Pasar merek EV car terlaris Juni 2026 kembali memperlihatkan persaingan sengit di China. Melansir dari carnewschina.com, sejumlah produsen kendaraan energi baru (New Energy Vehicle/NEV) mencatat lonjakan pengiriman yang signifikan, bahkan beberapa di antaranya berhasil membukukan rekor penjualan tertinggi sepanjang sejarah perusahaan.
Hasil ini semakin menegaskan posisi China sebagai pusat industri kendaraan listrik dunia yang terus berkembang pesat. Persaingan kali ini menghadirkan kejutan. Leapmotor berhasil mengambil alih posisi puncak setelah membukukan penjualan tertinggi sepanjang sejarahnya.
Di sisi lain, Harmony Intelligent Mobility Alliance (HIMA) yang didukung Huawei kembali menunjukkan daya saing kuat, sementara Nio, Xpeng, hingga Zeekr tetap mempertahankan performa positif di tengah meningkatnya permintaan kendaraan listrik.
Baca Juga: Perkembangan Penjualan Kendaraan Listrik Indonesia 2019-2026
10 Brand EV Car Terlaris pada Juni 2026
Leapmotor tampil sebagai pemimpin pasar dengan mengirimkan 93.376 unit kendaraan sepanjang Juni 2026. Angka tersebut melonjak sekitar 95 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan menjadi rekor tertinggi perusahaan.
Secara kumulatif, penjualan Leapmotor pada Januari hingga Juni 2026 telah mencapai 356.487 unit, membuat target satu juta unit sepanjang tahun semakin realistis untuk dikejar.
Posisi kedua ditempati HIMA dengan penjualan 50.624 unit. Aliansi otomotif yang didukung Huawei ini mencatat kenaikan sekitar 9,7 persen dibanding bulan sebelumnya, memperlihatkan konsistensi pertumbuhan di tengah persaingan yang semakin ketat.
Sementara itu, Nio berada di posisi ketiga dengan 40.597 unit. Angka tersebut merupakan gabungan penjualan dari tiga merek di bawah perusahaan, yakni Nio, Onvo, dan Firefly. Hingga pertengahan 2026, total pengiriman perusahaan telah mencapai 191.123 unit kendaraan.
Xpeng membayangi sangat dekat dengan penjualan 40.126 unit. Selisih yang tipis menunjukkan persaingan antarprodusen premium China semakin kompetitif. Di posisi kelima, Zeekr membukukan 35.169 unit, didorong oleh tingginya permintaan terhadap SUV plug-in hybrid terbarunya, Zeekr 9X.
Di papan tengah, GAC Hyptec & Aion serta Deepal hanya terpaut puluhan unit, masing-masing membukukan 33.682 dan 33.625 kendaraan. Li Auto menempati posisi kedelapan dengan 30.895 unit.
Meski mengalami penurunan penjualan secara tahunan, crossover listrik murni Li Auto i6 justru berhasil mencatat lebih dari 15.000 unit penjualan dan menjadi sinyal bergesernya minat konsumen menuju kendaraan listrik murni.
ArcFox mencetak salah satu pertumbuhan paling impresif dengan penjualan 25.646 unit atau melonjak lebih dari 219 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara eπ (Yipai) melengkapi daftar 10 besar dengan penjualan 23.321 unit.
Di luar daftar tersebut, Xiaomi Auto juga mencuri perhatian setelah mengumumkan pengiriman kendaraan yang telah menembus lebih dari 30.000 unit selama Juni 2026.
Selain itu, Voyah mencatat penjualan 14.223 unit, sedangkan Rox Motor hampir menggandakan penjualannya dibandingkan tahun lalu.
Baca Juga: Mobil Listrik Makin Laris di 2026, Benarkah Efek Isu BBM dan Konflik Global?
Mengapa Mobil Listrik China Bisa Mendominasi Pasar Global dan Domestik?
Keberhasilan produsen mobil listrik China bukan hanya ditentukan oleh tingginya permintaan domestik. Ada sejumlah faktor yang membuat mereka mampu memproduksi kendaraan dengan harga kompetitif sekaligus memperluas pangsa pasar ke berbagai negara.
- Menguasai rantai pasokan baterai. Produsen seperti CATL dan BYD memiliki kendali kuat terhadap pasokan baterai lithium-ion, termasuk akses bahan baku seperti lithium, nikel, dan kobalt. Skala produksi yang besar juga membuat biaya per unit menjadi jauh lebih rendah.
- Inovasi teknologi baterai. Penggunaan baterai Lithium Iron Phosphate (LFP) yang lebih ekonomis dan tahan lama berhasil memangkas biaya produksi tanpa mengorbankan performa. Teknologi Blade Battery milik BYD menjadi salah satu contoh inovasi yang banyak diadopsi.
- Dukungan pemerintah yang berkelanjutan. Pemerintah China selama bertahun-tahun memberikan insentif bagi industri kendaraan energi baru melalui kebijakan fiskal, pendanaan riset, hingga pembangunan infrastruktur pengisian daya dan battery swap.
- Integrasi vertikal dalam proses produksi. Banyak produsen mengembangkan sendiri komponen penting seperti baterai, motor listrik, chip, hingga sistem elektronik. Strategi ini mengurangi ketergantungan pada pemasok eksternal sekaligus menekan biaya produksi.
- Platform kendaraan modular. Satu platform dapat digunakan untuk berbagai model kendaraan sehingga biaya penelitian dan pengembangan dapat dibagi ke lebih banyak produk, menghasilkan harga jual yang lebih kompetitif.
Berbagai faktor tersebut saling melengkapi dan menjadi fondasi kuat bagi industri kendaraan listrik China. Tidak hanya mendominasi pasar domestik, produsen China juga semakin agresif memperluas ekspor ke Asia Tenggara, Eropa, hingga Amerika Latin.
Data Juni 2026 memperlihatkan bahwa peta persaingan industri kendaraan listrik China terus berubah dari bulan ke bulan. Leapmotor berhasil memanfaatkan momentum untuk memimpin pasar, sementara HIMA, Nio, Xpeng, dan Zeekr terus menunjukkan performa yang kompetitif.
Di sisi lain, munculnya pemain-pemain baru dengan pertumbuhan tinggi seperti ArcFox maupun Xiaomi Auto memperlihatkan bahwa pasar EV China masih memiliki ruang persaingan yang sangat dinamis.
Dengan dukungan inovasi teknologi, kapasitas produksi besar, dan ekosistem industri yang matang, dominasi produsen mobil listrik China diperkirakan masih akan berlanjut dalam beberapa tahun ke depan.
Baca Juga: Jangan Salah Pilih Mobil Listrik! Pahami Perbedaan BEV, HEV, PHEV, dan FCEV
Sumber:
carnewschina.com