Pada 2025, mayoritas penduduk Indonesia berada dalam kelompok transisi menuju kelas menengah. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Mandiri Institute, jumlah kelas menengah di Indonesia sedikit turun pada 2025, sedangkan penduduk menuju kelas menengah naik.
Bagaimana Kelas Ekonomi Dibagi?
Pembagian kelas ekonomi dalam data ini mengacu pada standar pengelompokan berbasis tingkat pengeluaran atau konsumsi per kapita yang ditetapkan oleh World Bank. Masyarakat dikelompokkan ke dalam lima kategori utama, yakni miskin, rentan miskin, menuju kelas menengah, kelas menengah, dan kelas atas. Klasifikasi ini digunakan untuk memetakan daya beli serta tingkat ketahanan ekonomi rumah tangga terhadap guncangan.
Kelompok miskin adalah mereka yang pengeluaran per kapita per bulan relatif kurang dari 1 kali lipat garis kemiskinan. Di atasnya terdapat kelompok rentan miskin, yakni masyarakat yang sedikit berada di atas garis kemiskinan namun berisiko turun kembali jika terjadi tekanan ekonomi. Pengeluaran per kapita kelompok ini di kisaran 1-1,5 kali dari garis kemiskinan.
Sementara itu, kelompok menuju kelas menengah merupakan populasi dengan tingkat konsumsi yang lebih stabil, tetapi belum sepenuhnya mapan seperti kelas menengah. Pengeluaran per kapita mereka berada di angka 1,5 sampai 3,5 kali garis kemiskinan. Kelompok menengah memiliki pengeluaran per kapita 3,5-17 kali dari garis kemiskinan. Adapun kelas atas mencerminkan kelompok dengan daya beli tertinggi, dengan pengeluaran per kapita di atas 17 kali garis kemiskinan.
Baca Juga: Daya Beli Masyarakat Kelas Menengah Kian Menurun, Apa Penyebabnya?
Komposisi Penduduk Indonesia 2025
Kelompok terbesar penduduk Indonesia adalah menuju kelas menengah, dengan porsi mencapai 50,4% dari total populasi. Artinya, lebih dari separuh penduduk Indonesia berada dalam fase transisi, memiliki daya beli yang relatif lebih stabil dibanding kelompok rentan, namun belum sepenuhnya mapan seperti kelas menengah.
Di bawahnya, terdapat kelompok rentan miskin sebesar 24,1%. Kelompok ini berada sedikit di atas garis kemiskinan dan berisiko turun kelas apabila terjadi tekanan ekonomi, seperti kenaikan harga kebutuhan pokok atau perlambatan pendapatan.
Sementara itu, kelas menengah mencakup 16,6% populasi. Proporsi ini menunjukkan bahwa kelompok dengan daya beli relatif kuat masih belum menjadi mayoritas dalam struktur ekonomi nasional.
Untuk kategori miskin, porsinya tercatat sebesar 8,5%. Meski lebih kecil dibanding kelompok rentan dan menuju menengah, angka ini tetap mencerminkan tantangan dalam upaya pengentasan kemiskinan.
Adapun kelas atas hanya menyumbang 0,4% dari total penduduk. Kelompok ini merupakan segmen dengan tingkat konsumsi dan daya beli tertinggi, namun jumlahnya sangat kecil dibandingkan lapisan ekonomi lainnya.
Kelas Menengah Terus Turun
Analisis Mandiri Institute juga menunjukkan adanya penurunan tajam dalam kelas menengah Indonesia. Penurunan ini bahkan lebih tinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Pada 2025, jumlah kelas menengah turun 1,1 juta orang, padahal pada 2024 penurunannya di angka 0,4 juta.
Sebaliknya, kelompok menuju kelas menengah mencatatkan kenaikan tertinggi, bertambah 4,5 juta jiwa pada 2025, setelah naik 0,6 juta jiwa pada 2024.
Tidak hanya itu, jika dibandingkan dengan kelompok lain, pertumbuhan konsumsi per kapita dari kelas menengah tercatat paling rendah.
Kelompok kelas atas mencatat pertumbuhan konsumsi tertinggi, yakni 6,8%. Angka ini menunjukkan daya beli kelompok teratas masih relatif kuat, bahkan tumbuh lebih cepat dibanding lapisan ekonomi lainnya.
Di bawahnya, kelompok rentan miskin mencatat pertumbuhan sebesar 5%, sedikit lebih tinggi dibanding kelompok menuju kelas menengah yang tumbuh 4,8%. Sementara itu, kelompok miskin mengalami pertumbuhan konsumsi sebesar 4,7%.
Menariknya, kelas menengah justru mencatat pertumbuhan paling rendah, yakni 4,1%. Padahal, kelompok ini selama ini dikenal sebagai penopang utama konsumsi domestik. Laju yang lebih lambat ini bisa menjadi sinyal adanya tekanan terhadap daya beli kelas menengah, baik dari sisi inflasi, cicilan, maupun beban pengeluaran lainnya.
Menurut Ekonom UGM, Dr. Wisnu Setiadi Nugroho, persoalan ini bukan hanya mengenai angka semata. Di balik itu, kelas menengah adalah kelompok yang biasanya merasa cukup, dalam arti cukup untuk menabung, cukup untuk merencanakan masa depan, dan cukup untuk bermimpi lebih besar dari orang tuanya.
“Ketika jumlah mereka menyusut, yang sesungguhnya tergerus adalah rasa percaya bahwa kerja keras akan membawa kemajuan,” ujarnya di Kampus UGM, Rabu (18/2).
Lebih lanjut, turunnya jumlah kelas menengah salah satunya diakibatkan jumlah pekerjaan yang tersedia. Kini banyak lapangan kerja baru yang sifatnya survival-based, hanya cukup untuk bertahan hidup, namun tidak untuk naik kelas.
“Ekonomi gig, kerja informal, dan pekerjaan berproduktivitas rendah memang menyerap tenaga kerja. Namun pekerjaan seperti ini jarang menyediakan stabilitas pendapatan, jaminan sosial, atau jalur karier yang jelas. Orang bekerja keras, tetapi tangga sosialnya tidak bertambah panjang,” terangnya.
Untuk menjawab persoalan ini, diperlukan keberanian untuk menciptakan pekerjaan yang mampu membuka mobilitas dan membangun bantalan risiko terutama bagi kelompok menuju kelas menengah.
“Jaminan kehilangan pekerjaan dan asuransi sosial perlu menjangkau pekerja non-formal, dan skema pembiayaan perumahan dan pendidikan harus dirancang agar kelompok near-middle tidak tergelincir hanya karena satu guncangan,” katanya.
Akhirnya, Wisnu berharap pemerintah bisa terus memastikan kebijakan yang dirancang dapat menjamin penduduk kelas menengah.
“Kelas menengah bukan hanya kategori statistik. Ia adalah penyangga stabilitas, sumber konsumsi, pembayar pajak, dan yang paling penting, penjaga optimisme sosial. Jika mesin mobilitas sosial terus melambat, yang hilang bukan sekadar angka 1,2 juta,” tegasnya.
Baca Juga: Penduduk Kelas Menengah Indonesia Turun Kelas
Sumber:
https://www.instagram.com/p/DUZlj2Mj26A/?img_index=1
Penulis: Agnes Z. Yonatan
Editor: Editor