Di tengah meningkatnya tensi konflik Timur Tengah, kekhawatiran akan kenaikan harga BBM kembali mencuat. Kondisi ini tidak hanya memicu tekanan pada biaya hidup masyarakat, tetapi juga mengubah preferensi konsumen dalam memilih kendaraan.
Salah satu dampak yang mulai terlihat adalah peningkatan penjualan mobil listrik atau electric vehicle (EV). Data terbaru menunjukkan bahwa penjualan EV semakin meningkat empat tahun belakangan ini. Bahkan, pangsa pasar EV pada Januari-Februari 2026 mencapai 15% dari total penjualan mobil nasional.
Baca Juga: Data Penjualan Mobil Elektrifikasi Awal 2026: BEV, HEV, dan PHEV
Mengapa Konsumen Mulai Beralih ke Mobil Listrik?
Lonjakan minat terhadap mobil listrik tidak terjadi tanpa sebab. Ada beberapa faktor yang mendorong perubahan ini.
Pertama, ketidakpastian harga minyak dunia akibat konflik geopolitik membuat biaya operasional kendaraan berbahan bakar fosil semakin tidak stabil. Ketika harga BBM naik, konsumen mulai mencari opsi yang lebih efisien dalam jangka panjang.
Kedua, tren ini ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia. Di Amerika Serikat, minat terhadap kendaraan listrik meningkat signifikan seiring harga BBMyang juga naik. Hal serupa juga terjadi di Astralia, di mana permintaan mobil listrik dari merek Cina melonjak tajam saat harga BBM global naik.
Fenomena ini menunjukkan bahwa peralihan ke EV merupakan bagian dari respons global terhadap krisis energi yang terjadi di dunia.
Baca Juga: ASEAN Pimpin Pasar Mobil Listrik Dunia, Indonesia Masuk Top 4
Tren Penjualan EV Car di Indonesia Terus Naik
Berikut adalah data penjualan mobil listrik di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO), penjualan EV di Indonesia mengalami lonjakan signifikan sejak tahun 2022 hingga 2025.
Pada tahun 2022, EV terjual sebanyak 10.327 unit. Pada tahun 2023, penjualan naik ke angka 17.051 unit atau sekitar 65%.
Tahun 2024, penjualn mobil listrik mencapai angka 43.188. Terlihat bahwa terjadi lonjakan yang signifikan dengan presentase kenaikan sebesar 153%. Tren ini terus berlanjut di tahun berikutnya, yaitu tahun 2025, di mana penjualan EV naik 141% dari tahun sebelumnya menjadi 103.931 unit.
Lonjakan yang paling signifikan terjadi pada tahun 2023-2025. Dalam dua tahun, penjualan EV meningkat lebih dari lima kali lipat. Ini menandakan bahwa tren mobil listrik Indonesia sedang memasuki fase akselerasi.
Kenaikan ini juga diperkuat oleh data dari Periklindo (Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia) yang menyebutkan bahwa pangsa pasar kendaraan listrik mulai mendekati 15% dari total penjualan kendaraan nasional.
Dengan kondisi harga energi yang masih belum stabil, banyak analis memproyeksikan bahwa penjualan mobil listrik 2026 akan terus meningkat. Faktor eksternal seperti konflik global kini menjadi katalis percepatan adopsi EV di masyarakat.
Keunggulan Mobil Listrik Dibanding Kendaraan Konvensional
Tidak hanya karena faktor eksternal, mobil listrik juga memiliki sejumlah keunggulan yang membuatnya semakin menarik. Berikut beberapa keunggulan tersebut:
- Biaya operasional yang lebih rendah dari BBM.
- Ramah lingkungan karena tidak menghasilkan emisi gas buang.
- Perawatan yang lebih sederhana dari mobil konvensional.
- Subsidi dan kebijakan fiskal dari pemerintah yang membuat harga menjadi lebih kompetitif.
- Sensasi berkendara yang halus dan minim suara.
Sejauh Mana Kesiapan Ekosistem EV di Indonesia?
Meski tren penjualan meningkat, kesiapan ekosistem EV di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan. Dari sisi infrastruktur, ketersediaan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) masih belum merata, terutama di luar kota besar. Hal ini menjadi salah satu kekhawatiran utama konsumen, terutama terkait perjalanan jarak jauh.
Selain itu, masih ada persepsi bahwa mobil listrik belum sepenuhnya praktis untuk penggunaan harian di semua kondisi, terutama terkait daya dan waktu pengisian.
Namun, di sisi industri, pemerintah terus mendorong TKDN mobil listrik hingga minimal 60%. Langkah ini bertujuan memperkuat rantai pasok domestik, mulai dari produksi baterai hingga perakitan kendaraan.
Kolaborasi antara pemerintah, produsen, dan penyedia energi juga mulai terlihat dalam membangun ekosistem dari hulu ke hilir. Hal ini mencakup pengembangan industri baterai lokal, perluasan jaringan SPKLU, insentif investasi bagi produsen EV, serta pengeluaran regulasi yang dapat mendukung penggunaan kendaraan listrik.
Baca Juga: Jumlah Kendaraan Listrik di Indonesia Terus Naik
Momentum yang Tidak Boleh Terlewat
Melihat tren yang ada, isu kenaikan BBM akibat konflik global justru menjadi momentum strategis bagi percepatan adopsi kendaraan listrik di Indonesia. Pertumbuhan yang konsisten dan perubahan perilaku konsumen membawa pengaruh besar dalam peningkatan penjualan EV 2026.
Pertanyaan kini bukan lagi apakah mobil listrik akan menjadi mainstream, tetapi seberapa cepat Indonesia bisa beradaptasi dan memaksimalkan peluang dari transisi energi ini.
Baca Juga: 10 Mobil Listrik Terlaris di Indonesia Awal 2026
Sumber:
https://www.gaikindo.or.id/
Penulis: Aisha Zahrany
Editor: Firda Wandira