Nasional

Berapa Luas Lumpur Lapindo Jika Dibandingkan dengan Kawasan Monas?

Luas genangan Lumpur Lapindo saat ini mencapai 650 ha atau setara delapan kali luas kawasan Monas di Jakarta.

Berapa Luas Lumpur Lapindo Jika Dibandingkan dengan Kawasan Monas?

Lumpur Lapindo 2007 | The original uploader was Arifhidayat at English Wikipedia/Wikimedia Commons

Puluhan tahun lalu, sebuah insiden terjadi di salah satu wilayah di Jawa Timur dan kemudian berkembang menjadi bencana lingkungan yang masih aktif hingga saat ini. Bencana tersebut dikenal sebagai Lumpur Lapindo atau banjir lumpur panas Sidoarjo. Berlokasi di Kecamatan Porong, bencana ini telah menenggelamkan 19 desa di tiga kecamatan, termasuk pabrik, jalan tol Surabaya–Gempol, lahan produktif masyarakat, hingga jalur kereta api.

Lumpur Lapindo mulai menyemburkan air panas sejak 29 Mei 2006. Semburan tersebut juga mengandung material vulkanik berupa lumpur serta berbagai jenis gas berbahaya. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengendalikan luapannya adalah pembangunan tanggul. Selain itu, pemerintah juga membentuk Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo.

Lantas, seberapa luas semburan Lumpur Lapindo saat ini?

Baca Juga: Jumlah Kejadian Bencana di Indonesia Semester I 2026

Luas kawasan Lumpur Lapindo mencapai sekitar 650 hektare (ha) atau 6,5 km². Sementara itu, luas kawasan Monumen Nasional (Monas) sendiri sekitar 80 ha. Jika dibandingkan, maka luasan Lumpur Lapindo saat ini setara dengan 8,1 kali luas kawasan Monas.

Produksi lumpur yang tidak kunjung berhenti selama puluhan tahun juga sesekali menimbulkan rembesan di sekitar tanggul. Hal ini semakin diperparah dengan penurunan muka tanah di sekitarnya yang terjadi setiap tahunnya.

Terkait penyebabnya, terdapat perdebatan yang terbagi dalam dua pandangan. Pertama, sebagian berpendapat bencana Lumpur Lapindo merupakan fenomena alam yang dipicu oleh patahan akibat gempa Yogyakarta berkekuatan 6,3 SR yang terjadi dua hari sebelum semburan terjadi. Bencana tersebut menjadi salah satu gempa terbesar di Indonesia sampai 2018.

Di sisi lain, ada pula yang percaya Lumpur Lapindo terjadi akibat aktivitas pengeboran gas alam oleh salah satu perusahaan pada dua dekade silam.

Bagaimana Kondisi Masyarakat yang Terdampak?

Berdasarkan informasi dari situs BBC News Indonesia, sejak 2010 silam, sekitar 600 keluarga pindah ke permukiman di Desa Kedungsolo, Kecamatan Porong. Wilayah ini berjarak sekitar 6 km dari pusat semburan Lumpur Lapindo, tepatnya di arah barat daya.

Meskipun telah mendapatkan ganti rugi, beberapa masyarakat tetap harus berjuang untuk mendapatkan pekerjaan. Kondisi ini dilatarbelakangi oleh hilangnya mata pencaharian masyarakat akibat tragedi tersebut. Selain kerugian materi, korban bencana Lumpur Lapindo juga mengalami dampak psikologis, seperti trauma, depresi, sampai kecemasan.

Baca Juga: Dari Aceh hingga Palu, Ini 6 Gempa Terbesar yang Pernah Terjadi di Indonesia

Sumber:

https://www.instagram.com/p/DZ9oQLEgYXq/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=NTc4MTIwNjQ2YQ==

Penulis: Alifia Ayu Fitriana Editor: Editor

Terima kasih telah membaca sampai di sini

Lupa Sandi?