Peringkat Internasional

10 Negara Paling Makmur di Asia Tenggara 2026, Indonesia Peringkat Berapa?

Daftar 10 negara paling makmur di Asia Tenggara 2026 versi Legatum Prosperity Index, lengkap dengan skor, peringkat global, dan posisi Indonesia.

10 Negara Paling Makmur di Asia Tenggara 2026, Indonesia Peringkat Berapa?

Ilustrasi Singapura | Pexels

Kemakmuran suatu negara tidak hanya dapat dilihat dari ukuran ekonomi atau pendapatan per kapita. Kualitas kesehatan, pendidikan, standar hidup, kebebasan, hingga kekuatan hubungan sosial juga ikut menentukan seberapa sejahtera masyarakat di sebuah negara.

Hal tersebut menjadi pendekatan yang digunakan Legatum Prosperity Index (LPI) 2026. Indeks ini mengukur kemakmuran secara multidimensi melalui tiga domain utama, yakni Development, Freedom, dan Society. Pada edisi 2026, LPI mencakup 161 negara di dunia.

Di Asia Tenggara, Singapura menjadi negara paling makmur. Singapura menjadi negara dengan tingkat kemakmuran tertinggi dengan skor indeks 83,83 dan menempati peringkat ke-23 dunia.

Lantas, negara mana saja yang masuk daftar negara paling makmur di Asia Tenggara 2026 dan apa yang membuat negara-negara tersebut berada di posisi tersebut?

Baca Juga: Tingkat Kemakmuran Negara ASEAN 2026

Daftar Negara Paling Makmur di Asia Tenggara 2026

Berdasarkan Legatum Prosperity Index 2026, berikut urutannya 10 negara paling makmur di Asia Tenggara berdasarkan skor indeks dari yang tertinggi hingga terendah.

Daftar Negara Paling Makmur di Asia Tenggara 2026
Daftar Negara Paling Makmur di Asia Tenggara | GoodStats

1. Singapura

Singapura menjadi negara paling makmur di Asia Tenggara dengan skor 83,83 dan berada di peringkat 23 dunia. Posisi ini membuat Singapura memiliki jarak skor yang cukup lebar dari Malaysia yang berada di posisi kedua kawasan dengan skor 73,03.

Kekuatan Singapura terlihat terutama pada aspek pembangunan dan kebebasan ekonomi. Dalam laporan khusus Legatum, Singapura menempati peringkat kedua dunia untuk Standard of Living, Health, dan Economic Freedom. Secara keseluruhan, negara tersebut berada di peringkat ketiga dalam domain Development, ke-23 pada Society, dan ke-35 pada Freedom.

2. Malaysia

Malaysia menempati posisi kedua di Asia Tenggara dengan skor 73,03 dan peringkat 46 dunia. Posisinya terpaut 10,80 poin dari Singapura, tetapi masih cukup jauh di atas Indonesia yang berada di peringkat ketiga kawasan.

Dalam pemeringkatan LPI, Malaysia berada di posisi relatif kuat pada sejumlah indikator pembangunan, kebebasan, dan masyarakat. Data resmi LPI menunjukkan Malaysia berada di peringkat 46 secara keseluruhan dengan berbagai peringkat pilar yang menjadi penyusun tiga domain kemakmuran.

3. Indonesia

Indonesia berada di posisi ketiga Asia Tenggara dengan skor 66,89 dan menempati peringkat 64 dunia. Dengan demikian, Indonesia masih berada 17 posisi di bawah Malaysia dan 41 posisi di bawah Singapura dalam pemeringkatan global.

Indonesia memiliki kekuatan yang cukup menonjol pada domain Society. Laporan khusus mengenai Indonesia dari Legatum menyebut bahwa Society menjadi domain dengan performa terbaik Indonesia, sementara Freedom menjadi domain yang mengalami peningkatan paling besar sepanjang periode 2015–2025.

4. Thailand

Thailand menempati peringkat keempat Asia Tenggara dengan skor 65,72 dan posisi 68 dunia. Skornya hanya terpaut 1,17 poin dari Indonesia sehingga persaingan di antara kedua negara tersebut relatif dekat.

