Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras Indonesia mencapai 5,04 juta ton pada Maret 2026. Nilai ini diperoleh dari total produksi padi yang dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi pangan penduduk. Jumlahnya turun 3,675 atau sekitar 0,19 juta ton dibanding produksi Maret 2025.
Sementara itu, produksi pada April 2026 diproyeksi mencapai 4,39 juta ton, yang kemudian turun menjadi 2,75 juta ton pada Mei 2026. Penurunan terus berlanjut hingga Juni 2026 menjadi 2,48 juta ton.
Dengan demikian, total sementara produksi beras pada Semester I 2026 mencapai 19,31 juta ton, naik 0,26% dibanding periode yang sama tahun lalu yang sebanyak 19,26 juta ton.
Baca Juga: 5 Provinsi dengan Produksi Padi Tertinggi 2026
Sejalan dengan itu, produksi padi (gabah kering panen) di Indonesia juga turun 3,63% secara tahunan pada Maret 2026 menjadi 10,48 juta. Produksi padi untuk gabah kering giling juga turun 3,69% menjadi 8,75 juta ton pada Maret 2026.
Deputi Bidang Statistik dan Jasa BPS, Ateng Hartono menyebutkan bahwa angka ini masih berupa potensi, dan dapat berubah tergantung kondisi penanaman pada April hingga Juli 2026.
"Tentunya angka potensi ini masih dapat berubah tergantung pada kondisi pertanaman padi nanti sepanjang bulan April sampai dengan Juni tahun 2026, seperti pada saat ada serangan hama atau organisme pengganggu, pada kondisi banjir, pada kekeringan, waktu pelaksanaan panen oleh petaninya juga," jelasnya dalam konferensi pers, di Kantor BPS, Jakarta Pusat, Senin (4/5/2026).
Luas Panen Padi
Sementara itu, luas panen padi di Indonesia mencapai 1,61 juta hektare (ha) pada Maret 2026, turun 3,16% dibanding tahun lalu yang mencapai 1,67 juta ha.
Pada bulan April, luas panen padi diproyeksi mencapai 1,39 juta ha, yang kemudian turun pada Mei menjadi 0,93 juta ha. Penurunan terus berlanjut hingga Juni 2026 menjadi 0,84 juta ha. Total luas panen padi pada Semester I 2026 pun diprediksi mencapai 6,27 juta ha, naik 0,22% dibanding tahun 2025 yang sebesar 6,26 juta ha.
Pola ini mencerminkan siklus panen utama yang biasanya terjadi pada akhir musim hujan, dengan puncaknya di sekitar Maret. Setelah itu, luas panen cenderung menurun seiring berakhirnya musim tanam utama dan peralihan ke musim berikutnya.
Jika ditinjau melalui hasil Kerangka Sampel Area (KSA), mayoritas lahan pertanian masih dalam fase ditanami padi atau standing crop, mencapai 40,24%. Lahan yang sedang ditanami padi tercatat sebesar 21,19%, dipanen sebanyak 20,03%, diberakan sebanyak 10,73%, dan 7,57% dalam persiapan.
Lebih lanjut, menurut Ateng, kondisi cuaca jadi salah satu faktor kritis yang menentukan kuantitas produksi. Menurut analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), curah hujan mayoritas wilayah Indonesia berada di tingkat menengah pada Maret 2026.
"Nah, tinggi rendahnya curah hujan tentunya ini akan mempengaruhi budidaya tanaman padi di setiap wilayahnya," tuturnya.
Baca Juga: Peta Ketersediaan Pangan Indonesia 2025: Padi Jadi Sumber Protein Terbesar
Sumber:
https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2026/05/04/2573/luas-panen-dan-produksi-padi.html
Penulis: Agnes Z. Yonatan