Nahdlatul Ulama (NU) merupakan salah satu organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia yang telah berdiri sejak 1926. Dalam perjalanan organisasinya, NU dipimpin oleh dua unsur utama dalam struktur Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), yakni Rais Aam dan Ketua Umum.
Seiring pergantian kepengurusan dari masa ke masa, sejumlah ulama dan tokoh NU telah mengemban amanah sebagai Rais Aam maupun Ketua Umum PBNU.
Lantas, siapa saja yang pernah menjabat sebagai Rais Aam dan Ketua Umum PBNU? Berikut daftar lengkapnya dari awal berdirinya NU hingga kepengurusan saat ini.
Perbedaan Ketua Umum dan Rais Aam PBNU
Dalam struktur kepengurusan PBNU, Rais Aam dan Ketua Umum memiliki kedudukan serta tugas yang berbeda.
Rais Aam merupakan pimpinan tertinggi dalam jajaran Syuriyah PBNU, yakni lembaga yang berperan memberikan arahan keagamaan dan menjaga nilai-nilai serta prinsip dasar organisasi.
Sementara itu, Ketua Umum merupakan pimpinan Tanfidziyah PBNU yang bertugas menjalankan kepengurusan dan program organisasi.
Dengan demikian, Rais Aam lebih berkaitan dengan aspek keulamaan dan kebijakan keagamaan, sedangkan Ketua Umum berperan dalam pelaksanaan program serta pengelolaan organisasi.
Dalam sejarah awal NU, jabatan pimpinan tertinggi Syuriyah disebut Rais Akbar. Gelar tersebut digunakan oleh KH Hasyim Asy'ari sejak NU berdiri pada 1926 hingga wafatnya pada 1947. Setelah itu, istilah yang digunakan adalah Rais Aam.
Daftar Rais Aam PBNU
Berikut daftar Rais Aam PBNU dari masa ke masa:
Baca Juga: Negara dengan Populasi Muslim Terbanyak
KH Hasyim Asy’ari menjadi tokoh pertama yang memimpin jajaran Syuriyah sejak NU didirikan pada 1926 dengan gelar Rais Akbar.
Setelah kepemimpinannya berakhir pada 1947, jabatan tersebut diteruskan oleh KH A Wahab Chasbullah sebagai Rais Aam yang kemudian memimpin selama 24 tahun, menjadikannya Rais Aam dengan masa jabatan terpanjang dalam daftar ini.
Selanjutnya, posisi Rais Aam PBNU pernah dijabat oleh KH Bisri Syansuri, KH M Ali Maksum, KH Achmad Siddiq, KH Ali Yafie, dan KH Moh Ilyas Ruhiyat secara berurutan sejak 1971 hingga 1999. Setelah itu, kepemimpinan dilanjutkan oleh KH M A Sahal Mahfudh (1999-2014) dan KH A Mustofa Bisri (2014-2015).
Pada 2015, KH Ma’ruf Amin kemudian menjadi Rais Aam PBNU. Ia mengundurkan diri pada 2018 setelah ditetapkan sebagai calon wakil presiden pada Pilpres 2019.
Setelah pengunduran diri tersebut, posisi Rais Aam diteruskan oleh KH Miftachul Akhyar, yang menjabat sejak 2018 hingga sekarang.
Daftar Ketua Umum PBNU
Berikut daftar Ketua Umum PBNU dari masa ke masa:
KH Hasan Basri Sagipodin atau Hasan Gipo tercatat sebagai Ketua PBNU pertama. Ia memimpin PBNU pada periode 1926-1929 dan mendampingi KH Hasyim Asy’ari yang saat itu menjabat sebagai Rais Akbar.
Setelah Hasan Gipo, kepemimpinan PBNU diteruskan oleh KH Ahmad Noor pada 1929-1937. Selanjutnya, posisi Ketua PBNU dijabat KH Mahfudh Siddiq, KH Nahrawi Tahir, KH Abdul Wahid Hasyim, dan KH Muhammad Dahlan.
Salah satu tokoh dengan masa kepemimpinan terpanjang adalah KH Idham Chalid, yang menjabat Ketua PBNU selama 28 tahun pada periode 1956-1984. Setelah itu, kepemimpinan dilanjutkan oleh KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur hingga 1999.
Pada periode berikutnya, PBNU dipimpin KH Ahmad Hasyim Muzadi pada 1999-2010 dan Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj, M.A. pada 2010-2021. Kemudian, KH Yahya Cholil Staquf menjadi Ketua PBNU untuk periode 2022 hingga saat ini.
Baca Juga: Jumlah Santri di Indonesia Turun Hampir 74% pada Semester Ganjil 2026/2027
Sumber:
https://www.instagram.com/p/CoB3-CvP2nN/?utm_source=ig_web_copy_link&igsi=NTc4MTIwNjQ2YQ==
https://banten.nu.or.id/nasional/berikut-rais-aam-dan-ketua-pbnu-dari-awal-hingga-kini-QdoAI