Perkembangan teknologi digital membuat keamanan siber atau cyber security menjadi salah satu perhatian penting bagi negara-negara di Asia Tenggara. Berbagai jenis serangan siber terus berkembang, mulai dari penipuan digital hingga serangan terhadap infrastruktur penting.
Kondisi keamanan siber Asia Tenggara di setiap negara pun berbeda. Berdasarkan National Cyber Security Index (NCSI) 2025, Singapura mencatat indeks keamanan siber tertinggi di Asia Tenggara. Lantas, bagaimana posisi Indonesia dan negara Asia Tenggara lainnya?
Apa Saja Jenis Serangan Siber di Asia Tenggara?
Ancaman keamanan siber Asia Tenggara semakin beragam seiring dengan meningkatnya aktivitas digital di kawasan ini. Beberapa jenis serangan siber Asia Tenggara yang menjadi perhatian pada 2025 antara lain:
1. Scam-as-a-Service
Scam-as-a-Service menjadi salah satu fenomena yang berkembang di Asia Tenggara. Layanan penipuan siber terorganisir ini dikaitkan dengan kompleks perbudakan siber di wilayah perbatasan Myanmar, Kamboja, dan Laos.
Operasinya melibatkan korban perdagangan manusia untuk menjalankan penipuan digital dalam skala besar.
2. Eksploitasi QR Code
Serangan melalui QR code mulai menyebar di Asia Tenggara pada 2025. Pelaku dapat mengganti QR code resmi dengan kode yang mengarahkan pengguna ke situs phishing atau mengunduh malware.
Kaspersky melaporkan serangan berbasis QR code di kawasan ASEAN meningkat 40% pada semester I 2025.
3. Serangan terhadap Infrastruktur Finansial Digital
Pertumbuhan layanan keuangan digital turut meningkatkan risiko serangan siber terhadap sektor fintech. Lebih dari 50% konsumen di Thailand, Filipina, Malaysia, Indonesia, dan Singapura dilaporkan pernah menghadapi skema penipuan siber setidaknya sekali dalam seminggu.
4. Spionase Siber Geopolitik
Ketegangan geopolitik di kawasan juga menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan ancaman spionase siber. Pada 2024–2025, serangan terhadap negara-negara ASEAN yang dikaitkan dengan hacker yang terhubung dengan pemerintah China dilaporkan meningkat 20%.
Serangan tersebut menargetkan server pemerintah untuk memperoleh informasi diplomatik dan militer yang sensitif di sejumlah negara, termasuk Tailan, Malaysia, Vietnam, Indonesia, dan Myanmar.
Baca Juga: Daftar Serangan Siber yang Dialami Lembaga Pendidikan Indonesia
Sektor yang Rentan Terkena Serangan Siber di Asia Tenggara
Kejahatan siber Asia Tenggara tidak hanya menyasar individu, tetapi juga berbagai sektor organisasi. Berdasarkan Check Point Cyber Security Report 2026, berikut jumlah rata-rata serangan per minggu yang tercatat pada berbagai sektor di kawasan pada 2025:
Pendidikan menjadi sektor dengan rata-rata serangan siber tertinggi, yakni 7.648 serangan per organisasi setiap minggu. Berikutnya, sektor pemerintahan mencatat 4.894 serangan dan telekomunikasi sebanyak 4.686 serangan.
Hardware dan semikonduktor berada di urutan keempat dengan 4.006 serangan, disusul kesehatan dan medis sebanyak 3.489 serangan. Selanjutnya, sektor otomotif mencatat 3.263 serangan per minggu, hotel, perjalanan, dan rekreasi sebanyak 3.184 serangan, serta energi dan utilitas sebanyak 3.147 serangan.
Industri manufaktur berada di urutan kesembilan dengan 3.060 serangan, sementara konstruksi dan teknik melengkapi daftar 10 besar dengan 3.024 serangan per minggu. Data ini menunjukkan bahwa sektor yang berkaitan dengan layanan publik, data pengguna, serta infrastruktur informasi menjadi yang paling rentang terkena serangan siber.
Negara di Asia Tenggara dengan Keamanan Siber Tertinggi
Perbedaan tingkat keamanan siber antarnegara Asia Tenggara dapat dilihat melalui National Cyber Security Index (NCSI) 2025. Indeks ini mencatat skor keamanan siber dari 10 negara ASEAN.
Baca Juga: 330 Kasus Serangan Siber Ancam Indonesia 2024
Singapura mencatat skor indeks cyber security tertinggi di Asia Tenggara dengan nilai 85. Malaysia menyusul dengan skor 72,50, kemudian Tailan sebesar 64,94. Ketiganya menjadi negara dengan keamanan siber terbaik di kawasan Asia Tenggara.
Di bawah tiga negara tersebut, Filipina berada di posisi keempat dengan skor 55,83, sementara Indonesia menempati posisi kelima dengan skor 47,50. Adapun Brunei mencatat 41,56, Vietnam 36,36, Laos 29,17, Kamboja 24,17, dan Myanmar 21,67.
Perbedaan skor ini menunjukkan adanya jarak yang cukup lebar dalam tingkat kesiapan keamanan siber antarnegara Asia Tenggara, dengan skor cyber security Indonesia masih terpaut 37,50 poin dari Singapura.
Apa Saja Regulasi Siber di Asia Tenggara?
Keamanan siber di Asia Tenggara juga diperkuat melalui kerja sama regional. ASEAN menjadi salah satu wadah bagi negara-negara anggotanya untuk meningkatkan kesiapan dan kapasitas menghadapi ancaman di ruang digital.
Beberapa langkah kerja sama dan regulasi siber Asia Tenggara antara lain:
1. ASEAN Cybersecurity Cooperation Strategy 2021–2025
Strategi ini menjadi pedoman kerja sama keamanan siber Asia Tenggara yang mencakup lima dimensi utama, yaitu meningkatkan kerja sama kesiapan siber, memperkuat koordinasi kebijakan siber regional, meningkatkan kepercayaan di ruang siber, mengembangkan kapasitas di tingkat regional, serta memperkuat kerja sama internasional.
2. ASEAN Regional CERT Framework
Kerangka ini menjadi dasar kerja sama tanggap insiden siber di tingkat regional. Pada 10 Juni 2024, seluruh 10 negara anggota ASEAN menandatangani ASEAN Cybersecurity Emergency Response Team (CERT) Framework dan ASEAN Cybersecurity Capacity Building Programme (ACCP).
ASEAN CERT kemudian mulai beroperasi secara fisik di Singapura pada 16 Oktober 2024 sebagai bagian dari upaya memperkuat koordinasi dalam menghadapi insiden siber di kawasan Asia Tenggara.
Baca Juga: Bagaimana Pemahaman Publik Indonesia akan Ancaman Digital 2025?
Sumber:
https://bpsdm.komdigi.go.id/upt/yogyakarta/downloads/5/20260909113731-Buklet-Cyber-Security-2026.pdf