Bencana banjir masih menjadi permasalahan yang belum terselesaikan di Jawa Barat. Tingginya intensitas curah hujan yang tidak diimbangi dengan sistem drainase yang memadai, penyempitan daerah aliran sungai, hingga masifnya alih fungsi lahan menjadi faktor utama mengapa air kerap meluap dan merendam pemukiman warga.
Bagi masyarakat, dampak banjir tidak hanya dirasakan saat air menggenangi rumah mereka, melainkan juga menyisakan kerugian tidak langsung yang berdampak panjang pada stabilitas ekonomi dan sosial. Putusnya akses jalan utama melumpuhkan aktivitas distribusi logistik, yang memicu lonjakan harga kebutuhan pokok di pasar.
Berdasarkan data terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat yang diperbarui per 2 Juni 2026, berikut adalah rincian peta sebaran banjir serta upaya konkret yang tengah berjalan untuk mengatasi persoalan menahun ini.
10 Daerah Paling Rawan Banjir di Jawa Barat
Baca Juga: Banjir Dominasi Bencana Alam di Indonesia 2025
Data BPBD Jabar mencatat adanya ketimpangan frekuensi kejadian banjir di antara beberapa kabupaten dan kota. Kabupaten Karawang berada di posisi puncak sebagai wilayah yang paling sering terendam banjir dengan total 44 kejadian sepanjang tahun 2025.
Di posisi kedua, Kabupaten Bogor membayangi dengan 31 kejadian, disusul oleh Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Bandung yang masing-masing mencatatkan 23 peristiwa banjir. Selanjutnya, Kota/Kabupaten Cirebon mencatat 17 kejadian, diikuti oleh Kabupaten Bekasi dengan 15 kejadian.
Sementara itu, Kabupaten Subang dan Kabupaten Ciamis berada di peringkat berikutnya dengan masing-masing 14 kejadian, menutup daftar dengan Kabupaten Garut dan Kabupaten Cianjur yang sama-masing mengalami 12 peristiwa banjir selama periode tersebut.
Sebagai informasi, sejumlah kota besar seperti Kota Bekasi, Kota Depok, dan Kota Bogor mencatatkan frekuensi banjir yang cenderung lebih rendah jika dibandingkan dengan wilayah kabupaten di sekelilingnya. Perbedaan kontras ini mengindikasikan adanya pengaruh dari faktor skala luas wilayah, tingkat kepadatan titik-titik rawan genangan, hingga efektivitas manajemen sistem drainase perkotaan yang diterapkan di masing-masing daerah.
Karawang Mulai Proyek Pengendali Banjir Target Selesai 2026
Menanggapi statusnya sebagai daerah dengan kerawanan tertinggi, titik terang akhirnya mulai terlihat bagi warga Desa Karangligar, Kecamatan Telukjambe Barat, Kabupaten Karawang.
Kawasan yang selama belasan tahun dijuluki sebagai area 'banjir abadi' ini akan segera tersentuh proyek pembangunan infrastruktur pengendali banjir yang komprehensif. Proyek strategis ini mencakup pembuatan dua pintu air baru, penyediaan rumah pompa, serta normalisasi pada saluran pembuang Cidawolong dan Kedunghurang.
Wakil Ketua DPR RI, Saan Mustopa, menegaskan penanganan di Karangligar ini merupakan bentuk kolaborasi nyata antara Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Pemerintah Kabupaten Karawang, dan DPR RI untuk menyelesaikan akar masalah secara permanen, bukan sekadar penanganan artifisial yang bersifat sementara, proyek ini ditargetkan selesai pada tahun 2026.
"Insyaallah tahun yang akan datang tidak akan banjir lagi. Ini adalah kolaborasi Kementerian PU, Pemkab, DPR untuk bisa menyelesaikan akar masalah banjir. Kalau artifisial saja, itu gak akan selesai masalah," jelas Saan pada (20/11/25) dikutip Kumparan.
Baca Juga: Jumlah Banjir di Indonesia Tembus 2.000 Kejadian pada 2025
Sumber:
http://bpbd.jabarprov.go.id/
Penulis: Anggia Leksa
Editor: Editor