Industri Teknologi

Serangan Siber di Indonesia Makin Marak, Daerah Mana yang Paling Banyak Menyerang?

Serangan siber terus mengancam Indonesia. Tapi, dari mana serangan tersebut berasal dan jenis apa yang paling banyak ditemukan sepanjang 2025? Simak selengkapny

Serangan Siber di Indonesia Makin Marak, Daerah Mana yang Paling Banyak Menyerang?

Ilustrasi Serangan Siber I Rafael Minguet Delgado/Pexels

Indonesia terus menerus mendapatkan serangan siber sepanjang tahun 2025 dengan jumlah serangan mencapai jutaan. BPSDM Komdigi mencatat sebanyak 133,4 juta serangan siber pada semester awal 2025. Serangan meningkat menjadi 234,5 juta di semester 2.

Serangan Siber di Indonesia Sepanjang Tahun 2025

Terjadi lonjakan serangan siber di Indonesia pada Desember 2025.
Terjadi lonjakan serangan siber di Indonesia pada Desember 2025.

Pada Januari, terdapat 9,6 juta serangan siber dan meningkat pada Februari menjadi 12,5 juta. Serangan siber meningkat pada Maret menjadi 22,08 juta dan terus meningkat pada April menjadi 23,4 juta.

Jumlah serangan sempat menurun pada Mei menjadi 20,7 juta. Namun, melonjak dua kali lipat pada Juni menjadi 45 juta.

Pada Juli, terjadi penurunan serangan siber menjadi 29,7 juta dan kembali meningkat pada Agustus menjadi 37,8 juta. Serangan menurun pada September dan Oktober menjadi 33,3 juta dan 18,6 juta.

Serangan kembali meningkat pada November menjadi 24,4 juta. Pada Desember terjadi peningkatan serangan yang sangat jauh mencapai 90,5 juta.

Baca Juga: 330 Kasus Serangan Siber Ancam Indonesia 2024

Jenis Serangan Siber Apa yang Paling Mendominasi?

Serangan siber di Indonesia pada 2025 didominasi oleh serangan manipulasi protokol jaringan.
Serangan siber di Indonesia pada 2025 didominasi oleh serangan manipulasi protokol jaringan.

Manipulasi protokol jaringan menjadi jenis serangan yang mendominasi dengan persentase 47 persen. Jenis serangan paling banyak kedua adalah pengambilalihan hak admin mencapai 37 persen.

Ketiga adalah pemindaian dan pengintaian dengan persentase serangan 16 persen. Di urutan keempat ada kebocoran informasi dengan persentase 3,6 persen. 

Di urutan kelima ada misc attach (HTTP) dengan persentase serangan 2 persen.

Kota di Indonesia dengan Serangan Siber Terbanyak

Catatan BPSDM Komdigi menunjukkan kota Tangerang dan Yogyakarta sebagai kota dengan serangan siber terbanyak. Tangerang mendapat 0,2 persen serangan pada semester awal 2025, tetapi meningkat menjadi 19,13 persen pada semester 2.

Sementara itu Yogyakarta mendapat 6,19 persen serangan siber pada semester awal. Kemudian, meningkat menjadi 15,98 persen pada semester 2 tahun 2025.

Baca Juga: Daftar Serangan Siber yang Dialami Lembaga Pendidikan Indonesia

Daerah Penyerang Terbanyak di Indonesia

Jakarta menjadi kota dengan penyerang siber terbanyak.
Jakarta menjadi kota dengan penyerang siber terbanyak.

Jakarta tercatat sebagai kota penyerang siber terbanyak yakni 30.38 persen dari total serangan pada semester awal 2025. Namun, persentase ini menurun pada semester 2 menjadi 19,6 persen.

Sebagai kota paling banyak menerima serangan siber, Tangerang juga sekaligus menjadi kota penyerang siber terbanyak kedua dengan persentase 0,64 persen pada semester awal 2025 dan meningkat menjadi 10,24 persen pada semester 2.

Baca Juga: Bagaimana Pemahaman Publik Indonesia akan Ancaman Digital 2025?

Bandung berada pada urutan ketiga dengan persentase 10,75 persen pada semester awal, dan menurun pada semester 2 menjadi 2,07 persen.

Yogyakarta turut menjadi daerah penyerang siber dengan 0,24 persen pada semester awal. Meningkat menjadi 5,72 persen pada semester 2 tahun 2025.

Terakhir ada Bekasi dengan 0,77 persen serangan pada semester awal, dan meningkat menjadi 2,29 persen pada semester 2 tahun 2025.

Sumber: https://bpsdm.komdigi.go.id/upt/yogyakarta/downloads/5/20260909113731-Buklet-Cyber-Security-2026.pdf

Key Insights

  • Total serangan siber yang mencapai 367,9 juta di tahun 2025 menunjukkan eskalasi ancaman keamanan siber yang signifikan di Indonesia.
  • Lonjakan serangan siber dua kali lipat pada Juni (45 juta) dan hampir empat kali lipat pada Desember (90,5 juta) mengindikasikan pola musiman atau target spesifik yang perlu diwaspadai.
  • Dominasi manipulasi protokol jaringan (47%) dan pengambilalihan hak admin (37%) menunjukkan bahwa penyerang menargetkan celah fundamental dalam infrastruktur jaringan dan sistem otentikasi.
  • Pergeseran drastis pada Tangerang dari 0,2% menjadi 19,13% sebagai kota penerima serangan siber terbanyak di semester kedua menunjukkan adanya target baru atau peningkatan kerentanan di wilayah tersebut.
  • Fakta bahwa Jakarta dan Tangerang menjadi kota penyerang sekaligus target serangan siber mengindikasikan potensi adanya jaringan botnet lokal atau serangan "man-in-the-middle" yang kompleks.

Penulis: Linda Lestari • Editor: Firda Wandira

Terima kasih telah membaca sampai di sini

Lupa Sandi?