Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di kawasan ASEAN terus mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir. Lonjakan ini tidak lepas dari eskalasi konflik di Timur Tengah antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang berdampak pada terganggunya jalur distribusi energi global, khususnya di Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan jalur vital pengangkutan minyak dan gas dari kawasan Teluk Persia ke berbagai negara, termasuk ASEAN. Ketika jalur ini terganggu, pasokan global ikut tertekan dan memicu kenaikan harga. Bahkan, harga minyak mentah Brent tercatat melonjak hingga 60% sehingga berdampak langsung pada harga BBM di berbagai negara.
Kawasan ASEAN menjadi salah satu yang paling terdampak. Mengutip laporan BBC (12/3/2026), hampir 90% pasokan minyak dan gas yang melewati Selat Hormuz ditujukan ke Asia.
Jane Nakano, peneliti senior di Center for Strategic and International Studies, menjelaskan bahwa ketergantungan ini terjadi karena kilang minyak di Asia Tenggara dirancang untuk mengolah minyak mentah dari Timur Tengah yang cenderung “berat dan asam”.
Akibatnya, peralihan ke sumber minyak lain bukan hal mudah. Dibutuhkan investasi besar untuk menyesuaikan spesifikasi kilang. Kondisi ini membuat negara-negara ASEAN relatif rentan terhadap gejolak harga energi global.
Menurut data dari Global Petrol Price, sebuah platform yang melacak dan menerbitkan harga energi ritel di sekitar 150 negara, kenaikan harga BBM di sejumlah negara ASEAN mencapai 100% sejak 23 Februari hingga 30 Maret 2026.
Kenaikan Harga Bensin di ASEAN
Baca Juga: Mobil Listrik Makin Laris di 2026, Benarkah Efek Isu BBM dan Konflik Global?
Berdasarkan data Global Petrol Price sejak eskalasi konflik di Timur Tengah, Myanmar tercatat sebagai negara dengan kenaikan harga bensin tertinggi hingga 100%, diikuti Filipina sebesar 71,6% dan Malaysia 52,4%.
Kamboja dan Laos juga mengalami lonjakan masing-masing 39,3% dan 36,2%. Sementara itu, Tailan dan Vietnam mencatat kenaikan 26,1% dan 25,5%, serta Singapura sebesar 19,6%.
Indonesia menjadi negara ASEAN dengan kenaikan harga bensin paling rendah, yakni hanya 2,8%.
Kenaikan Harga Solar di ASEAN
Tren kenaikan juga terjadi pada bahan bakar diesel (solar) menurut Global Petrol Price. Myanmar kembali mencatat lonjakan tertinggi hingga 119,9%, diikuti Laos sebesar 117,5% dan Filipina 111%.
Vietnam dan Kamboja masing-masing mengalami kenaikan 91,3% dan 92%, sementara Malaysia mencapai 84,6%. Singapura dan Tailan mencatat kenaikan lebih moderat di kisaran 51,5% dan 32,3%.
Di tengah lonjakan tersebut, Indonesia kembali menunjukkan kenaikan paling rendah, yakni hanya 7,5%.
Kondisi BBM Indonesia Saat Ini
Per Senin (6/4/2026), harga BBM Pertamina di wilayah Jakarta terpantau relatif stabil. Pertalite berada di Rp10.000 per liter dan Bio Solar Rp6.800 per liter. Untuk BBM nonsubsidi, Pertamax dibanderol Rp12.500 per liter dan Pertamax Turbo Rp13.500 per liter.
Meski harga minyak mentah dunia terus bergejolak, pemerintah Indonesia belum menunjukkan kenaikan harga BBM subsidi maupun nonsubsidi.
Berdasarkan keterangan Menteri Energi dan Sumber Daya Bahlil Lahadalia dalam konferensi pers Selasa (31/3/2026), langkah ini diambil sebagai cara menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi negara di tengah tekanan global.
Namun, menurut sejumlah pengamat Indonesia, pertahanan harga BBM ini tidak akan berlangsung lama. Sebab, harga minyak mentah terus mengalami peningkatan.
Harga minyak dunia telah melampaui asumsi ABPN 2026 yang berada di kisaran US$70 per barel. Kini, harganya sudah berada di US$85-US$109 per barel.
"Apabila kenaikan harga minyak berlangsung hingga akhir tahun, akan semakin sulit menahan harga BBM tidak naik. Oleh karena itu masyarakat dan pelaku bisnis perlu memahami bahwa penyesuaian harga energi dalam kondisi tertentu merupakan bagian dari respons kebijakan yang wajar, selama diikuti dengan kompensasi yang tepat sasaran," tutur Piter Abdullah, Policy and Program Director Prasasti Center for Policy Studies, dikutip dari Detik pada Sabtu (4/4/2026).
Kini, pemerintah tengah menerapkan strategi penghematan BBM yang dimulai pada 1 April 2026. Beberapa strategi tersebut adalah kebijakan work from home bagi Aparatur Sipil Negara (ASN), hingga pemangkasan perjalanan dinas dalam negeri hingga 50%.
Potensi penghematan dari kebijakan tersebut diklaim akan berdampak langsung ke APBN sebesar Rp6,2 triliun, sedangkan penghematan dari belanja BBM masyarakat disebut hemat hingga Rp59 triliun.
Baca Juga: Analisis Sentimen Publik RI Soal Krisis BBM 2026
Sumber:
https://www.globalpetrolprices.com/fuel_price_trend_Iran_war.php
Penulis: Talita Aqila Shafidhya
Editor: Editor