Harga minyak dunia hari ini, Jumat (26/06/2026) kembali bergerak melemah setelah sempat melonjak akibat memanasnya konflik di Timur Tengah dalam beberapa pekan terakhir. Melansir dari Trading Economics, harga minyak mentah acuan dunia, baik West Texas Intermediate (WTI) maupun Brent, menunjukkan tren penurunan seiring mulai meredanya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak dari kawasan Teluk.
Meski sempat muncul insiden keamanan di sekitar perairan Oman, aktivitas pengiriman minyak melalui Selat Hormuz masih berlangsung cukup lancar. Kondisi tersebut membuat kekhawatiran investor terhadap terganggunya distribusi minyak global mulai berkurang sehingga tekanan pada harga minyak pun ikut mereda.
Baca Juga: Negara dengan Produksi Minyak Terbesar 2026, Ada Indonesia?
Harga Minyak Mentah WTI, Jumat, 26 Juni 2026
Harga minyak mentah WTI pada perdagangan pagi ini berada di level US$71,533 per barel, sedikit lebih tinggi dibanding sehari sebelumnya yang berada di US$69,884 per barel. Namun jika melihat pergerakan sejak 22 Juni, tren WTI masih menunjukkan pelemahan.
Pada 22 Juni, harga sempat menyentuh US$78,969 per barel sebelum turun menjadi US$74,123 pada 23 Juni, kemudian kembali melemah ke US$72,759 pada 24 Juni dan US$69,884 pada 25 Juni. Kenaikan tipis pada hari ini belum mampu menghapus penurunan yang terjadi sepanjang pekan.
WTI juga diperkirakan mencatat penurunan mingguan ketiga secara berturut-turut. Pelaku pasar kini lebih banyak mencermati perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang diharapkan mampu menghasilkan kesepakatan permanen sehingga risiko gangguan pasokan energi global dapat ditekan.
Harga Minyak Brent, Jumat, 26 Juni 2026
Pergerakan serupa juga terjadi pada minyak mentah Brent yang menjadi acuan harga minyak global. Pada perdagangan hari ini, Brent berada di level US$74,835 per barel, naik tipis dari posisi US$73,141 pada sehari sebelumnya.
Meski demikian, Brent masih bergerak lebih rendah dibanding awal pekan. Harga Brent tercatat berada di level US$81,624 per barel pada 22 Juni, kemudian turun menjadi US$78,083 pada 23 Juni, melemah lagi ke US$76,568 pada 24 Juni, dan menyentuh US$73,141 pada 25 Juni.
Kenaikan pada perdagangan hari ini belum cukup untuk membalikkan tren pelemahan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Ketegangan di Selat Hormuz Mulai Mereda
Pergerakan harga minyak dalam beberapa hari terakhir tidak lepas dari perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah, khususnya di sekitar Selat Hormuz. Jalur pelayaran tersebut merupakan salah satu rute distribusi minyak paling penting di dunia sehingga setiap potensi gangguan biasanya langsung memengaruhi harga komoditas energi.
Meski sempat terjadi insiden terhadap sebuah kapal di lepas pantai Oman, arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz dilaporkan terus meningkat. Di sisi lain, Amerika Serikat dan Iran masih melanjutkan pembicaraan diplomatik untuk mencari solusi jangka panjang atas konflik yang berlangsung, meski sejumlah isu penting masih memerlukan pembahasan lebih lanjut.
Meningkatnya aktivitas pengiriman minyak dari kawasan Teluk membuat pelaku pasar mulai menilai risiko gangguan pasokan tidak sebesar yang dikhawatirkan sebelumnya. Sejumlah produsen di Timur Tengah juga terus meningkatkan produksi untuk memenuhi kebutuhan pasar global.
Kombinasi faktor tersebut membuat harga minyak dunia perlahan terkoreksi setelah sempat melonjak tajam akibat meningkatnya tensi geopolitik dalam beberapa waktu terakhir.
Baca Juga: Selat Hormuz Ditutup, Apa Dampaknya pada Ekonomi Dunia?
Sumber:
https://id.tradingeconomics.com/commodity/brent-crude-oil
Penulis: Raka Adichandra
Editor: Firda Wandira