Secara umum, posisi Thailand mencerminkan performa yang cukup kuat di antara negara-negara Asia Tenggara. Profil LPI mencatat Thailand berada di peringkat 68 secara keseluruhan dalam indeks 2026.

5. Filipina

Filipina berada di posisi kelima dengan skor 63,06 dan peringkat 79 dunia. Negara ini masih berada dalam kelompok lima besar Asia Tenggara, meskipun skor keseluruhannya sekitar 20,77 poin lebih rendah dibandingkan Singapura.

Posisi tersebut menunjukkan bahwa kemakmuran Filipina dalam perspektif LPI tidak hanya ditentukan oleh kondisi ekonomi, tetapi merupakan hasil agregasi berbagai indikator yang mencerminkan pembangunan, kebebasan, dan kekuatan masyarakat.

6. Vietnam

Vietnam menempati peringkat keenam di kawasan dengan skor 62,48 dan berada di posisi 81 dunia. Negara ini hanya terpaut 2,22 poin dari Filipina.

Profil resmi LPI menempatkan Vietnam pada peringkat 81 secara keseluruhan. Negara tersebut memiliki perekonomian yang berkembang cepat dan semakin terindustrialisasi, tetapi skor akhir LPI tetap mempertimbangkan berbagai aspek di luar ekonomi.

7. Timor-Leste

Timor-Leste berada di peringkat ketujuh Asia Tenggara dengan skor 60,70 dan menempati peringkat 89 dunia.

Posisinya menunjukkan bahwa ukuran ekonomi bukan satu-satunya faktor dalam menentukan skor kemakmuran. Dalam LPI, kemampuan suatu negara membangun masyarakat yang kuat, menyediakan pembangunan yang memadai, serta menciptakan ruang kebebasan turut diperhitungkan.

8. Kamboja

Kamboja berada di posisi kedelapan Asia Tenggara dengan skor 48,35 dan peringkat 130 dunia.

Posisinya terpaut cukup jauh dari Timor-Leste di atasnya. Data ranking resmi LPI juga menunjukkan Kamboja berada pada peringkat 130 secara keseluruhan dengan performa yang berbeda-beda di dalam domain dan pilar penyusunnya.

9. Laos

Laos menempati posisi kesembilan dengan skor 46,37 dan peringkat 134 dunia. Negara ini hanya unggul dari Myanmar dalam daftar 10 negara Asia Tenggara yang masuk pemeringkatan LPI 2026.

Skor tersebut memperlihatkan adanya jarak cukup besar antara kelompok negara Asia Tenggara dengan skor tinggi, seperti Singapura dan Malaysia, dengan negara-negara yang berada di bagian bawah pemeringkatan.

10. Myanmar

Myanmar berada di peringkat terakhir di Asia Tenggara dengan skor 42,76 dan peringkat 139 dunia.

Dengan skor tersebut, Myanmar memiliki selisih 41,07 poin dari Singapura. Perbedaan tersebut menggambarkan besarnya kesenjangan kondisi kemakmuran di kawasan jika dilihat melalui kerangka LPI yang mencakup berbagai dimensi pembangunan, kebebasan, dan masyarakat.

Apa Itu Legatum Prosperity Index 2026?

Legatum Prosperity Index merupakan indeks yang digunakan untuk mengukur kemakmuran suatu negara secara multidimensi. Indeks ini pertama kali diterbitkan pada 2007 dan dikembangkan untuk melihat bagaimana kemakmuran berkembang di berbagai negara dari waktu ke waktu.

Legatum menekankan bahwa kemakmuran tidak sama dengan kekayaan. Sumber daya material memang penting, tetapi masyarakat baru dapat disebut makmur ketika memiliki kesempatan untuk berkembang dalam berbagai aspek kehidupan. Karena itu, keberhasilan ekonomi saja tidak cukup untuk menggambarkan kemakmuran secara keseluruhan.

Pada LPI 2026, pengukuran dilakukan menggunakan 160 indikator dan lebih dari 615.877 data point. Data tersebut digunakan untuk memberikan gambaran yang lebih luas mengenai kondisi suatu negara.

