Polarisasi geopolitik antara China dan Amerika Serikat (AS) kian hari menunjukkan eskalasi yang sengit. Perseteruan kedua hegemon ini tidak lagi terbatas pada perang tarif dagang atau adu kecanggihan teknologi semata, melainkan telah merambah pada perebutan pengaruh pengaruh politik-strategis yang masif di kawasan Asia Tenggara.
Sebagai kawasan yang berada di posisi silang jalur perdagangan dunia, Indonesia dan negara Asia Tenggara lainnya kerap kali terjebak dalam pusaran rivalitas yang memaksa negara-negara anggotanya menyeimbangkan kepentingan nasional mereka di antara China dan AS.
Ketegangan ini pada akhirnya membentuk cara pandang dan tingkat kepercayaan publik di Asia Tenggara terutama Indonesia. Potret dinamika tersebut terekam jelas dalam laporan tahunan bertajuk The State of Southeast Asia: 2026 Survey Report yang dirilis oleh ASEAN Studies Centre di ISEAS - Yusof Ishak Institute pada 7 April 2026.
Keberpihakan Negara ASEAN terhadap China vs Amerika Serikat
Baca Juga: Simak Isu Geopolitik Terpenting Bagi Anak Muda ASEAN 2024
Secara akumulatif di tingkat regional ASEAN telah terjadi pembalikan posisi dominasi yang cukup signifikan. Pada tahun 2025, mayoritas regional masih condong memilih Amerika Serikat dengan angka 52,3%, sementara China berada di bawahnya dengan raihan 47,7%. Namun pada tahun 2026, keadaan berbalik total di mana China memimpin di tingkat regional dengan persentase 52,0%, sedangkan dukungan untuk Amerika Serikat menyusut menjadi 48,0%.
Pergeseran di tingkat regional ini didorong kuat oleh lonjakan persentase yang sangat mencolok di tingkat nasional beberapa negara, terutama Indonesia. Pada tahun 2025, porsi responden Indonesia yang memilih China sebenarnya sudah tinggi di angka 72,2%, namun angka ini meroket tajam menjadi 80,1% pada tahun 2026. Sebaliknya, persentase responden Indonesia yang memilih Amerika Serikat mengalami kemerosotan drastis dari 27,8% di tahun 2025 hingga hanya tersisa 19,9% pada tahun 2026.
Lonjakan persentase pro-China yang sangat masif juga tercatat di Singapura, di mana angka pemilih China melonjak dari 47,1% pada tahun 2025 menjadi 66,3% di tahun 2026, sementara pemilih AS anjlok dari 52,9% menjadi 33,7%. Pola serupa terjadi di Timor-Leste yang mencatatkan kenaikan pemilih China dari 40,9% menjadi 58,2%, berbanding terbalik dengan pemilih AS yang turun dari 59,1% menjadi 41,8%
Di luar negara-negara tersebut, persentase ke arah China pada tahun 2026 juga tercatat di Brunei Darussalam sebesar 53,5%, Laos sebesar 49,7%, Malaysia sebesar 68,0%, dan Tailan sebesar 55,0%. Sebaliknya, poros pendukung utama Amerika Serikat di Asia Tenggara pada tahun 2026 masih didominasi oleh Filipina dengan angka 76,8%, disusul oleh Myanmar sebesar 61,4%, Kamboja sebesar 61,0%, dan Vietnam yang berada di angka 59,2%.
Metodologi
Survei yang dilakukan oleh ISEAS menjaring 2,008 responden ahli (akademisi, swasta, LSM/media, pemerintah, dan organisasi internasional) dari seluruh negara ASEAN dan Timor-Leste melalui survei daring mixed purposive sampling. Berbeda dari periode 2019–2025 yang hanya mencakup ASEAN-10, laporan tahun 2026 ini mulai mengintegrasikan data Timor-Leste setelah resmi menjadi anggota pada Oktober 2025.
Survei yang terdiri dari 43 pertanyaan ini melewati proses pembersihan ketat dari data duplikat maupun manipulatif (speeders dan straightliners). Untuk menjaga prinsip kesetaraan suara dalam pengambilan keputusan ASEAN tanpa terpengaruh skala populasi atau geografis, analisis agregat regional dihitung menggunakan metode pembobotan setara (equal weightage) bagi setiap negara.
Baca Juga: Konflik Antar Negara Jadi Pemicu Utama Krisis Global 2025
Sumber:
https://table.media/assets/documents/the-state-of-southeast-asia-2026-survey-final-single.pdf
Penulis: Anggia Leksa
Editor: Editor