juni 2026: Emas 24 Karat Tembus Rp2,337 Juta per Gram

Harga emas perhiasan hari ini 15 Juni 2026 mengalami variasi berdasarkan kadar karat. Simak daftar harga emas 24K hingga 9K terbaru menurut data Lakuemas.

Harga Emas Hari Ini, Antam Turun, UBS dan Galeri24 Ikut Melemah

Harga emas hari ini 12 Juni 2026 di Pegadaian mengalami penurunan. Emas Antam turun ke Rp2,797 juta per gram, sementara UBS dan Galeri24 juga melemah.

Terima kasih telah membaca sampai di sini

atau

Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.

Hubungkan dengan SSO GNFI Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook