Nasional

Jangan Sampai Keliru! Ini Perbedaan El Nino dan La Nina yang Berdampak ke Cuaca Indonesia

Masih bingung membedakan El Nino dan La Nina? Simak perbedaan El Nino dan La Nina mulai dari penyebab, ciri-ciri, hingga dampaknya di sini.

Jangan Sampai Keliru! Ini Perbedaan El Nino dan La Nina yang Berdampak ke Cuaca Indonesia

Ilustrasi Cuaca Hujan | Clarence Gaspar/Pexels

Isu perubahan iklim dan perubahan cuaca ekstrem di Indonesia kerap dikaitkan dengan dua istilah iklim global yakni El Nino dan La Nina. Menurut BMKG, kedua fenomena ini memiliki pengaruh yang sangat bertolak belakang terhadap dinamika curah hujan dan iklim di kawasan Nusantara. Artikel ini akan mengulas secara lengkap apa saja perbedaan El Nino dan La Nina. Simak selengkapnya di bawah ini.

Apa itu Fenomena El Nino dan La Nina?

Fenomena El Nino adalah kondisi anomali iklim ketika suhu permukaan laut di bagian tengah dan timur Samudra Pasifik mengalami peningkatan atau pemanasan di atas rata-rata normalnya. Pemanasan ini melemahkan angin pasat yang bertiup ke arah barat, sehingga akumulasi awan hujan bergeser ke Pasifik timur dan menyebabkan Indonesia mengalami pemutihan awan hujan serta kekeringan.

Sebaliknya, fenomena La Nina adalah kondisi ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tengah dan timur mengalami pendinginan di bawah rata-rata normal. Penguatan angin pasat mendorong massa air hangat ke wilayah Pasifik barat (termasuk Indonesia), sehingga memicu pembentukan awan hujan yang masif di wilayah Nusantara.

Ciri-Ciri El Nino dan La Nina

Ciri-Ciri El Nino

  • Suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tengah dan timur meningkat melebihi kondisi normal.
  • Hembusan angin pasat timuran melemah secara signifikan.
  • Pembentukan awan hujan bergerak menjauhi wilayah Indonesia menuju Pasifik tengah/timur.
  • Curah hujan di Indonesia menurun drastis di bawah rata-rata klimatologisnya.

Ciri-Ciri La Nina

  • Suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tengah dan timur mendingin di bawah rata-rata normal.
  • Hembusan angin pasat timuran menguat.
  • Akumulasi massa air hangat dan awan hujan terkonsentrasi di wilayah Indonesia.
  • Curah hujan di Indonesia meningkat tajam melampaui kondisi normal.

Baca Juga: BMKG Rilis 10 Kota Terpanas Maret 2026, Apakah Kotamu Termasuk?

Perbedaan El Nino dan La Nina

Berikut adalah perbandingan utama antara El Nino dan La Nina dari berbagai aspek:

Perbedaan Fenomena El Nino dan La Nina | Goodstats
Perbedaan Fenomena El Nino dan La Nina | Goodstats

Dampak El Nino dan La Nina

Dampak El Nino

  • Kekeringan dan Krisis Air Bersih: Menurunnya curah hujan memicu kekeringan meteorologis yang membuat sungai dan waduk surut, memicu kelangkaan air bersih.
  • Penurunan Produksi Pertanian: Sektor pertanian mengalami kendala irigasi yang meningkatkan risiko gagal panen (puso) pada tanaman pangan.
  • Peningkatan Suhu Udara: Cuaca menjadi jauh lebih terik dan panas. Fenomena suhu tinggi ini kerap dikaitkan dengan kota yang memiliki suhu terpanas dan hal ini berbahaya bagi manusia
  • Kebakaran Hutan dan Lahan: Lahan yang mengering menjadi sangat rentan memicu kebakaran hutan (karhutla) dan kabut asap.

Dampak La Nina

  • Bencana Hidrometeorologi: Curah hujan yang melimpah meningkatkan risiko banjir, banjir bandang, dan tanah longsor di berbagai daerah.
  • Kerusakan Infrastruktur dan Pemukiman: Tingginya intensitas hujan dapat merusak fasilitas umum, jalan raya, dan kawasan pemukiman warga.
  • Penurunan Suhu Udara: Tingginya tutupan awan hujan membuat suhu udara terasa lebih sejuk atau dingin, yang pada skala lokal sering memicu fenomena bediding seperti yang terjadi di dieng Jawa Tengah dan kawasan Bromo di Jawa Timur.
  • Gangguan Sektor Kelautan: Cuaca buruk dan gelombang tinggi di laut menyulitkan nelayan untuk melaut serta berisiko merusak tambak budidaya pesisir.

Memahami perbedaan El Nino dan La Nina sangat krusial bagi masyarakat Indonesia mengingat dampaknya yang langsung memengaruhi sektor harian mulai dari pertanian, ketersediaan air, hingga kesiapsiagaan bencana.

Dengan mengenali pola iklim dan prakiraan cuaca dari BMKG lebih awal, langkah mitigasi yang tepat dapat diambil untuk meminimalkan risiko cuaca ekstrem, baik di musim kemarau yang kering maupun musim hujan yang basah.

Baca Juga: Gelombang Panas Ekstrem Eropa Tembus Lebih Dari 40°C, Mengapa Bisa Terjadi?

Sumber:

https://cews.bmkg.go.id/enso-tentang.php

Penulis: Fadhlan Firdaus Syafrudin Editor: Editor

Terima kasih telah membaca sampai di sini

Lupa Sandi?