Peringkat Internasional

Jepang Nomor 1! Ini Daftar Negara Paling Sopan di Dunia Menurut Remitly

Remitly menobatkan Jepang sebagai negara paling sopan di dunia. Simak daftar 10 negara teratas beserta budaya yang membuat Jepang unggul.

Jepang Nomor 1! Ini Daftar Negara Paling Sopan di Dunia Menurut Remitly

Ilustrasi Budaya Jepang | Unsplash

Kesopanan menjadi salah satu aspek yang sering membentuk kesan pertama wisatawan saat mengunjungi suatu negara. Cara masyarakat menghormati orang lain, mengantre, hingga berinteraksi di ruang publik turut memengaruhi pengalaman pelancong maupun pendatang. Tak heran jika negara paling sopan di dunia 2026 menjadi topik yang menarik perhatian. 

Perusahaan layanan remitansi internasional Remitly merilis hasil survei mengenai negara dengan masyarakat paling sopan di dunia. Survei tersebut dilakukan melalui platform Prolific dengan melibatkan 4.697 responden dari 26 negara.

Para peserta diminta menyebutkan negara yang menurut mereka memiliki masyarakat paling sopan dan paling ramah. Hasilnya kemudian diurutkan berdasarkan persentase suara yang diterima setiap negara.

Selain itu, responden juga diminta menilai tingkat kesopanan diri sendiri serta sejauh mana mereka memperlakukan orang asing dengan hormat menggunakan skala hingga 10 poin.

Hasil survei menunjukkan bahwa Jepang menempati posisi pertama dengan selisih yang cukup jauh dibandingkan negara lain. Posisi berikutnya ditempati Kanada dan Britania Raya, sementara sejumlah negara Asia dan Eropa turut menghuni daftar 10 besar. 

Baca Juga: Wisatawan Membludak, Ini 10 Kota di Dunia yang Membatasi Jumlah Turis Akibat Overtourism

10 Negara Paling Sopan di Dunia

Berdasarkan survei Remitly yang dilakukan pada Maret 2026, berikut daftar 10 negara paling sopan di dunia.

10 Negara Paling Sopan di Dunia
Daftar 10 Negara Paling Sopan di Dunia | GoodStats

Berdasarkan hasil survei terhadap 4.697 responden dari 26 negara, Jepang dinobatkan sebagai negara paling sopan di dunia dengan perolehan 35,15% suara. Jepang unggul berkat budaya sopan santun yang telah mengakar dalam kehidupan sehari-hari.

Masyarakat Jepang dikenal menjunjung tinggi rasa hormat melalui tradisi ojigi (membungkuk), konsep pelayanan tulus omotenashi , budaya mengantre, serta kebiasaan menjaga kebersihan dan ketenangan di ruang publik. Kombinasi nilai-nilai tersebut menjadikan Jepang memperoleh lebih dari sepertiga total suara responden. 

Kanada menempati peringkat kedua dengan 13,35% suara. Negara ini telah lama dikenal sebagai salah satu negara dengan masyarakat yang ramah dan santun. Kebiasaan mengucapkan "please", "thank you", dan "sorry" dalam interaksi sehari-hari menjadi bagian dari budaya yang melekat, sehingga Kanada juga sering mendapat reputasi sebagai destinasi yang nyaman bagi wisatawan maupun pendatang. 

Di peringkat ketiga, Britania Raya meraih 6,23% suara. Masyarakat Inggris dikenal menjunjung tinggi etika dalam berinteraksi sehari-hari. Budaya mengantre dengan tertib, menghormati ruang pribadi, serta menjaga sopan santun dalam percakapan menjadi ciri khas yang sering dirasakan wisatawan. 

Selain itu, orang Inggris juga memiliki kebiasaan yang mirip dengan masyarakat Kanada yang tercermin dalam penggunaan bahasa, yakni sering mengucapkan "sorry", "please", dan "thank you" dalam berbagai situasi. Penggunaan ungkapan-ungkapan tersebut bukan hanya sebagai bentuk kesopanan, tetapi juga telah menjadi bagian dari budaya komunikasi sehari-hari yang mencerminkan rasa hormat kepada orang lain. 

