Simak Ragam Makna Ramadan 2026 bagi Publik RI

Mayoritas publik RI memaknai Ramadan 2026 sebagai momen untuk memperdalam iman dan refleksi diri, dengan persentase mencapai 62%.

Simak Ragam Makna Ramadan 2026 bagi Publik RI Ilustrasi umat muslim mendengar ceramah di masjid | Alim/Unsplash
Ukuran Fon:

Dalam menghadapi momen Ramadan 2026, publik Indonesia memiliki beragam persepsi dalam memaknainya. Tidak hanya dipandang sebagai kewajiban menjalankan ibadah puasa, momentum sekali setahun ini juga dianggap sarat nilai spiritual dan sosial, terutama bagi umat Muslim yang menjalankannya.

Berdasarkan survei YouGov, sebanyak 62% publik RI memaknai Ramadan 2026 sebagai waktu untuk memperdalam iman dan refleksi diri. Hal ini menjadikannya sebagai pilihan mayoritas responden dalam memandang bulan suci Ramadan.

6 dari 10 publik Indonesia memandang Ramadan 2026 sebagai momen memperdalam iman dan refleksi diri | GoodStats
Sebanyak 6 dari 10 publik Indonesia memandang Ramadan 2026 sebagai momen memperdalam iman dan refleksi diri | GoodStats

Dengan angka yang lebih kecil, sebanyak 51% responden menilai Ramadan sebagai waktu untuk mempererat kebersamaan dengan keluarga. Hal ini selaras pula dengan hasil survei GoodStats pada laporan bertajuk Survei Pola Perilaku Masyarakat Saat Ramadan dan Idulfitri 2025.

Survei tersebut menyatakan bahwa lebih dari separuh publik memiliki rencana untuk mudik dan bertemu keluarga masing-masing jelang Idulfitri, yaitu dengan angka 54,2%.

Bahkan ketika ditanya terkait waktu untuk berangkat mudik, mayoritas responden memilih berangkat sejak 4 hingga 7 hari sebelum lebaran atau pada minggu ke-3 bulan Ramadan, yaitu sebesar 22,2%. Pilihan ini dilakukan untuk meningkatkan waktu bersama sanak saudara.

Baca Juga: Survei GoodStats: Ragam Tren & Tradisi Publik RI di Ramadan-Lebaran 2025

Kembali ke survei YouGov, sebesar 39% lainnya mengaitkan Ramadan 2026 dengan semangat sedekah dan saling berbagi dengan sesama.

Sementara itu, terdapat sebagian kecil responden yang memilih jawaban lain dengan persentase di bawah 10%. Persepsi bahwa Ramadan dijadikan sebagai waktu untuk merayakan tradisi dan budaya dipilih oleh 7% responden.

Dari sisi internal individu, Ramadan 2026 juga dimaknai sebagai momen untuk memperlambat aktivitas dan recharge diri bagi 6% publik, diikuti oleh 5% responden yang berpendapat bahwa Ramadan adalah waktu yang tepat untuk melakukan kegiatan sosial.

Di samping itu, terdapat 5% suara yang menyebut persepsi lainnya yang tidak terdapat dalam daftar, menandakan bahwa sebagian kecil publik memiliki interpretasi yang lebih beragam terhadap makna Ramadan.

Bagaimana Rencana Ibadah Publik Indonesia selama Ramadan 2026?

Ketika ditanya terkait ekspektasi ibadah selama bulan puasa, sebanyak 73% publik RI menyatakan positif bahwa intensitas aktivitas religiusnya akan meningkat jika dibandingkan dengan bulan biasa.

7 dari 10 publik Indonesia bertekad akan meningkatkan ibadah pada periode Ramadan 2026
Sebanyak 7 dari 10 publik Indonesia bertekad akan meningkatkan ibadah pada periode Ramadan 2026

Menariknya, persentase ini tidak jauh berbeda jika dibandingkan negara dengan basis Islam besar lainnya yang juga disurvei. Arab Saudi memimpin dengan angka 78%, sebagai negara yang paling optimis bahwa intensitas ibadahnya akan meningkat pada bulan Ramadan.

Sementara itu, Turki dan Uni Emirat Arab masing-masing mengantongi 74% suara, hanya berselisih 1% dibandingkan Indonesia.

Negara kelima yang disurvei, Malaysia memiliki proporsi suara terkecil. Hanya 58% responden yang menyatakan akan meningkatkan ibadahnya ketika memasuki bulan puasa.

Kendati demikian, terdapat 25% publik RI lainnya yang mengatakan bahwa intensitas kegiatan keagamaannya tidak akan berubah dan tetap sama, baik ketika Ramadan maupun saat biasanya.

Tidak hanya itu, juga ada sebagian kecil responden yang menilai bahwa ibadahnya justru akan menurun saat bulan suci, yaitu dengan proporsi 2%.

Peningkatan intensitas ibadah selama Ramadan juga sejalan dengan pandangan para ulama mengenai keutamaan bulan suci. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf menegaskan bahwa Ramadan merupakan momentum pembinaan spiritual yang tidak hanya bersifat ritual, tetapi juga berdampak pada pembentukan karakter dan kepedulian sosial umat.

“Memperbanyak bacaan Alquran, zikir, beribadah dengan penuh kekhusyukan, dan berbagai aktivitas sosial yang bermanfaat,” imbaunya ketika mengumumkan penetapan awal Ramadan 1446 Hijriah lalu di Jakarta, Jumat (28/2/2025).

Pengumpulan data dalam survei ini dilakukan menggunakan metode kuantitatif melalui YouGov Surveys: Serviced yang melibatkan 6.308 responden yang berasal dari lima negara, mencakup Indonesia, Malaysia, Turki, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Adapun responden dari Indonesia sejumlah 2.149 orang. Pengumpulan data dilakukan pada 27 November – 3 Desember 2025.

Baca Juga: Dominasi Iklan Sirup di Bulan Ramadan, Marjan Jadi Minuman Terlaris

Sumber:

https://yougov.com/articles/54011-ramadan-2026-consumer-insights-5-key-findings-across-indonesia-malaysia-saudi-arabia-turkiye-and-the-uae

Penulis: Shahibah A
Editor: Editor

Konten Terkait

Rata-Rata Upah Buruh Indonesia Rp3,3 Juta, Ini Lapangan Usaha dengan Gaji Tertinggi

Informasi dan komunikasi jadi lapangan usaha dengan rata-rata gaji tertinggi mencapai Rp5,17 juta, disusul aktivitas keuangan sebesar Rp4,97 juta.

Siap-Siap, 43% Publik RI Rencana Mudik 2-6 Hari Sebelum Idulfitri 2026

Mayoritas publik Indonesia akan mudik mendekati Idulfitri. Pemerintah terapkan WFA untuk antisipasi arus mudik.

Terima kasih telah membaca sampai di sini

atau

Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.

Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook