Menilik Kondisi Pendidikan Perempuan Indonesia

Rerata lama sekolah dan angka harapan sekolah perempuan terus meningkat dalam sedekade terakhir, warisan Kartini yang berharga.

Menilik Kondisi Pendidikan Perempuan Indonesia Potret perempuan Indonesia di sekolah | Ed Us/Unsplash
Ukuran Fon:

Peringatan Hari Kartini setiap tanggal 21 April menjadi momentum penting untuk merefleksikan perjuangan perempuan dalam memperoleh hak yang setara, terutama di bidang pendidikan.

Sosok Raden Ajeng Kartini dikenal sebagai pelopor emansipasi perempuan di Indonesia yang memperjuangkan akses pendidikan bagi perempuan di tengah keterbatasan budaya pada masanya.

Melalui pemikiran-pemikirannya yang tertuang dalam kumpulan surat yang kemudian dibukukan dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang, Kartini mengkritik ketidakadilan yang membatasi perempuan hanya pada ranah domestik. Ia meyakini bahwa pendidikan merupakan kunci utama untuk membebaskan perempuan dari keterbelakangan dan meningkatkan derajat mereka di masyarakat.

Tidak hanya sebatas gagasan, Kartini juga mengambil langkah nyata dengan mendirikan sekolah bagi perempuan di tanah kelahirannya, Jepara. Upaya ini menjadi tonggak awal dalam membuka akses pendidikan bagi perempuan pribumi yang sebelumnya sangat terbatas. Perjuangannya kemudian menjadi inspirasi bagi lahirnya berbagai kebijakan dan gerakan yang mendorong kesetaraan pendidikan di Indonesia.

Kondisi pendidikan perempuan di Indonesia menunjukkan tren membaik dalam satu dekade terakhir. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata lama sekolah perempuan terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, meskipun masih berada di bawah laki-laki.

Rata-rata lama sekolah perempuan dan laki-laki dalam sedekade terakhir | GoodStats
Rata-rata lama sekolah perempuan dan laki-laki dalam sedekade terakhir | GoodStats

Mulanya pada 2016, rata-rata lama sekolah perempuan di Indonesia tercatat sebesar 7,5 tahun. Angka ini terus mengalami peningkatan secara bertahap menjadi 7,65 tahun pada 2017 dan 7,72 tahun pada 2018.

Memasuki 2019, rerata lama sekolah perempuan kembali naik menjadi 7,89 tahun. Tren peningkatan ini berlanjut pada 2020, ketika angkanya untuk pertama kalinya menembus 8 tahun, yaitu mencapai 8,07 tahun.

Menariknya, meskipun periode 2021–2022 bertepatan dengan pandemi Covid-19, tidak terjadi penurunan pada indikator ini. Justru, rata-rata lama sekolah perempuan terus meningkat menjadi 8,17 tahun pada 2021 dan 8,39 tahun pada 2022.

Tren positif tersebut berlanjut pada tahun-tahun berikutnya. Pada 2023, rerata lama sekolah perempuan mencapai 8,48 tahun, kemudian meningkat menjadi 8,54 tahun pada 2024, hingga akhirnya menyentuh 8,79 tahun pada 2025.

Namun demikian, dengan rata-rata yang masih berada di bawah 9 tahun, sebagian besar perempuan Indonesia pada umumnya belum sepenuhnya menyelesaikan pendidikan hingga jenjang menengah atas.

Di sisi lain, rata-rata lama sekolah laki-laki juga mengalami peningkatan, dari 8,41 tahun pada 2016 menjadi 9,35 tahun pada 2025. Meskipun demikian, selisih antara laki-laki dan perempuan cenderung menyempit. Jika pada 2016 kesenjangan mencapai sekitar 0,91 tahun, maka pada 2025 selisihnya berkurang menjadi sekitar 0,56 tahun

Walaupun masih terdapat kesenjangan dibandingkan laki-laki, tren peningkatan yang konsisten menjadi sinyal positif bahwa akses dan partisipasi perempuan dalam pendidikan semakin meningkat.

