Fenomena pembatasan jumlah kunjungan turis semakin banyak terjadi seiring meningkatnya mobilitas wisatawan internasional dan popularitas berbagai destinasi wisata dunia. Kota-kota yang terkenal dengan keindahan alam, kekayaan budaya, hingga warisan sejarah kini menghadapi lonjakan kunjungan yang melampaui kapasitasnya. Kondisi ini dikenal sebagai overtourism, yaitu ketika jumlah wisatawan yang datang melebihi daya dukung suatu destinasi sehingga menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan, infrastruktur, maupun kehidupan masyarakat setempat.
Akibatnya, berbagai kota wisata di Eropa maupun belahan dunia lain mulai menerapkan pembatasan wisatawan, mulai dari kuota pengunjung, pajak turis, pembatasan kapal pesiar, hingga pelarangan penyewaan akomodasi jangka pendek. Langkah ini dilakukan demi menjaga kualitas hidup warga lokal, melindungi lingkungan, serta mempertahankan daya tarik destinasi wisata dalam jangka panjang.
Lantas, kota mana saja yang telah menerapkan kebijakan tersebut? Berikut daftar kota di dunia yang membatasi jumlah kunjungan turis beserta aturan yang diberlakukan untuk mengatasi fenomena overtourism.
Baca Juga: 10 Kota Pilihan untuk Berwisata 2026, Bali Kokoh di Puncak
10 Kota di Dunia yang Membatasi Jumlah Kunjungan Turis
1. Barcelona, Spanyol
Barcelona menjadi salah satu contoh kota dengan overtourism paling nyata di dunia. Kota ini menerima jutaan wisatawan setiap tahun, sementara warga lokal menghadapi lonjakan harga sewa rumah, kemacetan, hingga berkurangnya ruang publik.
Pemerintah setempat berencana menghapus seluruh izin apartemen wisata pada 2028. Selain itu, aktivitas kapal pesiar juga dibatasi agar jumlah wisatawan tidak membludak dalam waktu bersamaan.
2. Venesia, Italia
Venesia telah lama menghadapi masalah overcrowded tourism. Kota kanal ini bahkan menjadi kota pertama di dunia yang menerapkan pajak turis bagi wisatawan harian pada tanggal-tanggal tertentu.
Selain itu, kapal pesiar berukuran besar tidak lagi diperbolehkan melintas di pusat kota karena dinilai merusak ekosistem laguna dan mengganggu bangunan bersejarah.
3. Amsterdam, Belanda
Amsterdam mulai mengurangi ketergantungan terhadap wisata massal. Pemerintah kota melarang pembangunan hotel baru di sebagian besar wilayah serta membatasi jumlah kapal pesiar yang berlabuh.
Di sisi lain, promosi wisata yang sebelumnya menyasar wisatawan internasional kini lebih diarahkan pada konsep wisata berkelanjutan.
4. Santorini, Yunani
Pulau Santorini menjadi destinasi favorit kapal pesiar di Laut Aegea. Namun, jumlah wisatawan yang datang dalam satu hari sering kali melebihi kapasitas pulau.
Oleh karena itu, pemerintah Yunani menerapkan kuota wisatawan kapal pesiar setiap hari untuk mengurangi kepadatan dan menjaga kenyamanan pengunjung maupun penduduk lokal.
5. Dubrovnik, Kroasia
Popularitas Dubrovnik meningkat tajam setelah menjadi lokasi syuting serial Game of Thrones. Lonjakan wisatawan membuat kawasan Kota Tua yang berstatus Warisan Dunia UNESCO menjadi sangat padat.
Pemerintah kemudian membatasi jumlah kapal pesiar yang dapat bersandar setiap hari dan mengatur jumlah wisatawan yang memasuki kawasan bersejarah tersebut.
6. Kyoto, Jepang
Kyoto menghadapi masalah wisatawan yang memadati kawasan Gion, terutama saat musim bunga sakura dan musim gugur.
Untuk melindungi privasi warga, beberapa gang privat ditutup bagi wisatawan. Selain itu, pemerintah kota menaikkan pajak penginapan guna mendukung pengelolaan pariwisata yang lebih berkelanjutan.
7. Hallstatt, Austria
Desa Hallstatt yang terkenal karena pemandangan danaunya menerima ribuan wisatawan setiap hari meski jumlah penduduknya hanya sekitar 700 orang.
Pemerintah setempat akhirnya menerapkan sistem reservasi bagi bus wisata dan membatasi jumlah kendaraan wisata yang boleh memasuki kawasan tersebut setiap harinya.
