Industri manufaktur merupakan bidang ekonomi yang berfokus pada pengolahan bahan baku menjadi barang siap pakai atau setengah jadi, sehingga meningkatkan nilai jual dan fungsi dari komoditas tersebut. Sektor ini memiliki peran penting terhadap perekonomian suatu negara karena berkontribusi dalam menciptakan lapangan pekerjaan dan Pendapatan Domestik Bruto (PDB).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2025, proporsi tenaga kerja pada industri manufaktur tercatat mencapai 13,86%. Angka ini mengalami sedikit peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya yakni sebesar 13,83%.
Baca Juga: Sejumlah Pabrik Manufaktur Tutup di Paruh I 2025, 12 Ribu Pekerja Ter-PHK
Adapun sektor industri manufaktur di Indonesia menunjukkan distribusi tenaga kerja yang cukup bervariasi dengan industri makanan yang mendominasi secara signifikan. Industri makanan menyerap tenaga kerja terbesar dengan persentase mencapai 4,19%. Posisi kedua ditempati oleh industri pakaian jadi yang menyerap sebanyak 2,01% pekerja.
Peringkat berikutnya diisi oleh industri kayu, bambu (bukan furnitur) dan sejenisnya sebesar 0,99%; industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki sebesar 0,73%; serta industri tekstil yang mencatatkan persentase sebesar 0,69%.
Sementara itu, sektor pengolahan lainnya menyerap 0,64% tenaga kerja, disusul industri barang galian bukan logam sebesar 0,62% pekerja serta industri furnitur yang berada di angka 0,52%.
Lebih rendah lagi, terdapat industri barang logam, bukan mesin dan peralatannya dengan kontribusi sebesar 0,48% serta industri karet, barang dari karet dan plastik yang menyerap 0,44% tenaga kerja.
Industri Manufaktur Jadi Tulang Punggung Perekonomian Nasional
Pada Triwulan IV 2025, industri manufaktur menjadi penyumbang PDB terbesar sekaligus motor penggerak utama bagi pertumbuhan ekonomi nasional. BPS mencatat industri pengolahan mendominasi struktur PDB Triwulan IV 2025 dengan andil mencapai 19,2%, tertinggi dibandingkan lapangan usaha lainnya.
Apabila dilihat secara tahunan, industri ini mencatatkan lonjakan pertumbuhan hingga 5,4% (year on year/yoy). Capaian tersebut melampaui pertumbuhan tahun sebelumnya yang berada di angka 4,43%, sekaligus menjadi rekor pertumbuhan tertinggi bagi sektor manufaktur dalam satu dekade terakhir.
Performa positif kinerja industri pengolahan ini utamanya disokong oleh sektor industri makanan dan minuman, industri logam dasar, serta industri kimia, farmasi, dan obat tradisional. Kuatnya pasar domestik ditambah tingginya permintaan ekspor menjadi faktor kunci dalam menjaga produktivitas sektor ini.
“Pertumbuhan sektor industri pengolahan utamanya ditopang oleh meningkatnya permintaan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri,” ungkap Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dalam konferensi pers di Jakarta, pada Kamis (5/2/2026).
Pada tahun 2026 ini, pemerintah melalui Kementerian Perindustrian berupaya untuk mencapai target industri manufaktur yang terus diperkuat melalui beberapa kebijakan seperti:
- Penguatan kinerja industri
- Keberlanjutan kebijakan industri
- Peningkatan investasi dan daya saing
- Penguatan pasar domestik dan ekspor
Baca Juga: Industri Manufaktur Sumbar 19,89% terhadap PDB Indonesia
Sumber:
https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/MTIxNyMy/proporsi-tenaga-kerja-pada-sektor-industri-manufaktur--persen-.html
Penulis: Silmi Hakiki
Editor: Editor