Indonesia merupakan negara rawan bencana alam karena kondisi geografis dan iklim yang beragam.
Sepanjang tahun 2025, data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan berbagai jenis bencana terjadi dengan proporsi yang berbeda-beda di sejumlah wilayah.
Banjir tercatat sebagai bencana alam paling dominan dan paling sering terjadi, terutama di kawasan dengan kepadatan penduduk tinggi.
Persentase Bencana Alam di Indonesia 2025
Persentase bencana alam di Indonesia tahun 2025 menunjukkan bahwa banjir menjadi bencana paling dominan dengan kontribusi 37,09% dari total kejadian.
Tingginya angka ini menegaskan banjir sebagai ancaman utama di berbagai wilayah, khususnya kawasan padat penduduk dan dataran rendah.
Cuaca ekstrem berada di posisi kedua dengan persentase 26,91%, mencerminkan meningkatnya dampak perubahan iklim terhadap pola cuaca nasional.
Di urutan berikutnya, tanah longsor menyumbang 15,80%, yang banyak terjadi di daerah perbukitan dan wilayah dengan tingkat kerawanan geologis tinggi.
Kebakaran hutan dan lahan tercatat sebesar 11,03%, menunjukkan risiko serius terhadap lingkungan dan kualitas udara.
Selain itu, kebakaran permukiman memiliki porsi 6,28%, yang kerap dipicu oleh faktor kelistrikan dan kepadatan hunian.
Sementara itu, gempa bumi tercatat sebesar 0,90%, menunjukkan frekuensi yang lebih rendah dibandingkan bencana hidrometeorologi.
Kekeringan menyumbang 0,71%, disusul gelombang panas atau abrasi sebesar 0,65%. Erupsi gunung api berada pada angka 0,32%, mencerminkan kejadian yang bersifat sporadis.
Kategori gagal teknologi dan lainnya masing-masing mencatat 0,09%, sementara epidemi atau wabah penyakit berada di angka 0,07%.
Konflik sosial tercatat sebesar 0,05%, dan tsunami menjadi bencana dengan persentase terendah yaitu 0,02%, meski berpotensi menimbulkan dampak besar.
Secara keseluruhan, data ini menegaskan bahwa bencana hidrometeorologi masih mendominasi pola kebencanaan di Indonesia sepanjang 2025.
Banjir sebagai Bencana Alam Paling Dominan
Banjir tercatat sebagai bencana alam paling dominan di Indonesia sepanjang 2025 dengan persentase mencapai 37,09% dari total kejadian bencana.
Tingginya angka ini menunjukkan bahwa curah hujan ekstrem, kondisi drainase, serta perubahan tata guna lahan masih menjadi faktor utama penyebab banjir di berbagai wilayah.
Data BNPB juga mengungkapkan bahwa banjir paling banyak terjadi di daerah dengan kepadatan penduduk tinggi, sehingga berpotensi menimbulkan dampak sosial dan ekonomi yang besar.
Dominasi banjir ini menegaskan pentingnya upaya mitigasi, pengelolaan lingkungan, dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi risiko bencana hidrometeorologi.
Pentingnya Mitigasi dan Kesiapsiagaan Bencana
Mitigasi dan kesiapsiagaan bencana memiliki peran penting dalam mengurangi risiko serta dampak yang ditimbulkan oleh berbagai jenis bencana alam.
Melalui langkah mitigasi seperti pemetaan wilayah rawan, pembangunan infrastruktur tahan bencana, dan edukasi masyarakat, potensi korban jiwa dan kerugian material dapat ditekan sejak sebelum bencana terjadi.
Kesiapsiagaan juga membantu masyarakat memahami tindakan yang harus dilakukan saat dan setelah bencana, sehingga respons menjadi lebih cepat dan terkoordinasi.
Upaya ini mencakup perencanaan, latihan evakuasi, serta penyediaan sarana darurat yang memadai.
Dengan mitigasi dan kesiapsiagaan yang baik, ketahanan masyarakat terhadap bencana dapat meningkat secara berkelanjutan.
Tantangan dan Upaya Menghadapi Bencana Alam Indonesia
Indonesia menghadapi tantangan besar dalam penanggulangan bencana alam, mulai dari keterbatasan pendanaan, rendahnya kesadaran masyarakat, hingga perencanaan tata ruang yang belum sepenuhnya berbasis risiko bencana.
Kondisi geografis Indonesia yang berada di Ring of Fire semakin memperbesar potensi bencana seperti gempa bumi, banjir, dan letusan gunung api.
Untuk menjawab tantangan tersebut, diperlukan upaya berkelanjutan melalui penguatan mitigasi, pembangunan infrastruktur tahan bencana, serta penerapan sistem peringatan dini yang andal.
Selain itu, edukasi, pelatihan, dan partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci penting dalam meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana.
Dengan sinergi antara pemerintah, lembaga terkait, dan masyarakat, Indonesia dapat memperkuat ketahanan nasional dan meminimalkan dampak bencana di masa mendatang.
Baca Juga: 6 Kebijakan Purbaya Demi Pemulihan Bencana Sumatra, Dana Capai Rp51 Triliun
Sumber:
https://dibi.bnpb.go.id/superset/dashboard/1/?standalone=0&expand_filters=0
Penulis: Angel Gavrila
Editor: Editor