Ekonomi dan Bisnis

Hanya 15% Publik RI yang Menilai Kondisi Ekonomi Nasional Baik

Sentimen negatif terhadap kondisi ekonomi nasional melonjak drastis ke angka 49,4% pada Juli 2026.

Hanya 15% Publik RI yang Menilai Kondisi Ekonomi Nasional Baik

Ilustrasi grafik turun | Getty Images

Persepsi publik terhadap kondisi ekonomi nasional merupakan indikator penting dalam mengukur kesejahteraan riil, daya beli, serta tingkat optimisme masyarakat terhadap stabilitas pasar. Berubahnya penilaian warga terhadap perekonomian mencerminkan dinamika sosial-ekonomi yang dirasakan langsung di lapangan, mulai dari gejolak harga bahan pokok, ketersediaan lapangan kerja, hingga kepastian iklim usaha.

Evaluasi berkala mengenai gambaran umum perekonomian terkini memberikan sudut pandang krusial bagi publik maupun pemangku kebijakan dalam membaca arah tren persepsi masyarakat secara objektif.

15,7% Publik RI Menilai Kondisi Ekonomi Nasional Baik

15,7% Publik RI Menilai Kondisi Ekonomi Nasional Baik
Sebesar 15,7% Publik RI menilai kondisi ekonomi nasional dalam keadaan baik | GoodStats

Berdasarkan hasil survei bertajuk Kondisi Ekonomi Politik dan Approval Rating Presiden yang dirilis oleh Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC), kelompok responden yang menilai kondisi ekonomi nasional dalam keadaan baik atau sangat baik kini hanya 15,7%. Angka optimisme yang kian tergerus ini secara terperinci terdiri dari 14,3% responden yang menilai kondisi ekonomi baik dan hanya 1,4% yang memandangnya sangat baik.

Sementara itu, porsi terbanyak kedua diisi oleh kelompok responden yang menilai kondisi ekonomi berada di posisi sedang saja, yaitu sebesar 33,9%. Di sisi lain, bayang-bayang pesimisme justru mendominasi porsi terbesar persepsi publik, di mana hampir separuh responden yakni sebanyak 49,4% menilai keadaan ekonomi nasional saat ini berada dalam kondisi buruk hingga sangat buruk, terdiri dari 37,9% menilai buruk dan 11,5% menilai sangat buruk. Adapun sisanya sebesar 1,0% responden menyatakan tidak tahu atau tidak menjawab.

Tren Penilaian Atas Kondisi Ekonomi Nasional

Membedah tren perjalanan persepsi publik RI atas kondisi ekonomi nasional
Membedah tren perjalanan persepsi publik RI atas kondisi ekonomi nasional | GoodStats

Baca Juga: Seberapa Optimis Publik Indonesia terhadap Kondisi Ekonomi 2025?

Membedah tren perjalanan selama sembilan bulan terakhir, sentimen masyarakat menunjukkan laju penurunan yang sangat tajam. Pada survei November 2025, sentimen positif (baik/sangat baik) sempat berada di angka 40,0%, namun merosot hingga tersisa 15,7% pada Juli 2026.

Sebaliknya, dalam kurun waktu yang sama, sentimen negatif (buruk/sangat buruk) melonjak drastis lebih dari dua kali lipat, bergerak dari 22,7% pada November 2025, naik ke 31,7% pada Februari–Maret 2026, hingga menyentuh 49,4% pada Juli 2026. Lonjakan sentimen negatif ini tercatat sebagai rekor penilaian ekonomi terburuk dalam kurun waktu 7 tahun terakhir pelaksanaan survei.

Pergeseran drastis dari optimisme menuju persepsi krisis ini menjadi alarm penting bagi efektivitas kebijakan ekonomi nasional. Kemampuan pemerintah dalam menjaga stabilitas harga, mengendalikan inflasi, serta membuka ruang usaha baru akan menjadi kunci utama untuk memulihkan kepercayaan publik di masa mendatang.

Menteri Keuangan Sebut Kondisi Ekonomi Indonesia Masih Solid

Kendati demikian, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menekankan bahwa perekonomian Indonesia tetap berada di jalur positif dengan pertumbuhan mencapai 5,6%. Keyakinan ini didorong oleh performa APBN Semester I 2026 yang kian tangguh berkat melonjaknya pendapatan negara dan kesehatan fiskal yang terjaga. Ia juga mengimbau agar kondisi ekonomi nasional tidak diukur secara sepihak hanya dari fenomena penutupan atau relokasi sejumlah perusahaan.

"Jangan lihat soal exit perusahaan saja, jangan lihat satu sisi saja. Kita lihat data agregatnya 5,6%, artinya pertumbuhan ekonomi baik secara agregat. Pemerintah kasih macam-macam stimulus," ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa di Kementerian Keuangan, Selasa (21/7/2026) dikutip KOMPAS.

Metodologi

Survei SMRC ini menjangkau populasi seluruh WNI yang memiliki hak pilih (berusia 17 tahun ke atas atau sudah menikah). Dari total 749 responden yang dipilih secara acak, sebanyak 605 responden (pemilik telepon) diwawancarai via telepon menggunakan metode double sampling, sedangkan 144 responden (non-pemilik telepon) diwawancarai secara tatap muka dengan metode stratified multistage random sampling.

Dengan margin of error sebesar +/- 3,7% pada tingkat kepercayaan 95%, temuan ini menjadi potret data penting bagi pembuat kebijakan untuk melakukan kalibrasi strategi pembangunan ke depan.

Baca Juga: Nilai Transaksi Kopdes Merah Putih Tembus Rp62,1 Miliar, Produk Apa yang Paling Banyak Dibeli Masyarakat?

Sumber:

https://saifulmujani.com/kondisi-ekonomi-politik-dan-approval-rating-presiden/

Penulis: Anggia Leksa Editor: Editor

Terima kasih telah membaca sampai di sini

Lupa Sandi?