Selain itu, metodologi LPI memanfaatkan data dari puluhan penyedia data dan mencakup periode data 2015–2026. Legatum menyebut indikator yang digunakan dipilih berdasarkan akurasi, relevansi, kredibilitas metode pengumpulan, serta ketersediaan data antarnegara.

Siapa di Balik Legatum Prosperity Index?

LPI dikembangkan oleh Legatum bersama Prosperity Institute. Legatum merupakan perusahaan global yang bergerak di bidang investasi dan filantropi. Organisasi tersebut menyatakan memiliki misi mengembangkan dan mengalokasikan modal serta gagasan untuk membantu masyarakat menjalani kehidupan yang lebih makmur.

Sementara itu, Prosperity Institute berfokus pada penelitian mengenai prinsip dan gagasan yang dapat menciptakan kemakmuran nasional. LPI menjadi salah satu sumber utama yang digunakan lembaga tersebut untuk menjalankan misinya.

Dengan demikian, LPI bukan indeks yang diterbitkan oleh pemerintah atau ASEAN. Peringkatnya merupakan hasil pengolahan data oleh Legatum dan Prosperity Institute. Karena itu, hasil indeks sebaiknya dipahami sebagai salah satu perspektif untuk mengukur kemakmuran, bukan sebagai satu-satunya ukuran kesejahteraan suatu negara.

Bagaimana Legatum Mengukur Kemakmuran Negara?

Legatum menyusun LPI 2026 ke dalam tiga domain utama, yaitu Development, Freedom, dan Society. Ketiganya mewakili tiga pertanyaan mendasar: seberapa berkembang suatu negara, seberapa bebas masyarakatnya, dan seberapa kuat hubungan sosial di dalamnya.

Development

Domain Development terdiri atas tiga pilar, yakni Health, Education, dan Standard of Living.

Health mengukur berbagai kondisi yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat. Education berkaitan dengan kapasitas pendidikan, sedangkan Standard of Living menggambarkan kondisi material dan kualitas hidup masyarakat.

Dengan pendekatan tersebut, sebuah negara tidak cukup hanya memiliki perekonomian besar. Negara juga perlu menyediakan layanan dan kondisi yang memungkinkan masyarakat hidup sehat, mendapatkan pendidikan, serta menikmati standar hidup yang layak.

Freedom

Domain kedua adalah Freedom, yang terdiri atas Civil Peace, Freedom of Dissent, dan Economic Freedom.

Ketiga pilar ini melihat kondisi kebebasan dan lingkungan yang memungkinkan masyarakat menjalankan aktivitas sosial maupun ekonomi. Dengan kata lain, kemakmuran juga berkaitan dengan bagaimana masyarakat dapat hidup dan beraktivitas dalam lingkungan yang aman serta memiliki ruang kebebasan.

Society

Domain Society menilai kekuatan dan integritas hubungan dalam keluarga, komunitas, masyarakat, serta negara. Legatum menempatkan aspek ini sebagai salah satu fondasi kemakmuran karena pembangunan dan kebebasan saja dinilai belum cukup tanpa masyarakat yang memiliki hubungan sosial yang kuat.

Dalam penghitungan akhirnya, ketiga domain tersebut tidak sekadar dijumlahkan secara sederhana. Legatum menggunakan metode power mean untuk menggabungkan skor dan menetapkan nilai p = -1 pada tiga domain utama. Pendekatan ini membuat kelemahan besar pada salah satu domain dapat membatasi kemampuan sebuah negara untuk memperoleh skor kemakmuran keseluruhan yang tinggi.

Mengapa Negara dengan Indeks Kemakmuran Tinggi Bisa Lebih Makmur?

Negara dengan skor LPI tinggi umumnya memiliki kombinasi yang relatif baik antara pembangunan, kebebasan, dan kekuatan sosial. Namun, perlu ditekankan bahwa skor tinggi tidak berarti secara langsung menyebabkan suatu negara menjadi makmur. LPI merupakan indeks komposit yang menggabungkan banyak indikator, bukan studi sebab-akibat.

