Berat badan yang ideal merupakan dambaan bagi sebagian besar orang. Kondisi tersebut turut mendukung terlahirnya tubuh yang sehat. Tentunya, perlu disertai dengan gaya hidup yang sehat agar tidak terjadi kelebihan berat badan atau obesitas.
Obesitas adalah kondisi medis di mana tubuh memiliki kadar lemak yang berlebih akibat asupan dan jumlah kalori yang dibakar tidak seimbang. Seseorang dapat mengalami obesitas saat terus menerus mengonsumsi makanan dan minuman tinggi kalori tanpa diimbangi dengan aktivitas fisik untuk membakar lemak. Akibatnya, lemak akan menumpuk di dalam tubuh dan dapat menimbulkan risiko bagi kesehatan.
Pada tahun 2025, sekitar 897 juta orang dewasa di dunia hidup dengan obesitas dan sekitar 2,5-3 miliar orang dewasa dalam kondisi berat badan yang berlebih. Kondisi ini menggambarkan bahwa kelebihan berat badan menjadi salah satu risiko kesehatan utama dalam ekonomi modern.
CEOWorld baru-baru ini merilis daftar negara dengan tingkat obesitas terendah pada 2026, termasuk dalam lingkup negara-negara ASEAN. Lantas, siapa di urutan pertama?
Negara ASEAN dengan tingkat obesitas terendah dipegang oleh Vietnam dengan 1,72%, sekaligus menduduki peringkat pertama global. Di bawahnya, terdapat Timor-Leste dengan persentase 2,45%. Posisinya tepat berada di bawah Vietnam secara global. Urutan ketiga diraih oleh Kamboja dengan angka 3,72%, setara dengan peringkat kelima global.
Selanjutnya, Myanmar mengisi peringkat keempat dengan 6,47%, sekaligus ke-20 dunia. Tingginya aktivitas fisik masyarakat terutama di sektor pertanian dan pekerjaan informal, turut mendorong rendahnya prevalensi obesitas di negara ini.
Laos berada di posisi kelima dengan persentase 6,84%, disusul Filipina yang memiliki obesity rate sebesar 8,72%.
Sementara itu, Indonesia berada di ranking keenam dengan angka 11,10%. Secara global, Indonesia menempati posisi ke-46 sebagai negara dengan tingkat obesitas paling rendah. Posisi ini menunjukkan adanya tantangan obesitas seiring pergeseran pola konsumsi dan gaya hidup masyarakat, terutama di wilayah perkotaan.
Peringkat negara ASEAN dengan tingkat obesitas terendah berikutnya diisi oleh Singapura (13,27%), Tailan (14,25%), Malaysia (21,64%), dan Brunei Darussalam (34,42%).
Negara-negara dengan pendapatan lebih tinggi ini memiliki angka obesitas yang juga tinggi. Hal ini dapat dipengaruhi oleh mudahnya akses terhadap makanan cepat saji dan aktivitas fisik sehari-hari yang semakin berkurang.
Negara-negara dengan tingkat obesitas rendah memiliki pola hidup yang mirip, yaitu rata-rata asupan kalori yang rendah, tingkat pekerjaan fisik tinggi, dan dalam beberapa kasus terjadi kekurangan gizi yang luas. Pendapatan per kapita yang relatif rendah membatasi akses terhadap makanan olahan yang kaya kalori. Selain itu, pola makan tradisional yang menekan pada sayuran, biji-bijian, serta makanan rumahan turut memengaruhi rendahnya obesitas.
Meskipun demikian, rendahnya angka obesitas tidak serta merta mengindikasikan kondisi kesehatan masyarakat yang ideal. Beberapa negara masih dihadapkan dengan tantangan malnutrisi dan kekurangan gizi.
Perbandingan Tingkat Obesitas Pria dan Wanita di ASEAN
Prevalensi obesitas menurut World Health Organization (WHO) secara global cenderung lebih tinggi pada wanita yaitu sebesar 13% dibandingkan pria. Pada Vietnam, ditemukan fenomena serupa di mana wanita memiliki tingkat obesitas lebih tinggi yaitu 2,14% dibandingkan pria sebesar 1,31%. Angka obesitas yang lebih tinggi wanita dibanding pria juga terjadi di beberapa negara ASEAN lainnya yaitu Timor-Leste, Kamboja, Myanmar, Laos, Filipina, Indonesia, Tailan, Malaysia, dan Brunei Darussalam.
Menariknya, fenomena tersebut berbanding terbalik di Singapura. Negara dengan julukan The Lion City ini memiliki angka obesitas lebih tinggi pada pria yang mencapai 14,75%, sedangkan pada wanita memiliki angka 11,80%.
Tingginya angka obesitas pada wanita dapat dipicu oleh beberapa faktor seperti gaya hidup yang mengonsumsi makanan rendah serat cenderung fast food, kelebihan asupan makanan, stres, genetik, dan penurunan aktivitas fisik. Perubahan hormon dan terbatasnya waktu untuk berolahraga juga dapat memengaruhi terjadinya kenaikan berat badan.
Pencegahan Obesitas
Obesitas merupakan kondisi yang berbahaya dan harus dicegah. Pasalnya, obesitas yang tidak segera ditangani dapat menyebabkan penyakit jantung koroner, hipertensi, dan diabetes. Selain itu, obesitas dapat meningkatkan risiko gangguan sendi, gangguan tidur, sampai menurunkan kualitas hidup secara keseluruhan bagi penderitanya.
Untuk mencegahnya, dapat dilakukan beberapa langkah seperti mengatur pola makan dengan mengurangi gula dan lemak jenuh, olahraga rutin setidaknya 150 menit tiap minggu, dan melakukan konsultasi medis. Menerapkan pola hidup sehat sejak dini menjadi langkah penting untuk menekan risiko obesitas, terutama di tengah perubahan gaya hidup sedentari (kurang gerak) di era modern.
Baca Juga: Kesehatan dan Kebugaran Jadi Prioritas Gaya Hidup Modern
Sumber:
https://ceoworld.biz/2026/05/10/ranked-countries-with-the-lowest-obesity-rates-2026-and-what-their-economies-reveal/
Penulis: Alifia Ayu Fitriana
Editor: Editor