Masih Ada Tantangan Pendidikan Perempuan

Di balik tren peningkatan pendidikan perempuan secara nasional, masih terdapat sejumlah wilayah yang menghadapi tantangan serius dalam akses dan keberlanjutan pendidikan. BPS mencatat rata-rata lama sekolah perempuan pada beberapa provinsi di Indonesia masih mencatat angka yang relatif rendah dan jauh di bawah rata-rata nasional yang mencapai 8,79 pada tahun 2025.

Papua Pegunungan jadi provinsi dengan durasi sekolah perempuan terendah 2025 | GoodStats
Papua Pegunungan jadi provinsi dengan durasi sekolah perempuan terendah 2025 | GoodStats

Papua Pegunungan menjadi wilayah dengan capaian terendah, yaitu hanya 3,6 tahun. Angka ini menunjukkan bahwa rata-rata perempuan di wilayah tersebut belum menyelesaikan pendidikan dasar.

Masih dari wilayah timur Indonesia, Papua Tengah mencatat rata-rata lama sekolah perempuan sebesar 5,64 tahun. Dengan angka yang lebih tinggi, Nusa Tenggara Barat (NTB) bertengger di urutan ketiga dengan rerata lama sekolah perempuan mencapai 7,62 tahun.

Bangku berikutnya diduduki oleh Papua Barat dan Kalimantan Barat dengan angka yang sama, yaitu masing-masing 7,73 tahun.

Menariknya, provinsi dari Pulau Jawa, Jawa Tengah dan Jawa Timur juga masih masuk dalam daftar provinsi dengan rerata lama sekolah perempuan terendah pada tahun 2025, berturut-turut dengan angka 7,84 tahun dan 7,99 tahun.

Sementara itu, urutan kedelapan ditempati oleh Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan durasi sekolah perempuannya sekitar 8,14 tahun, disusul oleh Papua Selatan dengan angka rerata 8,23 tahun.

Sulawesi Barat menutup pemeringkatan sepuluh provinsi dengan durasi sekolah perempuan terkecil pada tahun 2025, dengan rata-rata 8,23 tahun.

Secara keseluruhan, mayoritas provinsi dalam daftar ini berasal dari kawasan Indonesia Timur, menegaskan bahwa kesenjangan akses pendidikan perempuan masih menjadi isu yang perlu mendapat perhatian lebih, terutama di daerah dengan tantangan geografis dan pembangunan yang belum merata.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Republik Indonesia (RI), Abdul Mu'ti mengungkapkan terdapat beberapa faktor yang menjadi penghambat kemajuan pendidikan bagi perempuan di Indonesia.a

“Memang tidak mudah karena masih ada kendala di lapangan. Sebagian berkaitan dengan aspek teologis yang berimplikasi pada posisi subordinat perempuan. Kedua, ada kendala kultural di mana perempuan sering kali dianggap sebagai second class gender,” ungkapnya dalam kegiatan pencanangan Bulan Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan di Kantor Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Jakarta, Rabu (1/4/2026).

Menurutnya, mitos tersebut harus dihapuskan dari dunia pendidikan agar perempuan mendapatkan ruang aktualisasi yang lebih luas serta kesempatan mengembangkan potensi sesuai bakat dan minatnya yang dijamin oleh konstitusi.

Ia melanjutkan, pihaknya berkomitmen untuk memberikan ruang yang lebih luas kepada para perempuan untuk memperoleh pendidikan dan kesempatan mengembangkan potensi yang mereka miliki sehingga sesuai pula dengan Asta Cita terkait penguatan sumber daya manusia dan pengarusutamaan gender.