Pembangunan, infrastruktur dan layanan publik yang baik dapat membantu masyarakat memperoleh layanan kesehatan, pendidikan, serta standar hidup yang lebih tinggi. Sementara itu, lingkungan ekonomi dan institusi yang mendukung dapat menciptakan kondisi yang lebih kondusif bagi aktivitas masyarakat dan dunia usaha.

Di sisi lain, kebebasan dan kekuatan masyarakat juga dapat menjadi bagian dari fondasi kemakmuran. Hubungan sosial yang kuat dapat membantu membangun ketahanan masyarakat, sedangkan institusi yang berfungsi dengan baik dapat mendukung terciptanya lingkungan yang lebih stabil.

Singapura memperlihatkan bagaimana berbagai faktor tersebut dapat berjalan beriringan. Dalam kajian Legatum, Singapura menonjol pada Standard of Living, Health, Integrity of State, Integrity of Communities, serta Economic Freedom.

Apa Dampak Legatum Prosperity Index bagi Negara-Negara Asia Tenggara?

Menjadi Cermin Kinerja Pembangunan

LPI dapat menjadi salah satu cermin untuk melihat aspek pembangunan yang sudah relatif kuat maupun yang masih membutuhkan perhatian. Pendekatan ini membantu memperluas pembicaraan mengenai pembangunan, sehingga tidak berhenti pada pertumbuhan ekonomi atau pendapatan.

Membantu Evaluasi Kebijakan

Data yang membentuk LPI juga dapat menjadi bahan evaluasi kebijakan. Pemerintah dan pemangku kepentingan dapat melihat berbagai indikator yang berkaitan dengan pendidikan, kesehatan, standar hidup, kebebasan ekonomi, hingga kondisi sosial.

Legatum sendiri menyebut LPI dapat digunakan pembuat kebijakan untuk membantu menentukan agenda pertumbuhan dan pembangunan, sementara peneliti dapat memanfaatkannya untuk mengidentifikasi tren global.

Membandingkan Negara di Kawasan

Bagi Asia Tenggara, pemeringkatan ini memberikan gambaran mengenai posisi relatif negara-negara dalam kawasan. Perbandingan tersebut tidak hanya melihat siapa yang memiliki ekonomi terbesar, tetapi juga siapa yang mampu menciptakan kondisi yang lebih mendukung masyarakat untuk berkembang.

Menjadi Salah Satu Referensi Internasional

LPI telah digunakan oleh berbagai kelompok, mulai dari pembuat kebijakan, diplomat, akademisi, jurnalis, organisasi sosial, hingga pelaku bisnis.

Meski demikian, indeks ini sebaiknya tidak digunakan sebagai satu-satunya dasar untuk menilai kesejahteraan atau daya saing sebuah negara. Legatum sendiri menyatakan bahwa metodologinya ditinjau setiap tahun dan perubahan dalam pengumpulan maupun pengolahan data dapat memengaruhi skor serta peringkat antar-edisi.

Baca Juga: 6 Negara yang Naik Kelas Berdasarkan Pendapatan Menurut Bank Dunia, Ada Vietnam dan Filipina

Sumber:

https://www.prosperityindex.com/rankings?g=40b9710e-c256-4226-b76e-48e388df74b5&b=r

Key Insights

  • Kesenjangan kemakmuran antara Singapura dan negara Asia Tenggara lainnya sangat lebar, ditunjukkan oleh selisih skor 10,80 poin dengan Malaysia yang berada di posisi kedua.
  • Singapura unggul signifikan dalam "Standard of Living, Health, dan Economic Freedom", menunjukkan fokus pada kualitas hidup dan kebebasan ekonomi sebagai pilar kemakmuran.
  • Indonesia menunjukkan kekuatan dalam domain "Society" dan peningkatan "Freedom", menandakan kemajuan dalam aspek sosial dan kebebasan warga.
  • Meskipun berada di peringkat ketiga, Indonesia masih terpaut jauh dari Singapura (41 peringkat) dan Malaysia (17 peringkat) secara global, menunjukkan ruang besar untuk perbaikan.

Penulis: Helni Sadiyah Editor: Muhammad Sholeh

Terima kasih telah membaca sampai di sini

Lupa Sandi?