Di tengah dorongan global menuju transisi energi dan pengurangan emisi karbon, batu bara masih memegang peran sentral dalam struktur ekspor Indonesia. Komoditas ini tidak hanya menjadi penopang penerimaan negara, tetapi juga penyeimbang neraca perdagangan di tengah volatilitas ekonomi global.
Pada 2025, dari total produksi batu bara Indonesia yang mencapai 790 juta ton, sekitar 65% atau 514 juta ton dialirkan untuk ekspor. Hal ini menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu eksportir batu bara terbesar di dunia. Volume ekspor yang tetap tinggi ini mencerminkan kuatnya permintaan dari negara-negara mitra dagang, khususnya di Asia, yang masih bergantung pada batu bara untuk menjaga ketahanan energi dan stabilitas pasokan listrik.
Baca Juga: Batu Bara Masih Dominasi Bauran Energi Listrik Indonesia 2025-2034
Sementara itu, 32% atau sekitar 254 juta ton dimanfaatkan untuk konsumsi dalam negeri, sedangkan 3% sisanya atau sekitar 22 juta ton untuk stok cadangan.
Tahun 2026 ini, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menurunkan target produksi batu bara menjadi 600 juta ton, jauh lebih rendah dibanding realisasi produksi untuk tahun 2025. Penurunan target ini bertujuan untuk menjaga harga komoditas agar tetap stabil dan tidak habis semua saat ini.
Produksi Terus Naik
Adapun menurut BP Statistical Review of World Energy, produksi batu bara Indonesia memang konsisten terus meningkat dalam lima tahun terakhir.
Pada 2020, produksi batu bara tercatat sebesar 563,73 juta ton, yang kemudian naik menjadi 613,99 juta ton pada tahun berikutnya. Memasuki 2022, produksi batu bara Indonesia mencapai 687,43 juta ton, dan naik menjadi 775,18 juta ton pada 2023. Tahun 2024 menandakan rekor baru, dengan produksi mencapai 836,13 juta ton.
Batu Bara Masih Dominasi Bauran Listrik
Meski upaya untuk transisi energi terus disuarakan, sebagian besar bauran listrik Indonesia masih bergantung pada batu bara. Ketersediaannya yang melimpah dan harganya yang murah membuat ketergantungan pada bahan bakar fosil ini tidak bisa dihindari.
Menurut laporan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) yang dipublikasikan Kementerian ESDM pada Juni 2025 lalu, Indonesia saat ini sedang melaksanakan skenario Accelerated Renewable Energy Development (ARED), yakni salah satu strategi penurunan emisi dan mempercepat transisi energi. ARED berisikan target pengurangan energi fosil dan penambahan energi baru dan terbarukan (EBT) yang lebih progresif dibandingkan skenario normal. Meski begitu, batu bara tetap mendominasi.
Menggunakan skenario tersebut, sumber energi batu bara mendominasi dengan porsi mencapai 64,2% pada 2025, jauh lebih tinggi ketimbang EBT di angka 15,9%. Adapun EBT yang dimasukkan di sini berasal dari air, panas bumi, biomassa, sampah, surya, bayu, nuklir, dan sumber lain. Sumber energi primer lain yang turut dipertimbangkan antara lain adalah gas (15,7%), BBM (3,9%), dan impor (0,4%).
Baca Juga: Top 10 Negara Tujuan Ekspor Batu Bara RI 2025
Sumber:
https://www.youtube.com/watch?v=Q2JLz5oMeA8
Penulis: Agnes Z. Yonatan
Editor: Editor