Baca Juga: Banda Aceh Jadi Daerah dengan Durasi Sekolah Perempuan Terlama 2025

Angka Harapan Lama Sekolah Perempuan Lebih Tinggi

Uniknya, meski rerata lama sekolah perempuan masih lebih rendah, indikator harapan lama sekolah (HLS) justru menunjukkan arah yang berbeda. Dalam satu dekade terakhir, angka ini secara konsisten lebih tinggi pada perempuan dibandingkan laki-laki.

Adapun angka HLS adalah indikator yang menunjukkan perkiraan jumlah tahun pendidikan yang akan ditempuh oleh seorang anak sejak berumur 7 tahun atau memasuki usia sekolah, jika kondisi sistem pendidikan saat ini tidak mengalami perubahan.

Parameter ini menggambarkan peluang atau harapan akses pendidikan di masa depan. Semakin tinggi angka HLS, semakin besar kemungkinan seorang anak untuk menempuh pendidikan hingga jenjang yang lebih tinggi.

Menurut BPS, angka HLS perempuan meningkat dari 12,79 tahun pada 2016 menjadi 12,93 tahun pada periode berikutnya. Walaupun tidak signifikan, angka HLS bagi perempuan Indonesia terus tumbuh menjadi 12,99 tahun pada 2018, sebelum menyentuh 13,03 tahun ketika memasuki tahun 2019.

Angka harapan lama sekolah perempuan dan laki-laki dalam sedekade terakhir | GoodStats
Angka harapan lama sekolah perempuan dan laki-laki dalam sedekade terakhir | GoodStats

Pada 2020, angka HLS perempuan berada di angka 13,04 tahun dan meningkat hingga mencapai 13,22 tahun pada 2021. Peningkatan masih berlangsung secara bertahap, dengan periode 2022 hingga 2023 mencatatkan angka HLS perempuan berturut-turut sebesar 13,28 tahun dan 13,33 tahun.

Memasuki 2024, harapan lama sekolah perempuan mencapai 13,39 tahun, hingga akhirnya tumbuh menjadi 13,46 tahun pada 2025.

Sementara itu, HLS laki-laki juga mengalami kenaikan, namun tetap berada di bawah perempuan, yaitu dari 12,67 tahun pada 2016 menjadi 13,16 tahun dalam satu dekade yang sama. Sepanjang periode tersebut, selisih antara perempuan dan laki-laki memang tidak terlalu besar, tetapi cenderung stabil dalam rentang 0,1-0,3 tahun.

Data ini menunjukkan adanya perubahan positif dalam ekspektasi pendidikan perempuan di Indonesia. Namun demikian, angka rerata lama sekolah perempuan yang masih lebih rendah dari harapan lama sekolah menjadi catatan penting bahwa masih terdapat kesenjangan antara harapan dan realisasi.

Meskipun peluang pendidikan semakin terbuka, masih terdapat berbagai hambatan yang menyebabkan perempuan belum sepenuhnya dapat menyelesaikan pendidikan sesuai dengan potensi yang dimiliki.

Oleh karena itu, peningkatan angka harapan lama sekolah perempuan juga menjadi pengingat bahwa upaya pemerataan akses dan keberlanjutan pendidikan perlu terus diperkuat agar harapan tersebut benar terwujud di lapangan.

Baca Juga: Angka Partisipasi Kuliah Perempuan Selalu Lebih Tinggi Dibanding Laki-Laki

Sumber:

https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/NDU5IzI=/rata-rata-lama-sekolah--rls--menurut-jenis-kelamin--tahun-.html

Penulis: Shahibah A
Editor: Editor

Konten Terkait

China Diproyeksikan Pimpin Ekonomi Global 2075

Pada tahun 2075, China diproyeksikan menjadi kekuatan ekonomi terbesar di dunia, disusul dengan India dan Amerika Serikat.

Indonesia Masuk 10 Besar Negara dengan Kinerja Kewirausahaan Terbaik

Indonesia menempati posisi ke-10 negara dengan skor kinerja kewirausahaan dan ketenagakerjaan tertinggi pada 2024 dengan skor 58,3.

Terima kasih telah membaca sampai di sini

atau

Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.

Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook