Dalam beberapa tahun terakhir, kendaraan listrik (EV) mulai dilirik banyak konsumen karena dinilai lebih hemat energi, modern, serta berkontribusi pada pengurangan polusi udara perkotaan. Tanpa knalpot dan pembakaran bahan bakar fosil langsung, mobil listrik diposisikan sebagai salah satu solusi transisi menuju transportasi ramah lingkungan.
Pada 2019 lalu, pasar mobil listrik masih terkonsentrasi di negara-negara mapan seperti Amerika Serikat (AS), kawasan Eropa, dan China. Namun, peta persaingan berubah cepat. Saat pasar Eropa dan AS mulai melambat atau stagnan, kawasan Asia Tenggara justru melesat pada 2025.
Laporan terbaru yang disusun Ember Energy menunjukkan penetrasi penjualan mobil listrik di sejumlah negara ASEAN sepanjang Januari-Oktober 2025 melampaui Inggris dan Uni Eropa. Data ini disusun berdasarkan persentase pangsa mobil listrik terhadap total penjualan mobil di masing-masing negara.
Baca Juga: BYD Puncaki Pasar Mobil Listrik Indonesia 2025
Berdasarkan temuan Ember Energy, Singapura mencatat pangsa mobil listrik tertinggi di ASEAN pada 2025 mencapai 45,45%. Angka ini jauh melampaui rata-rata Uni Eropa yang berada di kisaran 25% dan Amerika Serikat yang sekitar 17%.
Vietnam menyusul dengan pangsa EV 37,90%. Lonjakan ini didominasi pembelian Battery Electric Vehicle (BEV) produksi dalam negeri, terutama bermerek VinFast. Dukungan industri nasional dan strategi ekspor membuat Vietnam jadi salah satu pasar EV paling progresif di ASEAN.
Thailand dan Indonesia turut menunjukkan potensi sebagai pasar baru yang menjanjikan, dengan pangsa 21,27% di Thailand dan Indonesia 14,66% pada 2025. Malaysia berada di peringkat kelima dengan pangsa mobil listrik sebesar 4,93%.
Menurut pantauan Ember Energy, ekspansi ekspor mobil listrik China ke luar pasar Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) menjadi faktor adopsi EV di negara berkembang. Masuknya mobil listrik produksi China dan Vietnam dengan harga lebih kompetitif memberikan alternatif baru bagi konsumen Indonesia, yang sebelumnya lebih familiar dengan merek Jepang atau Eropa.
Pemerintah Indonesia juga aktif mendorong adopsi mobil listrik melalui kebijakan insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP). Melalui skema ini, konsumen tidak perlu membayar PPN 11% karena mendapat diskon hingga 10%.
Syaratnya, mobil listrik tersebut harus memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) atau bahan lokal dalam satu unit mobil minimal 40%. Kebijakan ini mendorong pabrik mobil listrik seperti BYD, VinFast, GWM membangun fasilitas produksi di Indonesia.
Utang Karbon di Balik Mobil Listrik
Meski mobil listrik kerap dipromosikan sebagai kendaraan nol emisi karena tak menghasilkan asap knalpot, klaim tersebut tidak sepenuhnya menggambarkan jejak karbon yang ditinggalkannya.
Studi McKinsey & Company mengungkapkan, emisi produksi baterai mobil listrik bisa 40% lebih tinggi dibandingkan produksi mobil berbahan bakar bensin. Hal ini disebabkan baterai membutuhkan bahan baku seperti nikel, kobalt, dan litium yang proses penambangannya intensif karbon.
Menurut catatan Greenpeace, meningkatnya permintaan baterai mobil listrik mendorong ekspansi tambang nikel di Morowali, Halmahera, Konawe, Konawe, Pulau Obi, bahkan mulai melirik Raja Ampat. Aktivis Greenpeace Iqbal Damanik menyebut industrialisasi nikel yang masif telah merusak hutan, tanah, sungai, hingga laut di berbagai daerah.
Agar mobil listrik menjadi solusi transisi energi hijau, perlu ada peralihan ke sumber energi listrik lebih bersih dan praktik pertambangan yang berkelanjutan. Tanpa itu, kendaraan listrik dinilai hanya memindahkan jejak karbon dari jalan raya ke lokasi tambang.
Baca Juga: Survei LPEM UI: 81% Publik Indonesia Pilih Beli Mobil Bensin Ketimbang Listrik
Sumber:
https://ember-energy.org/latest-updates/asean-emerges-as-a-new-leader-in-global-ev-adoption/
Penulis: Talita Aqila Shafidhya
Editor: Editor