Quarter life crisis di usia 20-an sering datang tanpa aba-aba, membuat banyak orang merasa kehilangan arah, mempertanyakan tujuan hidup, hingga terjebak dalam overthinking tentang masa depan yang belum pasti.
Fase ini bukan sekadar galau biasa saja, melainkan juga bagian dari proses transisi menuju kedewasaan yang penuh tekanan, tuntutan baru, dan ketidakpastian tanpa ujung.
Apa itu Fase Quarter Life Crisis dan Siapa yang Paling Rentan Mengalaminya?
Fase quarter life crisis adalah periode krisis emosional yang umumnya dialami individu berusia 18 hingga 30 tahun, ketika mereka mulai merasa bingung, cemas, dan tidak yakin dengan arah hidupnya.
Pada fase ini, seseorang bisa mempertanyakan karier, hubungan, hingga makna hidupnya sendiri.
Jika melihat data Gallup dalam beberapa tahun terakhir, terlihat pola yang cukup jelas bahwa masalah kesehatan mental dari tahun ke tahun semakin meningkat.
Pada 2015, persentase orang dewasa yang mengalami depresi masih berada di angka 10,5%. Angka ini kemudian perlahan naik di tahun-tahun berikutnya dan sempat berada di kisaran 13% sebelum akhirnya melonjak setelah pandemi.
Memasuki 2020, saat dunia mulai menghadapi krisis dan pandemi besar, angka depresi meningkat menjadi 13,8%. Dari titik ini, tren kenaikannya terasa lebih tajam hingga mencapai 17,8% pada 2023 dan menyentuh hampir 19% pada 2024.
Meski pada 2025 sedikit turun ke 18,3%, angkanya tetap jauh lebih tinggi dibandingkan satu dekade sebelumnya.
Kenaikan ini menunjukkan bahwa tekanan hidup modern semakin kompleks, terutama bagi generasi muda yang sedang berada di fase pencarian jati diri.
Di usia 20-an, seseorang tidak hanya dituntut mandiri, tetapi juga dituntut cepat berhasil, sehingga beban mentalnya ikut meningkat.
Sementara itu, riset LinkedIn mengungkapkan bahwa 75% individu berusia 25-33 tahun pernah mengalami fase quarter life crisis, dengan rata-rata usia terdampak berada di angka 27 tahun.
Ini menegaskan bahwa tekanan hidup usia 20-an bukanlah hal yang jarang, melainkan pengalaman yang sangat umum.
Baca Juga:Â 38% Gen Z Indonesia Berstatus Pekerja pada 2025
Apa yang Sebenarnya Memicu Quarter Life Crisis di Usia 20an?
Penyebab quarter life crisis tidak datang dari satu faktor saja, melainkan kombinasi berbagai tekanan yang muncul secara bersamaan.
Salah satu pemicunya adalah pengalaman pertama menghadapi masalah orang dewasa, seperti pekerjaan, keuangan, dan kemandirian hidup.
Banyak orang mulai merasa cemas saat harus menentukan karier jangka panjang, apalagi jika pekerjaan yang dijalani tidak sesuai passion.
Di sisi lain, tekanan sosial juga berperan besar. Melihat teman sebaya yang terlihat lebih sukses sering memicu perbandingan diri yang tidak sehat.
Selain itu, ekspektasi masa kecil yang tidak sesuai dengan realita saat ini juga bisa menjadi sumber kekecewaan.
Ditambah lagi dengan tekanan dalam hubungan, baik percintaan maupun rencana pernikahan, yang membuat individu merasa harus segera menetapkan pilihan besar dalam hidup.
Semua faktor ini saling bertumpuk dan akhirnya memicu rasa tidak pasti dan kekhawatiran yang amat mendalam.
Baca Juga: Milenial dan Gen Z Utamakan Work-Life Balance dalam Karier
Ciri-Ciri Memasuki Fase Quarter Life Crisis
Tanda quarter life crisis sering kali tidak disadari karena dianggap sebagai bagian normal dari kehidupan. Namun, ada beberapa ciri yang cukup umum muncul. Simak ciri-ciri berikut dan pastikan kamu tidak termasuk ke dalam salah satunya!
Seseorang yang mengalami fase ini biasanya sering merasa bingung tentang masa depan dan sulit mengambil keputusan. Mereka juga cenderung merasa terjebak dalam situasi yang tidak diinginkan, seperti pekerjaan yang tidak disukai.
Selain itu, muncul perasaan kurang motivasi dalam menjalani aktivitas sehari-hari, serta dilema antara mengikuti keinginan pribadi atau tuntutan keluarga dan lingkungan.
Tidak jarang juga muncul rasa iri terhadap pencapaian teman sebaya yang kerap disebut dengan crab mentality.
Di sisi lain, fase ini juga bisa ditandai dengan dorongan kuat untuk mengubah hidup, seperti ingin resign, mencoba bidang baru, atau keluar dari zona nyaman. Bahkan, ada yang mulai merintis hidup baru dengan penuh risiko demi menemukan jati diri.
Dampak dari Fase Quarter Life Crisis
Dampak quarter life crisis bisa dirasakan secara emosional maupun sosial. Salah satu yang paling umum adalah menurunnya kepercayaan diri akibat terlalu sering membandingkan diri dengan orang lain.
Selain itu, individu juga rentan mengalami kecemasan berlebihan yang berujung pada stres berkepanjangan. Rasa kesepian pun bisa muncul karena lingkar pertemanan mulai berubah, seiring masing-masing orang sibuk dengan kehidupannya sendiri.
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memicu demotivasi, di mana seseorang kehilangan semangat untuk bekerja, berkarya, atau bahkan sekadar menjalani rutinitas harian.
Cara Menghadapi Fase Quarter Life Crisis agar Tidak Berlarut-larut
Mengalami quarter life crisis sebenarnya hal yang wajar, tetapi penting untuk menghadapinya dengan cara yang tepat agar tidak berlarut-larut. Berikut cara mengatasinya jika kamu merasa sudah memasuki fase quarter life crisis:
1. Berhenti Membandingkan Diri dengan Orang Lain
Setiap orang memiliki timeline dan ritme hidup yang berbeda, sehingga fokus pada perjalanan sendiri jauh lebih penting daripada terus melihat pencapaian orang lain.
2. Ubah Keraguan Menjadi Tindakan
Daripada terus overthinking masa depan, mulailah dari langkah kecil seperti belajar skill baru, mencoba hal yang disukai, atau mengeksplorasi peluang yang ada.
3. Temukan Lingkungan yang Suportif
Berada di sekitar orang-orang yang suportif dapat membantu mengurangi tekanan dan memberi perspektif baru dalam melihat hidup.
4. Belajar Mencintai Diri Sendiri
Mengenali kebutuhan, menghargai proses, dan menikmati hal-hal kecil bisa membantu membangun kembali rasa percaya diri yang sempat hilang.
Quarter life crisis memang terasa berat, tetapi di balik itu semua, fase ini bisa menjadi titik balik untuk mengenal diri lebih dalam.
Dengan cara pandang yang tepat, krisis ini bukan akhir dari arah hidup, melainkan awal dari perjalanan yang lebih bermakna.
Baca Juga: Survei: Gen Z Indonesia Ingin Lebih dari Sekadar Kerja
Sumber:
https://news.gallup.com/poll/694199/u.s.-depression-rate-remains-historically-high.aspxÂ
Penulis: Raka Adichandra
Editor: Firda Wandira