Ekonomi kerap menjadi isu yang paling disorot masyarakat Indonesia sejak awal pemerintahan Prabowo-Gibran. Penyebabnya adalah kenaikan harga bahan pokok yang belum stabil, sulitnya lapangan kerja bagi lulusan baru, serta tekanan daya beli masyarakat kelas menengah yang terus menurun. Terlebih lagi, dinamika global seperti konflik di Timur Tengah, perlambatan ekonomi mitra dagang utama, serta fluktuasi nilai tukar dan suku bunga turut memperumit upaya pemulihan ekonomi domestik
Hal ini semakin diperkuat dengan temuan dari Survei Nasional Kawula17 Survey (NKS) Q1 2026, yang mengidentifikasi sebagian masyarakat masih memiliki kekhawatiran besar terhadap kondisi ekonomi.
Kekhawatiran tertuju pada dua isu utama, yaitu tingginya angka pengangguran dan mahalnya harga pangan. Menariknya, data resmi pemerintah justru menunjukkan tren positif terkait pengangguran. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan jumlah pengangguran di Indonesia pada November 2025 sebanyak 7,35 juta orang, turun 109.000 orang dibanding Agustus 2025. Dengan demikian, tingkat pengangguran terbuka (TPT) turun menjadi 4,74% atau lebih rendah 0,11% poin dari periode sebelumnya.
Lebih lanjut, dari hasil survei yang dilakukan pada Kuartal I 2026, berikut adalah sepuluh isu prioritas yang perlu diselesaikan pemerintah menurut publik pada 2026.
Baca Juga: Masih Dinamis, Ini Update Terbaru Harga Komoditas Pangan di Pasar Modern per 29 April 2026
Sebanyak 45% responden menjadikan pengangguran sebagai kekhawatiran utama. Isu ini konsisten menjadi topik teratas sejak awal pemerintahan Prabowo-Gibran. Hampir setara dengan pengangguran, 43% responden mengeluhkan mahalnya harga pangan dan kebutuhan pokok. Isu ini paling dirasakan langsung oleh masyarakat di kehidupan sehari-hari, terutama di wilayah perkotaan dan kelompok ekonomi rentan.
Selain itu, isu maraknya kasus keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) juga menjadi salah satu permasalahan yang paling disoroti oleh masyarakat dengan persentase 40%, disusul oleh penonaktifan BPJS Kesehatan (36%), tingginya alokasi anggaran MBG (33%), maraknya kekerasan aparat negara (23%), partisipasi Indonesia dalam BOP atau Board of Peace (22%), kriminalisasi aktivis dan warga sipil (19%), penurunan nilai tukar rupiah (16%), dan lemahnya fungsi pengawasan DPR (10%).
Lebih jauh, di samping dari berbagai isu yang dikhawatirkan oleh masyarakat, Prabowo mengklaim kondisi Indonesia berada dalam situasi aman di tengah ketidakpastian global. Ia menyebut Indonesia telah mencapai swasembada pangan dan segera menuju swasembada energi.
“Tidak lama lagi akan swasembada energi,” ucapnya saat perayaan Hari Buruh Internasional di Monumen Nasional, Jakarta Pusat, pada (1/5/2026), dikutip TEMPO.
Adapun Survei National Kawula17 Survey (NKS) Q1 2026 dilakukan oleh Yayasan Pelopor Pilihan Tujuhbelas (PP17) pada Kuartal I 2026 terhadap 387 responden di seluruh Indonesia. Metode pengambilan sampel menggunakan teknik multistage random sampling dengan margin of error sekitar ±5% pada tingkat kepercayaan 95%. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka dan daring. Analisis dilakukan menggunakan NET Score untuk mengukur arah opini publik secara ringkas.
Baca Juga: Harga Minyak Goreng Melonjak Naik Hampir Sentuh Rp22 Ribu per Liter, Ini Penyebabnya
Sumber:
https://drive.google.com/file/d/1oVYF8Ng8TwASoZDMWZj_6NUZtPw06QQ8/view?usp=sharing
Penulis: Anggia Leksa
Editor: Editor