Gempa magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, NTT pada Sabtu (15/8/2026). Gempa dangkal tersebut dipicu aktivitas tektonik Flores Back-Arc Thrust dengan mekanisme pergerakan naik atau thrust fault.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Wijayanto, mengatakan BMKG dengan cepat mengeluarkan peringatan dini setelah gempa terjadi.
“BMKG telah mengirimkan Peringatan Dini 1 pada 2 menit 16 detik setelah gempa bumi dengan status ancaman SIAGA (0,5–3 m) dan Waspada (<0,5 m),” kata Wijayanto (17/8/2026).
Sejumlah wilayah saat itu berada dalam status Siaga, sementara wilayah lainnya masuk kategori Waspada. Peringatan dini tsunami kemudian dinyatakan berakhir pada pukul 07.30 WIB atau sekitar 2 jam 31 menit setelah gempa terjadi.
Hingga Senin (17/8/2026) pukul 11.00 WIB, BMKG mencatat adanya 1.624 gempa bumi susulan atau aftershock dengan magnitudo antara M1,3 hingga M6,2.
Sebanyak 23 gempa susulan tercatat bermagnitudo di atas M5, sedangkan 59 kejadian dirasakan oleh masyarakat.
Sebelumnya, Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, memastikan pemantauan tidak lagi menunjukkan kenaikan muka air laut yang membahayakan masyarakat.
“BMKG tidak lagi mencatat adanya kenaikan muka air laut yang signifikan dan membahayakan masyarakat di sepanjang pesisir terdampak,” kata Nelly di Gedung MHEWS BMKG, Jakarta, Sabtu (15/8).
Baca Juga: Gempa Terbesar di Dunia, Terbaru Agustus 2026: Ada Gempa Kolombia 7,4 Magnitudo
Tsunami Terdeteksi di 16 Lokasi
Hasil observasi stasiun pasang surut menunjukkan gempa M7,7 tersebut memicu tsunami di 16 lokasi pada empat provinsi, yakni NTT, NTB, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara.
Dalam pemantauan awal pascagempa, stasiun BMKG mencatat kedatangan gelombang tsunami di sedikitnya sepuluh titik pesisir.
Pada pemutakhiran selanjutnya, BMKG menyebut tsunami terdeteksi di total 16 lokasi. Ketinggian tsunami tertinggi tercatat di Pota, Manggarai Timur, NTT, sekitar 1,605 m pada pukul 05.03 WIB.
Sementara ketinggian terendah tercatat di Bakalang, Alor, NTT, sebesar 0,14 m pada pukul 05.41 WIB.
BMKG juga mengingatkan bahwa kawasan busur belakang Flores mempunyai potensi aktivitas kegempaan kuat.
“Di busur belakang Flores ini terdapat potensi gempa maksimum M7.8 hingga M7.9. Berdasarkan catatan sejarah, gempa serupa pernah terjadi pada tahun 1992 dengan kekuatan M7.5 yang menimbulkan kerusakan dan terjadi tsunami. Setelah hampir 30 tahun, pelepasan energi besar kembali terjadi di busur belakang Flores,” terang Wijayanto.
Korban Meninggal Capai 53 Orang
Gempa M7,7 juga menimbulkan korban jiwa dan kerusakan di sejumlah wilayah NTT. Berdasarkan data sementara hingga Minggu (16/8) pukul 16.00 WIB, 53 orang meninggal dunia.
Korban meninggal tersebar di Manggarai sebanyak 25 orang, Manggarai Timur 20 orang, Sikka 4 orang, Ende 2 orang, serta Manggarai Barat dan Nagekeo masing-masing 1 orang.
Selain itu, sebanyak 137 orang mengalami luka-luka dan menjalani perawatan di fasilitas kesehatan maupun fasilitas kesehatan darurat.
Data sementara menunjukkan 1.543 rumah mengalami rusak berat, 328 rumah rusak sedang, dan 532 rumah rusak ringan.
Kerusakan juga terjadi pada 87 fasilitas pendidikan, 50 tempat ibadah, 76 kantor pemerintahan, serta sejumlah fasilitas umum lainnya.
Sebanyak 5.488 warga tercatat mengungsi secara terpusat dan 171 orang lainnya mengungsi secara mandiri.
BMKG Terjunkan Tim ke Wilayah Terdampak
BMKG telah menerjunkan tim gabungan dari pusat dan Unit Pelaksana Teknis (UPT) untuk melakukan survei di daerah terdampak.
“BMKG telah menerjunkan tim gabungan dari pusat dan UPT untuk melakukan survei gempabumi merusak, meliputi survei makroseismik, pengukuran mikrotremor dan MASW untuk mengetahui karakteristik serta respons tanah terhadap guncangan, monitoring gempa susulan, dan verifikasi dampak tsunami di lapangan,” papar Wijayanto.
Survei tersebut dilakukan untuk mendukung pemulihan dan rekonstruksi pascabencana, sekaligus menjadi dasar pemetaan mikrozonasi dan penyusunan rekomendasi mitigasi yang lebih aman.
BMKG meminta masyarakat menjauhi bangunan yang retak atau mengalami kerusakan struktur serta tetap mewaspadai gempa susulan.
“Peringatan dini tsunami sudah dinyatakan berakhir, namun gempa susulan masih terus terjadi. Kami berharap masyarakat tetap tenang, tidak terpancing isu yang tidak bertanggung jawab, serta selalu memperbarui informasi dari saluran resmi BMKG,” tutur Nelly.
Baca Juga: Dari Aceh hingga Palu, Ini 6 Gempa Terbesar yang Pernah Terjadi di Indonesia
Sumber:
https://www.bmkg.go.id/siaran-pers/bmkg-akhiri-peringatan-dini-tsunami-pasca-gempa-m7-7-ntt-masyarakat-dimbau-tetap-tenang-dan-waspada
https://www.bmkg.go.id/siaran-pers/bmkg-1624-gempa-bumi-susulan-pasca-tsunami-flores-masih-terjadi-masyarakat-diimbau-tetap-tenang-dan-waspada
https://www.bnpb.go.id/berita/update-dampak-gempa-m77-ntt-korban-meninggal-dunia-menjadi-53-orang