Indonesia merupakan salah satu produsen kelapa terbesar di dunia, dengan produksi mencapai sekitar 2,89 juta ton per tahun atau 24% dari total produksi global. Besarnya volume produksi menjadikan kelapa sebagai salah satu bahan yang paling sering digunakan dalam ragam masakan khas Indonesia.
Hidangan berbasis kelapa dapat ditemui di mana pun, termasuk pada masakan rumahan yang diolah ibu rumah tangga (IRT). Variasi hidangan yang disajikan juga beragam, mulai dari manis hingga gurih, semuanya menawarkan cita rasa yang khas dan lezat. Oleh karena itu, ragam jenis olahan kelapa sangat dibutuhkan untuk menghasilkan hidangan yang penuh cita rasa.
Lembaga survei Kelompok Diskusi dan Kajian Publik Indonesia (KedaiKOPI) merilis riset bertajuk Riset Ekonomi: Survei Kondisi Kebutuhan Kelapa di Indonesia dengan mewawancarai 400 responden dan 200 di antaranya adalah IRT.
Riset yang dilakukan secara tatap muka di enam kota pada 24 November-1 Desember 2025 dengan metode stratified random sampling menunjukkan olahan kelapa apa saja yang dipakai oleh IRT, berikut rinciannya.
Baca Juga: Indonesia Rajai Ekspor Kelapa di Dunia 2024
Santan parut segar menempati posisi teratas sebagai olahan kelapa favorit di kalangan IRT, dengan tingkat penggunaan mencapai 53,5%. Temuan ini menunjukkan bahwa responden menyukai bahan yang minim proses pengolahan karena dianggap mampu memberikan cita rasa gurih yang lebih alami.
Di posisi berikutnya, 49,5% responden memakai santan cair kemasan atau instan untuk memasak, menegaskan bahwa responden mengutamakan kepraktisan dalam memasak. Selanjutnya, kelapa parut juga populer digunakan oleh 29% responden.
Menariknya, kelapa utuh masuk ke dalam daftar empat besar dengan 10%. Jenis olahan kelapa yang paling banyak digunakan selanjutnya adalah air kelapa dengan 7,5% dan gula kelapa sebanyak 2%.
Jenis olahan kelapa yang juga digunakan untuk memasak dan konsumsi di kalangan konsumen IRT, antara lain daging kelapa (1,5%), tepung kelapa (1%), dan minyak kelapa/VCO (1%). Secara keseluruhan, santan masih menjadi produk yang paling banyak dipakai oleh IRT dengan rata-rata 1 sampai 2 liter per minggu.
Harga Kelapa Saat Ini
Pada awal 2026, harga kelapa dan produk olahannya berpotensi mengalami lonjakan, terutama menjelang Ramadan dan Lebaran. Hal ini diakibatkan oleh peningkatan ekspor besar-besaran, sehingga berpotensi mengubah pola konsumsi kelapa, santan, dan produk olahannya di tingkat konsumen IRT.
Dalam riset yang sama, sebagian IRT juga telah mengungkapkan dampak kenaikan harga kelapa, mulai dari pengeluaran untuk makan meningkat, pengurangan penggunaan santan, hingga mencari alternatif santan.
Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI), Tulus Abadi mengemukakan bahwa pemerintah perlu menerapkan kebijakan yang komprehensif untuk mencegah kenaikan harga kelapa dan penurunan kesehatan anak.
“Ketika inflasi tinggi, daya beli masyarakat menjadi tergerus dan kemudian itu mengancam kualitas bahan pangan, mengancam kesehatan anak-anak khususnya karena kemudian kualitas bahan pangan yang disajikan oleh orang tua itu menurun,” tegasnya pada Rabu (17/12/2025), mengutip KedaiKopi.
Baca Juga: Kualitas Kelapa Menurun, 75% Publik Sebut Karena Usia Panen Terlalu Dini
Sumber:
https://kedaikopi.co/flipbook/riset-ekonomi-survei-kondisi-kebutuhan-kelapa-di-indonesia/
Penulis: Faiza Az Zahra
Editor: Editor