Keluarga Jadi Penyebab Utama Gangguan Kecemasan Selama Ramadan 2025

Sebanyak 58% kasus gangguan kecemasan selama Ramadan 2025 ternyata didorong konflik dan tekanan relasi keluarga.

Keluarga Jadi Penyebab Utama Gangguan Kecemasan Selama Ramadan 2025 Ilustrasi Berbuka Puasa | Getty Images
Ukuran Fon:

Bulan Ramadan kerap dipersepsikan sebagai momen penuh ketenangan, refleksi diri, dan kebersamaan. Namun di balik nuansa spiritual tersebut, sebagian masyarakat justru mengalami tekanan psikologis yang meningkat. Sepanjang Ramadan 2025, Halodoc mencatat adanya kenaikan jumlah konsultasi terkait gangguan kecemasan secara bertahap.

Pada minggu pertama, kenaikan mencapai 17%, lalu mencapai puncaknya pada minggu ketiga sebesar 27%.

“Kecenderungan ini menandakan bahwa beban psikologis masyarakat tidak hanya muncul pada fase awal adaptasi, tetapi berkembang menjadi tekanan emosional kumulatif akibat kelelahan, peningkatan aktivitas sosial, serta persiapan ekonomi menjelang Idulfitri,” tulis Halodoc dalam laporannya.

Sayangnya, konflik dan tekanan dalam keluarga menjadi penyebab utama gangguan kecemasan selama Ramadan 2025, dengan persentase mencapai 58%. Angka ini menunjukkan bahwa interaksi keluarga yang seharusnya menjadi sumber dukungan emosional dalam banyak kasus justru memicu stres. Perbedaan pandangan, ekspektasi sosial, hingga intensitas interaksi yang meningkat selama Ramadan dapat memperbesar potensi konflik.

Konflik dan tekanan keluarga jadi sumber utama gangguan kecemasan pada Ramadan 2025 | GoodStats
Konflik dan tekanan keluarga jadi sumber utama gangguan kecemasan pada Ramadan 2025 | GoodStats

Baca Juga: Survei GoodStats: Bagaimana Publik Indonesia Rayakan Ramadan & Idulfitri 2025?

Di posisi kedua, luka emosional menyumbang 16% sebagai faktor pemicu kecemasan. Luka ini bisa berasal dari pengalaman masa lalu, relasi yang belum pulih, hingga trauma personal yang kembali muncul di tengah suasana Ramadan yang sarat refleksi dan introspeksi diri.

Ramadan juga membawa perubahan signifikan pada rutinitas harian. Perubahan pola hidup, seperti jam tidur yang bergeser, pola makan yang berubah, dan tuntutan aktivitas ibadah, tercatat memicu gangguan kecemasan dengan kontribusi 11%. Sementara itu, tekanan ekonomi menyumbang 10%, seiring meningkatnya kebutuhan rumah tangga, biaya berbuka, hingga persiapan Idulfitri.

Terakhir, meski persentasenya paling kecil, rasa kesepian tetap menjadi faktor yang relevan dengan kontribusi 5%. Bagi individu yang jauh dari keluarga, kehilangan orang terdekat, atau kurang memiliki dukungan sosial, Ramadan justru dapat memperkuat perasaan terisolasi.

Adapun laporan ini disusun menggunakan data internal yang mencakup jutaan interaksi layanan kesehatan yang terjadi di platform Halodoc, meliputi konsultasi dokter, pembelian produk kesehatan, dan layanan homecare. Analisis dikhususkan untuk pasien berusia di atas 12 tahun dari seluruh wilayah Indonesia. Data dikumpulkan dalam rentang 18 minggu, dengan rincian 6 minggu sebelum Ramadan, 2 minggu menjelang Ramadan, 4 minggu selama Ramadan, dan 6 minggu setelah Ramadan.

Baca Juga: Ragam Tren & Tradisi Publik RI di Ramadan-Lebaran 2025

Sumber:

https://health.halodoc.com/indonesia-health-insights-2026q1/

Penulis: Agnes Z. Yonatan
Editor: Editor

Konten Terkait

Perbandingan Pendidikan STEM Indonesia vs ASEAN 2025

Studi Muda Bicara membedah perbandingan lulusan STEM ASEAN memakai indikator kuantitatif pendidikan, riset, dan serapan industri.

Media Sosial Favorit Gen Z 2025

Bukan TikTok, WhatsApp dan Instagram jadi media sosial favorit Gen Z pada 2025.

Terima kasih telah membaca sampai di sini

atau

Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.

Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook