Indonesia masih menghadapi persoalan serius terkait produksi dan pengelolaan sampah nasional. Bank Dunia mencatat Indonesia menjadi salah satu negara penghasil sampah terbesar di dunia. Besarnya timbulan sampah ini mencerminkan tingginya aktivitas konsumsi masyarakat serta tantangan pengelolaan limbah yang belum sepenuhnya teratasi.
Pada 2025, total timbulan sampah nasional mencapai 25,14 juta ton. Angka ini dihimpun dari 244 kabupaten/kota yang telah melaporkan data ke Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
Jika dilihat dari sumbernya, mayoritas sampah di Indonesia berasal dari rumah tangga, yakni sebesar 56,7%. Hal ini menunjukkan bahwa pola konsumsi masyarakat menjadi faktor utama pembentuk volume sampah nasional. Tingginya kontribusi ini juga didorong oleh wilayah berpenduduk padat seperti DKI Jakarta dan Jawa Barat yang menghasilkan limbah rumah tangga dalam jumlah besar setiap harinya.
Adapun jenis sampah yang paling banyak dihasilkan masyarakat selama setahun kebelakang adalah sampah sisa makanan.
Baca Juga: Sumber Sampah Indonesia 2025: Rumah Tangga Dominasi Timbulan Nasional
Berdasarkan jenisnya, sisa makanan menjadi penyumbang sampah terbesar di Indonesia sepanjang 2025. Data KLHK menunjukkan bahwa 40,76% dari total sampah nasional berasal dari sisa makanan, dengan persentase jauh melampaui jenis sampah lainnya.
Di posisi kedua terdapat sampah plastik dengan kontribusi 20,49%, disusul oleh kayu atau ranting (13,29%) serta kertas dan karton (11,25%). Sementara itu, jenis sampah lainnya memiliki porsi yang lebih kecil, seperti logam (3,05%), kain (2,46%), kaca (2,37%), dan karet atau kulit (2,05%). Kategori sampah lainnya tercatat menyumbang sekitar 6,71% dari total timbulan sampah.
Sampah Sisa Makanan Jadi Masalah Utama
Besarnya porsi sampah makanan turut menjadi perhatian banyak orang. Pada acara peringatan Hari Gastronomi Berkelanjutan 2025, Ketua Umum Indonesia Gastronomy Community (IGC), Ria Musiawan, mengatakan Indonesia menyumbang 48 juta ton sisa makanan setiap tahunnya.
Sisa makanan ini bisa muncul dari berbagai bentuk. Misalnya makanan tersisa karena penyajian berlebihan atau leftover, maupun makanan yang terbuang akibat kesalahan perencanaan, distribusi, hingga manajemen konsumsi yang dikenal sebagai food waste.
Di sisi lain, limbah makanan ternyata menyumbang sekitar 8% emisi gas rumah kaca global menurut World Resources Institute (WRI). Sebagian besar emisi tersebut berasal dari gas metana akibat pembusukan sisa makanan, sehingga memiliki efek kuat terhadap pemanasan global.
“Ternyata kita menyumbang sisa makanan dan limbah makanan terbesar. Satu piring nasi yang kita buang dan tidak kita habiskan itu setara dengan 150 gram emisi gas beracun,” ungkap Sekretaris Jenderal IGC, Dr Ray Wagiu Basrowi di acara yang sama pada Rabu (18/6/2025), dilansir dari Kompas.
Mengurangi Sampah Makanan di Indonesia
Kajian WRI Indonesia bersama lembaga riset Advislab menunjukkan tingginya sampah makanan di sektor rumah tangga. Adapun faktor yang memicu hal tersebut adalah minimnya pengetahuan masyarakat terkait pemanfaatan pangan, rendahnya pemahaman tentang dampak pemborosan makanan, serta perilaku konsumtif.
Selain faktor perilaku, terdapat pula masalah struktural seperti kebijakan yang belum konsisten, minimnya insentif pemerintah bagi pengelola sampah, hingga keterbatasan fasilitas pengolahan limbah.
Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional (KPP)/Bappenas sebelumnya telah menetapkan perubahan perilaku masyarakat sebagai strategi utama menekan sampah makanan. Namun, implementasinya membutuhkan kolaborasi kuat antara pemerintah, pelaku usaha, serta masyarakat agar upaya pengurangan sampah dapat berjalan konsisten dari hulu hingga hilir.
Baca Juga: Naiknya Sampah Makanan di Indonesia dalam 5 Tahun Terakhir
Sumber:
https://portal-sipsn.kemenlh.go.id/data/komposisi-sampah
Penulis: Talita Aqila Shafidhya
Editor: Editor