Harga Minyak Goreng Melonjak Naik Hampir Sentuh Rp22 Ribu per Liter, Ini Penyebabnya

Harga minyak goreng naik dan hampir menyentuh Rp22.000 per liter. Simak data terbaru SP2KP Kemendag, perbandingan harga nasional, serta penyebab kenaikannya.

Harga Minyak Goreng Melonjak Naik Hampir Sentuh Rp22 Ribu per Liter, Ini Penyebabnya Ilustrasi Minyak Goreng | P. L./Unsplash
Ukuran Fon:

Harga minyak goreng naik kembali menjadi sorotan publik dalam beberapa hari terakhir. Melansir dari laman Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan 2026, rata-rata harga minyak goreng kemasan premium kini sudah mendekati angka Rp22.000 per liter.

Kenaikan ini terjadi secara bertahap dan mulai dirasakan masyarakat, terutama pada produk kemasan yang semakin sulit dijangkau dari sisi harga maupun ketersediaan.

Kondisi ini tidak hanya terjadi pada minyak kemasan premium, tetapi juga merambat ke minyak goreng curah dan Minyakita. Meski kenaikannya relatif tipis, tren yang terjadi menunjukkan adanya tekanan harga yang cukup konsisten di pasar dalam negeri.

Baca Juga: Negara dengan Produksi Minyak Terbesar 2026, Ada Indonesia?

Kenaikan Harga Minyak Goreng dan Perbandingan Terbaru

Berdasarkan data terbaru, terjadi kenaikan harga harian pada beberapa jenis minyak goreng, yang mencerminkan rata-rata nasional. Berikut harga rata-rata nasional terhadap beberapa jenis minyak:

Rata-Rata Nasional Harga Minyak Goreng | GoodStats
Rata-Rata Nasional Harga Minyak Goreng | GoodStats

Tabel di atas menunjukkan pergerakan harga rata-rata nasional minyak goreng dalam dua hari terakhir. Minyak goreng kemasan premium mengalami kenaikan dari Rp21.755 menjadi Rp21.796 per liter, atau naik sekitar 0,19 persen.

Kenaikan ini menandakan bahwa secara nasional harga minyak premium mulai mendekati ambang Rp22.000 per liter.

Untuk minyak goreng curah, kenaikan yang terjadi jauh lebih kecil, yakni dari Rp19.467 menjadi Rp19.473 per liter atau sekitar 0,03 persen. Hal ini menunjukkan bahwa harga minyak curah masih relatif stabil dan belum mengalami tekanan signifikan.

Sementara itu, Minyakita justru mengalami penurunan tipis dari Rp15.980 menjadi Rp15.942 per liter. Penurunan ini memperlihatkan bahwa program stabilisasi harga masih berjalan, sehingga Minyakita tetap menjadi opsi paling terjangkau di tingkat nasional.

Selain kenaikan harian, jika dilihat dalam skala mingguan, rentang harga minyak goreng di berbagai wilayah masih menunjukkan disparitas yang cukup lebar.

Perbandingan Rentang Harga Minyak Goreng Mingguan | GoodStats
Perbandingan Rentang Harga Minyak Goreng Mingguan | GoodStats

Jika ditelusuri lebih rinci, minyak goreng kemasan premium memiliki rentang harga paling lebar. Wilayah termurah berada di Kepulauan Riau dengan harga Rp19.917 per liter, sedangkan wilayah termahal berada di Papua Pegunungan yang mencapai Rp37.000 per liter.

Untuk minyak goreng curah, harga terendah tercatat di Bengkulu sebesar Rp15.000 per liter, sementara harga tertinggi berada di DKI Jakarta yang mencapai Rp21.555 per liter pada periode minggu ke-17.

Sementara itu, Minyakita menunjukkan kestabilan harga yang lebih baik. Wilayah termurah berada di Kepulauan Bangka Belitung dengan harga sekitar Rp15.425 per liter, sedangkan harga tertinggi tercatat di Papua Tengah yang mencapai Rp18.850 per liter.

Perbedaan harga antarwilayah ini menunjukkan bahwa faktor distribusi dan logistik masih menjadi penyebab utama tingginya disparitas harga, terutama di kawasan Indonesia timur.

Faktor Penyebab dan Perubahan Pola Konsumsi

Kenaikan harga minyak goreng kali ini tidak sepenuhnya dipicu oleh bahan baku minyak sawit mentah (CPO), melainkan dari sisi kemasan. Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkapkan bahwa lonjakan harga plastik menjadi faktor utama naiknya harga minyak goreng kemasan premium.

Pasokan bahan baku plastik seperti nafta mengalami gangguan akibat distribusi global yang terhambat, termasuk dampak dari penutupan jalur strategis di kawasan Timur Tengah.

Hal ini membuat biaya produksi meningkat dan akhirnya berdampak pada harga jual di tingkat konsumen.

Pemerintah saat ini tengah mengupayakan impor bahan baku plastik dari negara alternatif seperti India, Afrika, dan Amerika Serikat guna menekan biaya produksi.

Selain itu, kelancaran distribusi juga menjadi faktor penting agar harga dapat segera menyesuaikan ketika kondisi kembali normal.

Di sisi lain, perubahan pola konsumsi masyarakat juga mulai terlihat. Minyak goreng kemasan ukuran 2 liter kini lebih banyak tersedia di pasaran, sementara ukuran 1 liter mulai sulit ditemukan.

Kondisi ini diduga sebagai strategi produsen dalam menyesuaikan biaya produksi sekaligus menjaga margin keuntungan.

Meski demikian, Minyakita masih menjadi pilihan utama masyarakat karena harganya relatif terjangkau. Namun, jika tekanan biaya terus berlanjut, bukan tidak mungkin harga seluruh jenis minyak goreng akan ikut terdampak.

Secara keseluruhan, kenaikan harga minyak goreng saat ini menunjukkan bahwa faktor eksternal seperti biaya kemasan dan distribusi memiliki pengaruh besar. Jika rantai pasok kembali stabil, harga minyak goreng berpotensi ikut terkendali dalam waktu dekat.

Bacaa Juga: Nasional Harga LPG Naik 18,75%, Simak Harga LPG Terbaru dan Dampaknya

Sumber:

https://sp2kp.kemendag.go.id/

Penulis: Raka Adichandra
Editor: Firda Wandira

Konten Terkait

10 Bank dengan Aset Terbesar di Indonesia, Siapa di Urutan Pertama?

Cek daftar 10 bank dengan aset terbesar di Indonesia lengkap dengan nilai aset yang fantastis. Siapakah yang paling mendominasi di industri perbankan Indonesia?

Utang Pinjol Warga RI Tembus Rp100 Triliun per Februari 2026

Utang pinjol warga Indonesia tembus Rp100,69 triliun pada Februari 2026, naik 25% dibanding tahun lalu.

Terima kasih telah membaca sampai di sini

atau

Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.

Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook