Kasus wabah Hantavirus di kapal pesiar MV Hondius belakangan menjadi perhatian dunia internasional. Kapal pesiar ekspedisi yang membawa ratusan penumpang tersebut dilaporkan mengalami penyebaran kasus Hantavirus saat berlayar, sehingga sejumlah penumpang harus menjalani pemeriksaan dan karantina di tengah laut.
Laporan terbaru dari WHO menyebutkan terdapat tujuh penumpang dari berbagai negara yang dinyatakan positif terinfeksi Hantavirus. Sebagian pasien masih menjalani perawatan, sementara beberapa lainnya dilaporkan meninggal dunia akibat komplikasi penyakit tersebut.
Meski ramai diperbincangkan, Hantavirus sebenarnya bukan virus baru. Penyakit ini telah dikenal sejak lama dan pernah ditemukan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Apa sebenarnya Hantavirus dan bagaimana virus ini menular?
Baca Juga: 7 Wabah Paling Mematikan Sepanjang Sejarah Dunia
Apa Itu Hantavirus?
Hantavirus adalah kelompok virus yang ditularkan dari hewan pengerat, terutama tikus, kepada manusia. Virus ini dapat menyebabkan gangguan serius pada sistem pernapasan maupun ginjal tergantung jenis virusnya.
Pada sebagian kasus, infeksi Hantavirus dapat berkembang menjadi Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), yaitu gangguan paru-paru berat yang menyebabkan kesulitan bernapas. Di wilayah Eropa dan Asia, Hantavirus juga dapat memicu Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) atau demam berdarah yang menyerang ginjal.
Penularan Hantavirus umumnya terjadi ketika manusia menghirup partikel udara yang terkontaminasi urine, air liur, atau kotoran tikus yang terinfeksi. Selain itu, penularan juga dapat terjadi melalui kontak langsung dengan permukaan yang tercemar atau gigitan hewan pengerat.
Berbeda dengan virus pernapasan seperti Covid-19, penularan Hantavirus dari manusia ke manusia tergolong sangat jarang terjadi. Karena itu, faktor lingkungan dan kebersihan menjadi salah satu kunci utama dalam pencegahan penyakit ini.
Gejala Hantavirus biasanya muncul satu hingga delapan minggu setelah paparan. Pada tahap awal, penderita dapat mengalami demam, nyeri otot, sakit kepala, mual, muntah, hingga kelelahan.
Jika kondisi memburuk, pasien dapat mengalami sesak napas serius akibat penumpukan cairan di paru-paru.
Baca Juga: Kasus Campak di Indonesia Naik di Awal 2026, 8.224 Suspek Dilaporkan hingga Minggu ke-7
Kasus Hantavirus di Kapal Pesiar MV Hondius
Kasus Hantavirus kapal pesiar MV Hondius mulai menjadi perhatian internasional pada awal Mei 2026.
Kapal ekspedisi tersebut diketahui tengah melakukan pelayaran wisata internasional dengan rute lintas kawasan Atlantik dan membawa penumpang dari berbagai negara.
Laporan awal muncul ketika sejumlah penumpang mengalami gejala mirip flu berat seperti demam tinggi, nyeri otot, dan gangguan pernapasan selama perjalanan berlangsung.
Otoritas kesehatan kapal kemudian melakukan pemeriksaan lanjutan terhadap para penumpang yang menunjukkan gejala mencurigakan.
Dalam beberapa hari berikutnya, WHO mulai mengeluarkan laporan pemantauan setelah hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan adanya kasus positif Hantavirus di kapal tersebut.
Dampaknya, ratusan penumpang dan kru harus menjalani karantina sementara di tengah laut untuk mencegah risiko penyebaran lebih lanjut.
Berdasarkan laporan yang beredar hingga Mei 2026, berikut jumlah kasus Hantavirus di kapal MV Hondius yang telah dilaporkan:
Total jumlah penumpang kapal MV Hondius yang terkonfirmasi positif Hantavirus adalah 10 orang dari 7 negara berbeda.
Belanda dan Inggris masing-masing mencatat dua kasus positif. Dari kasus asal Belanda, pasien dilaporkan meninggal dunia, sedangkan dua warga Inggris masih menjalani perawatan.
Kasus lainnya berasal dari Jerman, Swiss, Prancis, Amerika Serikat, dan Spanyol. Pasien asal Jerman dilaporkan meninggal dunia, sementara pasien dari Swiss, Prancis, Amerika Serikat, dan Spanyol masih berada dalam penanganan medis.
Secara total, terdapat sembilan penumpang yang dinyatakan positif dalam laporan awal, dengan dua korban meninggal dunia dan sisanya masih menjalani perawatan intensif.
Otoritas kesehatan internasional masih terus melakukan investigasi terkait sumber paparan virus di kapal pesiar tersebut.
Kasus wabah Hantavirus di MV Hondius pun memicu kekhawatiran publik global karena melibatkan perjalanan internasional dan penumpang lintas negara dalam satu kapal pesiar tertutup.
Hantavirus Bukanlah Jenis Virus Baru di Indonesia
Meski kasus di MV Hondius menjadi sorotan internasional, hantavirus sebenarnya bukan penyakit baru, termasuk di Indonesia.
Di Indonesia, Hantavirus sudah pernah ditemukan sejak awal 1990-an. Penelitian mengenai virus ini telah dilakukan pada populasi tikus dan beberapa kasus infeksi manusia di sejumlah daerah. Namun, jenis Hantavirus yang ditemukan di Indonesia umumnya berbeda dengan strain yang dikaitkan dengan kasus di kapal pesiar MV Hondius.
Sebagian besar kasus hantavirus di Indonesia berkaitan dengan lingkungan yang memiliki populasi tikus tinggi, seperti kawasan padat penduduk, gudang penyimpanan, area pertanian, hingga pelabuhan.
Karena gejalanya sering menyerupai penyakit lain seperti flu, leptospirosis, atau demam berdarah, kasus Hantavirus kerap sulit terdeteksi tanpa pemeriksaan laboratorium khusus.
Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu panik berlebihan. Hantavirus bukan virus baru dan penyebarannya tidak semudah penyakit menular melalui udara antar manusia.
Langkah Pencegahan Penularan Hantavirus
Untuk mengurangi risiko penularan hantavirus, terdapat beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan masyarakat:
- Menjaga kebersihan lingkungan.
- Menghindari kontak dengan tikus.
- Membersihkan area terkontaminasi dengan aman.
- Menutup akses masuk tikus.
- Menyimpan makanan dengan baik.
- Menggunakan alat pelindung saat bekerja.
- Segera memeriksakan diri jika mengalami gejala.
Kasus wabah hantavirus MV Hondius menjadi pengingat bahwa penyakit dari hewan pengerat masih menjadi ancaman kesehatan global.
Meski menimbulkan perhatian internasional, Hantavirus bukan virus baru dan telah dikenal sejak lama di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Penularan Hantavirus umumnya berkaitan dengan paparan lingkungan yang terkontaminasi tikus, bukan penularan antar manusia secara luas. Karena itu, menjaga kebersihan lingkungan dan mengurangi kontak dengan hewan pengerat menjadi langkah penting dalam pencegahan penyakit ini.
Penulis: Aisha Zahrany
Editor: Firda Wandira