Jurnalis memiliki peran penting sebagai pengawas sosial di ruang publik. Pada praktiknya, mereka bertanggung jawab menyampaikan informasi yang akurat dan dapat dipercaya kepada masyarakat, termasuk ketika meliput peristiwa yang berisiko tinggi bagi keselamatan mereka sendiri.
Laporan Indeks Keselamatan Jurnalis (IKJ) 2025 yang disusun oleh Yayasan Tifa bersama Konsorsium Jurnalis Aman dan Populix menunjukkan bahwa 67% dari 655 responden jurnalis di Indonesia pernah melakukan liputan berisiko sepanjang tahun 2025. Sementara itu, 33% lainnya mengaku tidak pernah terlibat dalam liputan yang mengandung risiko.
Untuk menjamin keselamatan jurnalis ketika menjalani liputan berisiko, idealnya jurnalis dibekali dengan pelatihan khusus. Kabar baiknya, 75% responden menyatakan telah menerima pembekalan keamanan dari perusahaan media tempat mereka bekerja. Namun, masih ada 25% jurnalis yang mengaku belum pernah mendapatkan pembekalan semacam itu.
Baca Juga: Potret Hambatan Liputan Jurnalis pada Tahun Pertama Prabowo-Gibran
9 Jenis Liputan Berisiko
Terdapat 436 responden yang pernah melakukan liputan berisiko sepanjang 2025, dengan rincian sebagai berikut.
Jenis liputan berisiko di urutan pertama diisi oleh liputan demonstrasi yang meraih 67%, disusul liputan di wilayah konflik antarmasyarakat sebesar 60% dan liputan kriminal dengan 59%.
Selanjutnya, sebanyak 47% responden berani mengambil risiko dengan melakukan liputan ke wilayah bencana alam. Salah satu bencana alam dengan skala kerusakan cukup besar akibat cuaca ekstrim yang terjadi sepanjang tahun 2025 adalah banjir Sumatra.
Posisi kelima ditempati dengan liputan di wilayah dengan risiko penularan penyakit sebesar 19%. Aksi teroris juga menjadi salah satu bentuk liputan berisiko yang pernah dihadapi oleh 18% responden.
Kemudian, dengan besaran 11%, liputan di wilayah yang diduduki atau dikuasai oleh kelompok bersenjata menempati urutan ketujuh dan diikuti dengan liputan di wilayah konflik militer di angka 7%. Sisanya, sebanyak 5% merupakan jenis liputan lainnya yang dianggap berisiko.
Upaya Perlindungan Jurnalis
Beragam jenis liputan berisiko yang dihadapi jurnalis sepanjang 2025 menjadi refleksi penting bagi tim riset IKJ 2025 untuk mengevaluasi sistem keselamatan jurnalis ke depan. Dari temuan tersebut, disimpulkan bahwa upaya perlindungan jurnalis membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh, mulai dari penguatan kebijakan internal di lingkungan perusahaan media, peningkatan kapasitas profesional, hingga penerapan standar protokol keselamatan yang terintegrasi.
Selain itu, penguatan mekanisme perlindungan, pelatihan mitigasi risiko, serta dukungan kesehatan mental juga perlu dipertimbangkan untuk memastikan keamanan jurnalis dan keberlanjutan fungsi media di tengah situasi yang rawan konflik. Seluruh upaya dinilai perlu diterapkan secara konsisten agar jurnalis dapat terlindungi secara berkelanjutan dalam menghadapi risiko pekerjaan yang semakin kompleks.
Baca Juga: Jurnalis Indonesia Hadapi 29 Serangan Digital pada 2025, Terbanyak dalam 5 Tahun
Sumber:
www.tifafoundation.id/Media-IKJ2025.
Penulis: Faiza Az Zahra
Editor: Editor