Selanjutnya, China berada di peringkat keempat dengan 3,07% suara. Posisi ini menunjukkan bahwa masyarakat internasional juga menilai budaya menghormati orang tua, menjaga kesopanan, dan menjunjung harmoni sosial yang dipengaruhi ajaran Konfusianisme masih kuat dalam kehidupan masyarakat China. 

Jerman menyusul di peringkat kelima dengan 2,80% suara. Berbeda dengan negara-negara lain yang identik dengan keramahan, citra kesopanan masyarakat Jerman lebih tercermin melalui kedisiplinan, ketepatan waktu, kepatuhan terhadap aturan, dan penghormatan terhadap ruang publik. 

Di peringkat keenam, Filipina memperoleh 2,30% suara sekaligus menjadi satu-satunya wakil Asia Tenggara dalam 10 besar. Negara ini dikenal memiliki masyarakat yang hangat dan mudah membantu wisatawan. Tingginya kemampuan berbahasa Inggris juga membuat interaksi dengan wisatawan internasional berlangsung lebih nyaman. 

Swedia berada di peringkat ketujuh dengan 2,26% suara. Kesopanan masyarakat Swedia tercermin dari budaya menghargai privasi, bersikap tenang, dan memperlakukan setiap orang secara setara. Nilai-nilai tersebut menjadi bagian penting dari kehidupan sosial di negara Nordik tersebut.

Sementara itu, Denmark menduduki peringkat kedelapan dengan 2,07% suara. Selain dikenal sebagai salah satu negara paling bahagia di dunia, Denmark juga memiliki budaya saling percaya, menghargai sesama, dan mengutamakan kesetaraan, sehingga menciptakan lingkungan sosial yang ramah dan santun.

Finlandia menempati peringkat kesembilan dengan 1,92% suara. Meski masyarakatnya cenderung pendiam, mereka dikenal sangat menghormati privasi orang lain, tidak suka mengganggu ketenangan publik, serta memiliki tingkat kepercayaan sosial yang tinggi. Bentuk kesopanan tersebut lebih banyak ditunjukkan melalui tindakan dibandingkan ucapan. 

Mengapa Jepang Dinobatkan sebagai Negara Paling Sopan di Dunia? 

Keberhasilan Jepang menduduki posisi pertama tidak terlepas dari budaya yang telah mengakar selama ratusan tahun. Kesopanan bukan hanya menjadi norma sosial, tetapi juga bagian dari pendidikan dan kehidupan sehari-hari masyarakat Jepang. 

Berikut beberapa faktor yang membuat Jepang dikenal sebagai negara dengan etika terbaik

1. Budaya Omotenashi atau Melayani dengan Tulus

Salah satu nilai budaya Jepang yang paling terkenal adalah omotenashi, yakni konsep memberikan pelayanan terbaik tanpa mengharapkan imbalan. Nilai ini dapat ditemui di hotel, restoran, transportasi umum, hingga pusat perbelanjaan.

Pelayanan yang ramah, penuh perhatian, dan mengutamakan kenyamanan orang lain membuat wisatawan merasa dihargai selama berada di Jepang.

2. Membungkuk (Ojigi) Sebagai Bentuk Penghormatan

Masyarakat Jepang terbiasa melakukan ojigi, yaitu membungkukkan badan sebagai bentuk penghormatan kepada orang lain. Tradisi ini menjadi bagian penting dari tata krama Jepang dan dilakukan dalam berbagai situasi, mulai dari saat menyapa, mengucapkan terima kasih, meminta maaf, hingga menyambut tamu. 

Selain itu, ojigi juga digunakan untuk menunjukkan rasa hormat kepada orang yang lebih tua atau memiliki kedudukan tertentu. Menariknya, tingkat penghormatan yang ingin disampaikan dapat terlihat dari kedalaman membungkuk. Semakin dalam seseorang membungkukkan badan, semakin besar pula rasa hormat, penghargaan, atau penyesalan yang ingin ditunjukkan.

3. Disiplin dalam Mengantre

Budaya antre merupakan salah satu ciri khas masyarakat Jepang yang sering mendapat pujian wisatawan.

