Perencanaan menjadi bagian penting ketika seseorang memutuskan untuk berlibur. Umumnya, rencana perjalanan tidak hanya berisi daftar destinasi yang ingin dikunjungi, tetapi juga mencakup berbagai hal krusial seperti pilihan akomodasi hingga estimasi anggaran. Dengan perencanaan yang matang, liburan dapat berjalan lancar tanpa mengganggu kondisi keuangan.
Pengeluaran untuk liburan pun tidak hanya terjadi saat tiba di destinasi. Sejak sebelum keberangkatan, berbagai biaya mulai muncul, seperti transportasi, asuransi perjalanan, pemesanan hotel, hingga tiket untuk menikmati pengalaman tertentu. Di luar itu, terdapat pula pengeluaran tambahan selama perjalanan, seperti kuliner, belanja, dan aktivitas wisata lainnya. Besarnya anggaran yang disiapkan tentu berbeda-beda, bergantung pada tujuan dan gaya traveling masing-masing individu. Menariknya, perbedaan pola pengeluaran ini juga dipengaruhi oleh faktor generasi.
Hal tersebut terlihat dalam laporan Study 2026: Perilaku Traveling Lintas Generasi oleh Jenius, yang melibatkan 300 responden dari berbagai latar belakang profesi selama periode November 2025 hingga Januari 2026. Studi ini menemukan bahwa setiap generasi memiliki karakteristik tersendiri dalam mengelola pengeluaran saat berlibur.
Meski demikian, terdapat satu kesamaan yang menonjol di antara berbagai generasi, yaitu dalam hal waktu persiapan anggaran. Lebih dari separuh responden diketahui sudah menyiapkan budget liburan sejak tiga bulan sebelum keberangkatan. Temuan ini menunjukkan bahwa aktivitas berlibur kini tidak lagi bersifat spontan, melainkan telah menjadi bagian dari perencanaan keuangan yang lebih terstruktur, baik dalam skala bulanan maupun tahunan.
Gaya Pengeluaran Saat Liburan
Baca Juga: Simak Daftar Oleh-Oleh yang Biasa Dibeli Warga Indonesia Ketika Berlibur
Dari sisi gaya pengeluaran, Gen X mendominasi kategori smart planner dengan persentase 51%, diikuti oleh Gen Y sebesar 46%, sementara Gen Z berada di posisi terakhir dengan 35%. Dominasi Gen X dalam kategori ini mengindikasikan kecenderungan mereka untuk lebih cermat dalam mengelola pengeluaran, seperti membandingkan harga, berburu promo, dan memastikan biaya tetap efisien selama liburan.
Sebaliknya, gaya experience spender justru paling banyak ditemui pada Gen Z. Kelompok ini rela untuk mengalokasikan dana lebih demi mendapatkan pengalaman unik, seperti mengikuti workshop lokal, menghadiri konser, mencicipi kuliner khas, hingga mencoba aktivitas yang bersifat “once in a lifetime”. Sementara itu, Gen Y dan X dengan gaya pengeluaran ini memiliki proporsi yang lebih kecil, masing-masing sebesar 17%.
Sementara itu, untuk gaya pengeluaran budget traveler kembali didominasi oleh Gen X dengan 24%. Hal ini mencerminkan bahwa mereka cenderung mengutamakan terhadap pilihan yang lebih hemat, seperti menginap hostel, menjelajahi destinasi dengan transportasi umum, dan mencicipi kuliner di kaki lima. Lalu, Gen Z berada di posisi berikutnya dengan 19%, sedangkan Gen Y sebesar 16%.
Terakhir, gaya pengeluaran yang mengutamakan kenyamanan atau comfort seeker didominasi oleh Gen Y dengan 21%, mereka ini rela membayar lebih demi fasilitas yang lebih nyaman dan praktis. Lalu, Gen Z juga ikut mengadopsi gaya ini dengan 16%, sementara Gen X sebesar 8%.
Baca Juga: Didominasi Usia 1–5 Tahun, Objek Wisata Baru Kian Mendominasi
Sumber:
https://www.jenius.com/article/detail/jenius-study-2026-traveling#:~:text=Melalui%20Jenius%20Study%202026%3A%20Perilaku%20Traveling%20Lintas%20Gen,Y%2C%20dan%20Gen%20Z%20merancang%20perjalanan%20traveling%20mereka.
Penulis: Faiza Az Zahra
Editor: Editor