Jurnalis Indonesia Hadapi 29 Serangan Digital pada 2025, Terbanyak dalam 5 Tahun

Jenis serangan yang dialami beragam, mulai dari pembekuan akun media sosial, peretasan, doxxing, DDoS, impersonisasi, ransomware, hingga order fiktif.

Jurnalis Indonesia Hadapi 29 Serangan Digital pada 2025, Terbanyak dalam 5 Tahun Ilustrasi Serangan Digital | Pixabay
Ukuran Fon:

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mencatat adanya kenaikan jumlah kasus serangan berbasis digital terhadap jurnalis dan media sepanjang tahun 2025. Bidang Advokasi dan Bidang Internet AJI Indonesia mengungkapkan serangan digital hingga Desember 2025 merupakan yang tertinggi dalam lima tahun terakhir.

Menurut Catatan Tahun 2025 dari AJI, serangan terhadap jurnalis selama Januari-Desember 2025 mencapai 89 kasus. Serangan berbasis digital menjadi serangan terbanyak kedua di antara kekerasan fisik dan terorisme serta intimidasi. Adapun kasus serangan digital yang dicatat AJI mencapai 29 kejadian dan menimpa baik jurnalis hingga redaksi media.

Dengan demikian, tahun 2025 tercatat sebagai periode dengan serangan digital terhadap jurnalis terbanyak menurut catatan AJI.

Jumlah Serangan Digital terhadap Jurnalis 2020-2025

Peningkatan Serangan Digital terhadap Jurnalis | GoodStats
Peningkatan Serangan Digital terhadap Jurnalis | GoodStats

Baca Juga: Serangan terhadap Jurnalis Didominasi Kekerasan Fisik Sepanjang 2025

Dengan total 29 kasus, tahun 2025 menjadi periode dengan pelaporan serangan digital terbanyak terhadap aktor pers dan media. Jumlah ini menjadi yang terbanyak sejak 12 tahun terakhir. Jenis serangan yang dialami pun beragam, mulai dari pembekuan/suspend akun media sosial, peretasan, doxxing, distributed denial of service (DDoS), impersonisasi, ransomware, hingga order fiktif.

Sebelumnya pada tahun 2024, serangan digital yang dialami jurnalis tercatat sebanyak 10 kasus. Bentuk serangan yang terjadi di antaranya pembekuan akun media sosial oleh platform, peretasan email, peretasan WA, doxxing, dan phishing.

Sementara itu, mundur ke setahun sebelumnya, terjadi 16 kasus serangan digital dengan bentuk defacement web berita, suspend web media, suspend akun media sosial, hingga pengambilalihan akun media sosial dan WhatsApp pekerja jurnalis.

Lalu pada tahun 2022, terjadi peretasan awak media dan mantan redaksi Narasi besar-besaran yang mencakup 37 orang. Kasus ini menjadi salah satu di antara 15 serangan digital lainnya sepanjang 2022 yang diwarnai serangan serupa seperti DDoS dan pelaporan pelanggaran ketentuan komunitas di medsos.

AJI turut mencatat adanya lima kasus serangan digital pada tahun 2021 dan tujuh serangan pada tahun 2020. Adapun jenis serangan pada dua tahun tersebut mencakup doxxing, DDoS, dan peretasan.

Peretasan Web Paling Sering Terjadi

DDoS menjadi bentuk serangan yang paling sering menimpa media online pada tahun 2025. Serangan ini mengakibatkan redaksi tidak bisa mengakses content management system (CMS) dan pembaca tidak bisa membuka website media yang diserang.

Serangan digital lainnya yang banyak terjadi sepanjang 2025 adalah pembekuan akun media sosial. Serangan tersebut dapat terjadi akibat laporan pelanggaran ketentuan komunitas ke platform digital oleh pihak-pihak yang tidak senang dengan suatu pemberitaan di media.

Selain itu, terdapat bentuk serangan baru yang dialami jurnalis yaitu munculnya orderan atau pesanan fiktif melalui aplikasi online. Dua kantor media di Batam dan Tanjungpinang didatangi oleh ratusan pengemudi online akibat orderan fiktif yang dituju ke kantor media tersebut. AJI menilai serangan ini tidak hanya merugikan media yang dituju, tetapi juga para pengemudi ojek online.

Baca Juga: Indonesia Jadi Negara yang Paling Percaya terhadap Jurnalis

Sumber:

https://aji.or.id/system/files/2026-01/ajicatatan-akhir-tahun-2025.pdf

Penulis: Talita Aqila Shafidhya
Editor: Editor

Konten Terkait

42% Gen Z Indonesia Mendengarkan Podcast Sebelum Tidur

Sebanyak 42% Gen Z Indonesia mendengarkan podcast sebelum tidur. Hampir sebagian meluangkan waktu lebih dari 1 jam per hari.

Jaringan Internet Polri Hadir di 76 Titik Bencana Sumatra

Polri menghadirkan jaringan internet gratis di lokasi bencana untuk memulihkan komunikasi dan mempercepat penanganan darurat.

Terima kasih telah membaca sampai di sini

atau

Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.

Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook