Nilai rupiah hari ini kembali menunjukkan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data terbaru per 5 Mei 2026, rupiah berada di level Rp17.407 per dolar AS (USD). Angka ini lebih tinggi dibandingkan posisi penutupan hari sebelumnya, yang berarti nilai tukar rupiah mengalami depresiasi.
Pergerakan ini menjadi perhatian karena menunjukkan tren pelemahan yang masih berlanjut dalam beberapa hari terakhir. Selain itu, perubahan nilai tukar ini juga memberikan dampak luas terhadap berbagai sektor ekonomi, mulai dari impor hingga harga kebutuhan dalam negeri.
Nilai Rupiah Hari Ini Melemah terhadap Dolar AS
Baca Juga: Harga LPG Naik 18,75%, Simak Harga LPG Terbaru dan Dampaknya
Berdasarkan pantauan data dari Trading Economics, nilai tukar rupiah pada 5 Mei 2026 pukul 09.10 WIB tercatat di Rp17.407 per dolar AS. Posisi ini naik dari penutupan hari sebelumnya di Rp17.394 per USD.
Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa rupiah melemah sebesar 13 poin atau sekitar 0,075% dibandingkan hari sebelumnya. Meskipun secara persentase terlihat kecil, pergerakan ini tetap mencerminkan tekanan yang berkelanjutan terhadap mata uang domestik.
Data ini juga mengindikasikan bahwa rupiah masih berada dalam tren pelemahan. Jika kondisi ini berlanjut, tekanan terhadap nilai tukar berpotensi semakin besar. Di sisi lain, pergerakan ini sekaligus mencerminkan penguatan dolar AS di pasar global.
Melansir dari Bloomberg Technoz, indeks dolar AS masih melanjutkan tren penguatan dengan kenaikan 0,15% ke level 98,52. Selain itu, harga minyak mentah juga tetap tinggi, bertahan di atas US$110 per barel, yang turut memberi tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang.
Grafik Pergerakan Rupiah terhadap Dolar AS
Berdasarkan grafik pergerakan dalam sepekan terakhir, terlihat bahwa nilai rupiah mengalami fluktuasi, namun cenderung bergerak dalam tren melemah. Pada 21 April 2026, rupiah berada di kisaran Rp17.141 per USD. Setelah itu, rupiah sempat menguat dan melemah secara bergantian sebelum akhirnya mencapai Rp17.407 pada 5 Mei 2026.
Selain itu, pola pergerakan menunjukkan bahwa volatilitas relatif stabil. Namun demikian, arah tren yang cenderung naik menandakan depresiasi rupiah yang terjadi secara bertahap, bukan lonjakan tajam dalam waktu singkat.
Dengan kata lain, tekanan terhadap rupiah terjadi secara konsisten dalam beberapa waktu terakhir, yang memperkuat indikasi adanya sentimen negatif yang berkelanjutan di pasar.
Faktor Penyebab Rupiah Melemah Hari Ini
Pelemahan nilai rupiah hari ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik dari sisi eksternal maupun domestik yang secara bersamaan memperkuat tekanan terhadap mata uang Indonesia. Kombinasi faktor ini membuat rupiah sulit keluar dari tren pelemahan dalam jangka pendek. Berikut beberapa faktor yang menjadi penyebab melemahnya nilai rupiah.
1. Penguatan Dolar AS
Dolar AS masih berada dalam tren stabil cenderung menguat. Hal ini membuat investor global lebih memilih aset berbasis dolar. Akibatnya, mata uang negara berkembang seperti rupiah mengalami tekanan.
Selain itu, indeks dolar AS yang tetap kuat menunjukkan bahwa permintaan terhadap dolar masih tinggi di pasar global. Di sisi lain, pelaku pasar juga mulai melihat tanda-tanda stabilisasi mata uang regional, meskipun belum cukup kuat untuk mendorong penguatan rupiah.
2. Keraguan terhadap Kebijakan Suku Bunga
Rupiah tercatat melemah untuk sesi kedua berturut-turut, mendekati level Rp17.370 per dolar AS. Kondisi ini dipengaruhi oleh keraguan pasar terhadap efektivitas kebijakan bank sentral yang mempertahankan suku bunga sejak Oktober 2025 lalu.
Investor menilai kebijakan tersebut belum cukup kuat untuk menahan tekanan eksternal. Akibatnya, kepercayaan pasar terhadap stabilitas rupiah menjadi terbatas.
3. Tekanan dari Sektor Perdagangan
Di sisi eksternal, kinerja perdagangan Indonesia menunjukkan sinyal pelemahan. Ekspor tercatat turun untuk pertama kalinya dalam empat bulan pada Maret. Sementara itu, impor hanya tumbuh tipis, bahkan menjadi yang terendah sejak Desember.
Kondisi ini mencerminkan melemahnya permintaan, baik dari luar negeri maupun domestik. Selain itu, kenaikan harga bahan bakar non-subsidi turut menekan daya beli masyarakat, sehingga aktivitas ekonomi menjadi lebih lambat.
4. Sentimen Menjelang Data Ekonomi
Pelaku pasar juga cenderung berhati-hati menjelang rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal I. Ekspektasi menunjukkan adanya perlambatan ekonomi dibandingkan kuartal IV sebelumnya yang merupakan level tertinggi dalam tiga tahun.
Selain itu, tekanan fiskal dan beban utang menjadi faktor tambahan yang membuat investor menahan diri. Akibatnya, aliran modal masuk menjadi terbatas, sehingga rupiah sulit menguat.
5. Penurunan Cadangan Devisa
Cadangan devisa Indonesia dilaporkan berada di titik terendah dalam hampir dua tahun pada bulan Maret. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap kemampuan bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
Dengan cadangan yang menipis, ruang intervensi menjadi lebih terbatas. Hal ini secara langsung menambah tekanan terhadap rupiah di pasar валют.
6. Inflasi yang Rendah, Namun Risiko Tetap Ada
Di sisi positif, inflasi Indonesia tercatat turun menjadi 2,42% pada April, yang merupakan level terendah dalam delapan bulan. Penurunan ini memberikan sedikit ruang bagi stabilitas ekonomi.
Namun demikian, risiko tetap membayangi. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih belum mereda, sehingga harga minyak dunia tetap tinggi. Jika kondisi ini berlanjut, tekanan inflasi dapat kembali meningkat dan berdampak pada nilai tukar rupiah.
Baca Juga: Harga Emas 4 Mei 2026 Cenderung Stabil, Ini Perbandingan Harga Emas Antam, UBS, dan Galeri 24
Sumber:
https://id.tradingeconomics.com/indonesia/currency
Penulis: Helni Sadiyah
Editor: Firda Wandira