Di stasiun kereta, halte bus, minimarket, maupun tempat wisata, masyarakat Jepang terbiasa menunggu giliran dengan tertib tanpa saling menyerobot. Bahkan ketika menghadapi situasi darurat sekalipun, budaya mengantre tetap terlihat.

Kebiasaan ini mencerminkan tingginya rasa saling menghormati terhadap hak orang lain.

4. Menjaga Ketenangan di Ruang Publik

Masyarakat Jepang dikenal sangat menghargai kenyamanan dan ketenangan orang lain saat berada di ruang publik. Oleh karena itu, mereka terbiasa menjaga volume suara agar tidak mengganggu penumpang lain ketika berada di kereta atau transportasi umum. Penggunaan telepon genggam pun dilakukan dengan penuh perhatian, misalnya dengan mengaktifkan mode senyap dan menghindari menerima panggilan suara di dalam kereta. 

Selain itu, masyarakat Jepang berusaha tidak melakukan tindakan yang dapat mengganggu orang di sekitarnya serta selalu mematuhi aturan yang berlaku di tempat umum. Kebiasaan-kebiasaan tersebut mencerminkan tingginya rasa saling menghormati dan berkontribusi menciptakan lingkungan publik yang tertib, nyaman, dan kondusif bagi semua orang..

5. Menjaga Kebersihan Lingkungan

Kesopanan di Jepang juga tercermin dari kepedulian terhadap kebersihan. Banyak warga membawa pulang sampah mereka sendiri apabila tidak menemukan tempat sampah. Selain itu, siswa di sekolah terbiasa membersihkan ruang kelas bersama-sama sebagai bagian dari pendidikan karakter.

Budaya tersebut membuat banyak kota di Jepang dikenal bersih meskipun jumlah tempat sampah di ruang publik relatif sedikit

6. Pendidikan Karakter Sejak Usia Dini

Salah satu faktor yang membuat masyarakat Jepang dikenal santun adalah pendidikan karakter yang ditanamkan sejak usia dini. Di sekolah, siswa tidak hanya dibekali pengetahuan akademik, tetapi juga diajarkan nilai-nilai moral dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari. 

Anak-anak dibiasakan untuk bekerja sama dengan teman, menghormati guru maupun sesama siswa, menjaga kebersihan lingkungan sekolah, serta menghargai waktu dengan datang tepat waktu dan mematuhi aturan yang berlaku. 

Bahkan, di banyak sekolah, siswa bertanggung jawab membersihkan ruang kelas, lorong, hingga area sekolah secara mandiri sebagai bagian dari pembelajaran. Melalui kebiasaan tersebut, nilai disiplin, rasa hormat, dan kepedulian terhadap orang lain tertanam sejak kecil, sehingga membentuk budaya sopan santun yang terus terbawa hingga mereka dewasa.

Kesopanan Menjadi Identitas Budaya Jepang

Hasil survei Remitly menunjukkan bahwa persepsi masyarakat dunia terhadap kesopanan tidak hanya dipengaruhi oleh keramahan, tetapi juga oleh budaya menghormati orang lain, disiplin, dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

Dengan raihan 35,15% suara, Jepang berhasil menempati posisi pertama sebagai negara paling sopan di dunia. Nilai-nilai seperti omotenashi, budaya ojigi, disiplin dalam mengantre, menjaga ketenangan di ruang publik, serta pendidikan karakter menjadi fondasi kuat yang membentuk citra positif masyarakat Jepang di mata dunia.

Sementara itu, Kanada dan Britania Raya melengkapi tiga besar, disusul China, Jerman, Filipina, Swedia, Denmark, Finlandia, dan Afrika Selatan. Daftar ini menunjukkan bahwa kesopanan merupakan nilai universal yang dapat diwujudkan melalui kebiasaan sehari-hari dan budaya yang diwariskan secara konsisten dari generasi ke generasi.

Baca Juga: Bebas Visa 42 Negara, Ini Skor Mobilitas Paspor Indonesia 2026

Sumber: 

https://www.remitly.com/jp/en/landing/worlds-politest-countries

Penulis: Helni Sadiyah Editor: Firda Wandira

Terima kasih telah membaca sampai di sini

Lupa Sandi?