Setiap tahunnya, selalu ada isu sosial yang terjadi di kalangan masyarakat dan tidak sedikit di antaranya yang memerlukan respons cepat dari pemerintah. Misalnya, bencana alam di Sumatra yang terjadi pada akhir tahun lalu, yang membuat beberapa daerah di sana lumpuh akibat diterjang banjir bandang.
Melihat peristiwa tersebut, masyarakat Indonesia pun tidak lantas diam. Banyak komunitas kemanusian hingga public figure membuka penggalangan dana. Seperti yang dilakukan oleh Ferry Irwandi, seorang content creator yang aktif di bidang pendidikan, yang berhasil mengumpulkan donasi lebih dari Rp10 miliar.
Donasi mengalir cepat kepada Ferry Irwandi bukan semata-mata karena absennya pemerintah, melainkan adanya kepercayaan seperti reputasi yang kuat, transparansi lapangan secara real-time, dan narasi program yang spesifik. Dibandingkan sekadar menggunakan slogan umum, pendekatan ini jauh lebih efektif karena berfokus langsung pada wilayah terisolasi yang minim bantuan.
Baca Juga: 10 Isu yang Perlu Diselesaikan Pemerintah Menurut Publik RI 2026
Namun berdasarkan survei Indonesia Millenial and Gen Z Report 2027 oleh IDN Research Institute, mayoritas anak muda menilai bahwa tindakan pemerintah dalam merespons isu sosial masih kurang optimal.
Penilaian tertinggi ditempati oleh persepsi bahwa respons pemerintah terlalu lambat dengan angka mencapai 37%. Selain masalah kecepatan, ketepatan sasaran juga menjadi sorotan, di mana sebanyak 30% responden menilai bahwa respons yang diberikan sudah tepat waktu, tetapi tidak mengatasi masalah sebenarnya.
Di sisi lain, aspek komunikasi publik dari pemerintah juga menghadapi tantangan tersendiri. Sebanyak 20% publik merasa penyampaiannya kurang menarik, yang menunjukkan adanya kendala dalam efektivitas penyebaran informasi kepada publik.
Sementara itu, kelompok masyarakat yang memberikan penilaian positif berada di urutan terbawah, di mana hanya ada 13% responden yang menganggap respons pemerintah sudah tepat waktu dan relevan dengan masalah.
Apa Saja Alasan Anak Muda Memperhatikan Komunikasi Pemerintah?
Aspek kebenaran data dan dampak nyata menjadi pemicu utama yang mendorong anak muda dalam memperhatikan komunikasi pemerintah. Faktor tertinggi yang paling memengaruhi publik adalah adanya bukti nyata dengan persentase mencapai 62%. Menyusul di posisi kedua, faktor kedekatan isu dengan kehidupan sehari-hari juga sangat berpengaruh, di mana sebanyak 43% responden menyatakan mereka memperhatikan komunikasi pemerintah hanya jika konten tersebut berdampak langsung pada kehidupan.
Sementara itu, pendekatan gaya penyampaian berada di angka yang jauh lebih rendah. Sebanyak 16% responden merasa lebih tertarik untuk menyimak apabila formatnya tidak terasa seperti pengumuman resmi.
Terakhir, terdapat 15% responden yang mengaku tidak ingat kapan terakhir kali mengikuti komunikasi pemerintah, memperlihatkan bahwa masih ada sebagian anak muda yang sudah sangat lama tidak terpapar oleh informasi dari pemerintah.
Adapun survei ini dilakukan terhadap 628 responden yang berasal dari kelompok Milenial (279 responden) dan Gen Z (349 responden). Mayoritas responden merupakan perempuan (52%) dan berasal dari Pulau Jawa khususnya daerah Jabodetabek dengan persentase mencapai 36%.
Baca Juga: Keyakinan terhadap Pemerintah Turun per Q1 2026, Terendah Semenjak Kepemimpinan Prabowo-Gibran
Sumber:
https://www.indonesiasummit.com/id