8. Ibiza, Spanyol
Ibiza dikenal sebagai destinasi pesta kelas dunia. Saat musim panas, jumlah kendaraan wisatawan meningkat tajam hingga menyebabkan kemacetan.
Sebagai solusi, pemerintah Kepulauan Balearic membatasi jumlah mobil dan karavan wisatawan yang boleh masuk ke pulau selama musim liburan.
9. Machu Picchu, Peru
Sebagai salah satu situs arkeologi paling terkenal di dunia, Machu Picchu menghadapi ancaman kerusakan akibat tingginya jumlah wisatawan.
Pemerintah Peru menerapkan kuota harian, jalur kunjungan tertentu, serta pembagian jam masuk agar kawasan warisan dunia tersebut tetap terjaga.
10. Pulau Komodo, Indonesia
Pulau Komodo juga mulai menerapkan kebijakan pariwisata berkelanjutan. Pemerintah membatasi jumlah pengunjung melalui sistem reservasi dan kuota kunjungan di beberapa kawasan konservasi.
Langkah ini dilakukan untuk menjaga habitat komodo sekaligus melindungi ekosistem Taman Nasional Komodo dari tekanan aktivitas wisata yang berlebihan.
Baca Juga: Negara Tujuan Favorit Turis Indonesia
Mengapa Semakin Banyak Kota di Dunia Membatasi Jumlah Wisatawan?
Fenomena overtourism tidak lagi hanya menjadi persoalan kota-kota wisata di Eropa, tetapi juga meluas ke berbagai destinasi populer di dunia. Menurut UN Tourism (UNWTO), overtourism terjadi ketika dampak pariwisata dirasakan secara berlebihan oleh masyarakat lokal maupun lingkungan, sehingga menurunkan kualitas hidup penduduk dan pengalaman wisatawan.
Seiring meningkatnya jumlah perjalanan internasional, semakin banyak pemerintah daerah menerapkan kebijakan pembatasan wisatawan sebagai bagian dari upaya mewujudkan pariwisata berkelanjutan.
Beberapa alasan utama di balik kebijakan tersebut antara lain:
- Melindungi lingkungan dari kerusakan akibat tingginya aktivitas wisata, termasuk kawasan pantai, pegunungan, taman nasional, hingga situs warisan dunia UNESCO.
- Menjaga kualitas hidup warga lokal, terutama dengan mengurangi kemacetan, kebisingan, kepadatan ruang publik, serta tekanan terhadap layanan publik.
- Mengurangi tekanan terhadap perumahan, karena maraknya penyewaan akomodasi jangka pendek yang dapat mendorong kenaikan harga properti dan mengurangi ketersediaan hunian bagi penduduk.
- Mengendalikan kepadatan wisatawan, sehingga pengalaman berwisata menjadi lebih nyaman sekaligus mengurangi antrean panjang di destinasi populer.
- Melindungi bangunan bersejarah dan situs budaya yang rentan mengalami kerusakan akibat tingginya jumlah pengunjung setiap hari.
- Mendukung pariwisata berkelanjutan, yaitu menjaga keseimbangan antara manfaat ekonomi dari sektor pariwisata dengan pelestarian lingkungan, budaya, dan kesejahteraan masyarakat setempat.
- Mengurangi emisi dan polusi, misalnya melalui pembatasan kapal pesiar, kendaraan wisata, atau lalu lintas di kawasan pusat kota.
- Menjaga daya dukung destinasi (carrying capacity) agar jumlah wisatawan tidak melampaui kemampuan suatu kawasan dalam menyediakan infrastruktur, sumber daya, dan layanan publik secara berkelanjutan.
- Menyebarkan arus wisatawan ke destinasi alternatif atau di luar musim liburan (off-season) agar kunjungan tidak hanya terpusat di lokasi dan waktu tertentu.
- Menjamin keberlanjutan ekonomi pariwisata dalam jangka panjang, sehingga destinasi tetap menarik untuk dikunjungi tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan dan kehidupan masyarakat lokal.
UN Tourism dalam laporan Overtourism? Understanding and Managing Urban Tourism Growth beyond Perceptions menekankan bahwa pengelolaan jumlah wisatawan bukan bertujuan mengurangi aktivitas pariwisata, melainkan memastikan pertumbuhan sektor tersebut tetap berada dalam batas yang dapat diterima oleh lingkungan dan masyarakat.
Senada dengan itu, UNESCO juga mendorong penerapan pengelolaan destinasi yang bertanggung jawab agar situs warisan budaya dan alam tetap terjaga untuk generasi mendatang.