Indonesia akan mengimpor sejumlah produk pertanian dari Amerika Serikat (AS) dalam beberapa tahun ke depan sebagai bagian dari kesepakatan dagang baru yang ditandatangani oleh Presiden Prabowo Subianto bersama Donald Trump, pada Kamis (19/2/2026). Kesepakatan ini tertuang dalam dokumen USA-Indonesia Agreements on Reciprocal Trade (ART) yang berisi 45 halaman.
Dalam negosiasi tersebut, Indonesia memperoleh penurunan tarif ekspor ke AS menjadi 19% untuk produk nasional, lebih rendah dari penetapan sebelumnya yakni 32%. Tidak hanya itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan terdapat produk nasional mendapat bea masuk hingga 0% ke AS.
“Baik pertanian maupun industri minyak sawit, kopi, kakao, karet, komponen elektronik, semi konduktor, pesawat terbang, ini tarifnya 0%,” ujar Airlangga dalam konferensi pers, dikutip Senin (23/2/2026).
Sebagai timbal balik, Indonesia berkomitmen mengimpor beberapa produk Amerika Serikat, salah satunya produk pertanian senilai US$4,5 miliar selama masa perjanjian. Kesepakatan ini tertuang dalam lampiran keempat dokumen ART berjudul Purchase Commitment kategori produk pertanian.
Komitmen Impor 12 Produk Pertanian
Baca Juga: Jadi Negara Agraris, Mengapa Indonesia Masih Impor Komoditas Pertanian?
Berdasarkan kesepakatan ART, impor terbesar yang akan dilakukan Indonesia berasal dari komoditas kedelai dan turunannya. Indonesia akan mengimpor tepung kedelai sebanyak 3,8 juta ton dan kedelai utuh 3,5 juta ton per tahun selama lima tahun. Gandum menyusul dengan volume impor 2 juta ton per tahun. Ketiga produk impor AS ini mendapat tarif 0% dari pemerintah Indonesia untuk mendorong kebutuhan dalam negeri.
Pemerintah menilai impor kedelai dan gandum bukan hal baru, mengingat kebutuhan dalam negeri memang masih bergantung pada pasokan luar negeri. Konsumsi masyarakat terhadap produk berbahan dasar kedelai seperti tahu dan tempe memang cukup tinggi, sementara produksi domestik belum mampu memenuhi kebutuhan industri. Dengan tarif 0%, impor tersebut diharapkan dapat menjaga stabilitas harga dan pasokan.
Selain kedelai dan gandum, Indonesia juga akan mengimpor kapas sebanyak 163 ribu ton per tahun. Kapas merupakan bahan baku utama industri tekstil dan produk tekstil (TPT), salah satu sektor ekspor andalan Indonesia. Akses impor dengan tarif lebih rendah ini dinilai dapat menekan biaya produksi dan memperkuat daya saing industri di pasar global.
Lebih lanjut, komitmen impor juga mencakup tepung jagung (150 ribu ton), jagung (100 ribu ton), daging sapi (50 ribu ton), apel (26 ribu ton), anggur (5 ribu ton), jeruk (3 ribu ton), dan etanol (1 ribu ton).
Di sisi lain, terdapat produk impor yang paling disorot dalam perjanjian ini yakni komitmen impor beras asal AS sebanyak 1.000 ton per tahun. Selama lima tahun terakhir, Indonesia tidak lagi pernah mengimpor beras dari AS. Apalagi, Indonesia sedang mencapai swasembada beras pada 2025.
Meski demikian, Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto mengatakan komitmen impor beras tidak akan signifikan terhadap produksi nasional.
“Komitmen impor beras AS hanya sebesar 1.000 ton, tidak signifikan atau hanya sekitar 0,00003% dari total produksi beras nasional yang mencapai 34,69 juta ton tahun 2025,” ungkap Haryo, dilansir dari BBC Indonesia pada Senin (23/2/2026).
Seluruh kesepakatan dagang ini akan berlaku paling lambat 90 hari alias 3 bulan setelah proses legalitas di kedua negara terealisasikan.
Baca Juga: Masih Andalkan Mesin Impor, Indonesia Habiskan US$36 Miliar pada 2025
Sumber:
https://ustr.gov/sites/default/files/files/Press/Releases/2026/02.19.26%20US-IDN%20ART%20Full%20Agreement%20-%20US%20Final%20for%20Website%20sanitized.pdf
Penulis: Talita Aqila Shafidhya
Editor: Editor