Kurs rupiah hari ini kembali menjadi perhatian setelah nilai tukar terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami tekanan dalam beberapa hari terakhir. Pada perdagangan 13 Mei 2026, rupiah tercatat berada di level Rp17.516 per dolar AS atau melemah dibanding hari sebelumnya.
Melansir dari Trading Economics, posisi tersebut sekaligus menjadi titik terlemah rupiah sepanjang sejarah. Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global, mulai dari konflik geopolitik di Timur Tengah hingga penguatan dolar AS akibat ekspektasi suku bunga tinggi bank sentral Amerika Serikat atau The Fed.
Baca Juga: 10 Negara yang Pernah Redenominasi Mata Uang dan Dampaknya bagi Ekonomi
Rupiah Hari Ini, Rabu 13 Mei 2026
Pergerakan rupiah dalam sepekan terakhir menunjukkan tren yang cenderung melemah. Pada 7 Mei 2026, rupiah berada di level Rp17.339 per dolar AS dan sempat menguat tipis sehari setelahnya menjadi Rp17.297 per dolar AS.
Namun, penguatan tersebut tidak berlangsung lama. Memasuki 9 Mei, rupiah kembali tertekan ke level Rp17.358 per dolar AS. Nilainya masih bergerak di kisaran yang sama pada 11 Mei dengan posisi Rp17.355 per dolar AS sebelum akhirnya melemah lebih dalam pada 12 Mei menjadi Rp17.396 per dolar AS.
Tekanan terhadap mata uang Garuda semakin besar pada perdagangan 13 Mei 2026 setelah rupiah menembus level Rp17.500 dan berada di angka Rp17.516 per dolar AS. Angka ini menjadi level terlemah rupiah sepanjang sejarah terhadap dolar AS.
Meski demikian, kondisi pelemahan saat ini dinilai berbeda dibanding krisis moneter 1998 karena fundamental ekonomi Indonesia masih relatif lebih kuat, terutama dari sisi cadangan devisa dan posisi utang pemerintah.
Pelemahan rupiah saat ini juga dinilai lebih banyak dipengaruhi sentimen jangka pendek dibanding persoalan fundamental ekonomi domestik.
Kenapa Rupiah Terus Melemah?
Pelemahan rupiah dipicu kombinasi faktor global dan domestik. Salah satu penyebab utamanya berasal dari aksi jual investor asing menjelang pengumuman MSCI Index Review yang membuat pelaku pasar lebih berhati-hati terhadap aset berdenominasi rupiah.
Selain itu, memanasnya konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz turut mendorong penguatan dolar AS. Situasi tersebut membuat investor global cenderung mencari aset safe haven sehingga tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, semakin besar.
Ketidakpastian global juga meningkat akibat kenaikan harga minyak dunia yang dipicu konflik di Timur Tengah. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global sekaligus memberi tekanan tambahan bagi negara yang masih bergantung pada impor energi seperti Indonesia.
Di sisi lain, ekspektasi suku bunga tinggi The Fed yang diperkirakan bertahan lebih lama turut memperkuat posisi dolar AS. Pasar juga masih menunggu arah inflasi Amerika Serikat yang akan menentukan kebijakan moneter berikutnya.
Sentimen domestik ikut memperbesar tekanan terhadap rupiah. Isu terkait transparansi dan struktur pasar modal Indonesia dalam peninjauan MSCI membuat investor asing cenderung lebih selektif menempatkan modal di pasar keuangan domestik.
Pelemahan rupiah juga memunculkan kekhawatiran terhadap kenaikan biaya impor bahan baku, energi, dan barang konsumsi yang berpotensi mendorong inflasi impor. Selain itu, beban subsidi energi dan pembayaran utang luar negeri juga dapat meningkat ketika nilai tukar rupiah terus melemah.
Bagi sektor korporasi, tekanan paling terasa dialami perusahaan yang memiliki kewajiban dalam dolar AS namun pendapatannya berbasis rupiah. Kondisi tersebut dapat meningkatkan tekanan terhadap arus kas dan biaya operasional perusahaan.
Meski begitu, Bank Indonesia memastikan tetap menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi di pasar valuta asing dan optimalisasi instrumen moneter.
Kepercayaan investor asing terhadap aset domestik juga dinilai masih cukup baik, terlihat dari aliran modal asing yang tetap masuk ke instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Ke depannya, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan dipengaruhi perkembangan konflik geopolitik global serta arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat. Selama ketidakpastian tersebut belum mereda, volatilitas rupiah diperkirakan masih akan tinggi dalam jangka pendek.
Baca Juga: 10 Mata Uang Terlemah pada 2026, Ada Rupiah?
Sumber:
https://id.tradingeconomics.com/indonesia/currency
Penulis: Raka Adichandra
Editor: Muhammad Sholeh