Aktivitas berbelanja masyarakat dunia telah bergeser secara masif dalam beberapa tahun terakhir. Kehadiran platform e-commerce, kemudahan sistem pembayaran digital, hingga promosi gratis ongkir dan diskon kilat menjadi alasan kuat mengapa belanja online kini jauh lebih diminati daripada belanja konvensional di toko fisik.
Konsumen tidak perlu lagi meluangkan waktu, tenaga, maupun ongkos transportasi untuk mengantre di kasir. Cukup bermodalkan ponsel pintar dalam genggaman, barang impian bisa langsung diantar sampai ke depan pintu rumah. Menariknya, kecenderungan untuk memilih berbelanja di layar kaca ketimbang datang langsung ke pusat perbelanjaan ini sangat didominasi oleh masyarakat di kawasan Asia-Pasifik dan Amerika Latin.
Berdasarkan laporan Digital 2026 Mid-Year Global Update Report yang dirilis oleh DataReportal bekerja sama dengan Global Web Index (GWI) pada April 2026, Indonesia berhasil menduduki peringkat kedua secara global sebagai negara yang warganya paling memilih berbelanja online ketimbang toko fisik.
Sebanyak 72,8% pengguna internet usia 16 tahun ke atas di Indonesia menyatakan preferensi yang sangat kuat terhadap belanja digital, di mana angka tersebut hanya terpaut tipis dari Brasil yang memimpin di posisi puncak dunia dengan raihan 74,1%.
10 Negara Asia Paling Sering Belanja Online
Baca Juga: Tren Pengeluaran Belanja Daring Konsumen Indonesia 2024
Aktivitas belanja mingguan di Asia dipimpin secara mengejutkan oleh Tailan yang menempati peringkat pertama di Asia sekaligus di dunia, dengan mencatatkan angka 69,1%. Tepat di belakangnya, Malaysia mengamankan posisi kedua dengan angka 62,1%,
Sementara itu, sang raksasa teknologi dunia, China, berada di peringkat ketiga dengan angka 61,1% pengguna internet aktif, di mana adopsi tren live shopping dan integrasi sistem pembayaran instan membuat belanja mingguan menjadi rutinitas yang sangat praktis bagi masyarakatnya.
Di posisi berikutnya, Uni Emirat Arab atau UEA menempati urutan keempat dengan persentase sebesar 60,4%, mencerminkan daya beli dan adaptasi masyarakatnya yang sangat tinggi terhadap platform digital. Menyusul di peringkat kelima, Filipina mencatatkan angka mencapai 60,1% yang sangat didorong oleh populasi usia muda yang masif dan gemar menghabiskan waktu di media sosial. Kemudian, Turki yang menjembatani wilayah Asia dan Eropa berada di posisi keenam dengan angka genap 60%.
Selanjutnya, Vietnam berhasil mengamankan posisi ketujuh dengan persentase 58,8%, dipicu oleh pertumbuhan ekonomi digital yang eksponensial di kota-kota besar seperti Hanoi dan Ho Chi Minh City.
Negara kiblat tren kecantikan dan fesyen dunia, Korea Selatan, berada di peringkat kedelapan dengan angka 58,3% pengguna internet yang rutin berbelanja daring setiap minggunya. Singapura kemudian menyusul di peringkat kesembilan dengan raihan 58,1%.
Terakhir, Indonesia mengunci posisi sepuluh besar di Asia dengan angka 57,7%, yang berarti lebih dari separuh pengguna internet dewasa di tanah air konsisten melakukan aktivitas belanja online minimal sekali dalam seminggu.
Aplikasi Belanja Online yang Paling Banyak Digunakan di Asia
Tingginya intensitas belanja daring di Asia ini tentu tidak lepas dari peran aplikasi belanja seluler (mobile shopping apps) yang terpasang di ponsel pintar konsumen. Meskipun secara global platform global seperti Amazon dan Temu merajai peringkat teratas, lanskap di Asia menunjukkan dominasi aplikasi yang sangat spesifik secara regional berdasarkan jumlah pengguna aktif bulanan (Monthly Active Users).
Di kawasan Asia Selatan, pasar sepenuhnya dikuasai oleh Flipkart yang menduduki peringkat satu Asia sekalogus ketiga global di bawah naungan Walmart, disusul oleh Meesho di peringkat kedua Asia sebagai platform social commerce yang fokus pada pemberdayaan UMKM lokal India, serta Amazon India yang mengamankan peringkat ketiga Asia.
Sementara itu, untuk pasar Asia Timur dan Tenggara, AliExpress milik Alibaba Group berada di peringkat keempat dan menjadi andalan konsumen Asia untuk mengimpor barang terjangkau. Kekuatan belanja Asia Tenggara makin ditegaskan oleh Shopee Indonesia yang berada di peringkat kelima sebagai motor penggerak transaksi digital terbesar di tanah air, serta Lazada yang mengamankan peringkat keenam dengan basis pengguna yang kuat di berbagai negara tetangga seperti Filipina, Malaysia, Tailan, dan Vietnam.
Metodologi
Laporan DataReportal ini didasarkan pada survei daring berskala besar hasil kerja sama dengan GWI sepanjang kuartal keempat tahun 2025. Survei ini menyasar pengguna internet berusia 16–64 tahun dengan sampel yang representatif secara demografis di setiap negara.
Selain itu, untuk menyusun basis data pengguna internet secara akurat, DataReportal juga melakukan triangulasi data dari berbagai lembaga terpercaya dunia seperti ITU, GSMA Intelligence, Eurostat, dan Google.
Baca Juga: Metode Pembayaran Tunai Dominasi Transaksi E-Commerce 2024
Sumber:
https://datareportal.com/reports/digital-2026-mid-year-global-update-report
Penulis: Anggia Leksa
Editor: Editor