Fenomena Doom Spending Ramai di Kalangan Gen Z! Bagaimana Datanya?

Pembiayaan paylater melonjak pesat menjadi Rp 8,22 triliun akibat fenomena doom spending ala Gen Z, bagaimana datanya?

Fenomena Doom Spending Ramai di Kalangan Gen Z! Bagaimana Datanya? Ilustrasi Belanja | Pexels
Ukuran Fon:

Fenomena doom spending semakin sering muncul dalam obrolan tentang kehidupan anak muda, terutama Generasi Z. Istilah ini terdengar keren, tapi sebenarnya menggambarkan kondisi yang cukup mengkhawatirkan. Doom spending adalah kebiasaan belanja impulsif yang muncul sebagai respons terhadap perasaan negatif seperti stres, kecemasan, atau pikiran soal masa depan yang terasa gelap. Menurut survei, sekitar 35% Gen Z mengaku berbelanja untuk membuat diri mereka merasa lebih baik.

Dalam penelitian Universitas Panca Bhakti Pontianak, faktor psikologis seperti kecemasan dan tekanan emosional, ditambah paparan media sosial yang intens, membuat perilaku ini makin subur di kalangan Gen Z. Mereka cenderung mencari pelarian cepat, dan belanja menjadi cara yang dianggap paling mudah untuk merasa sedikit lega, meskipun hanya sebentar.

Mengapa Gen Z Rentan Mengalami Doom Spending

Generasi Z hidup di era yang penuh ketidakpastian. Banyak dari mereka merasa masa depan sulit ditebak, mulai dari isu ekonomi, persaingan kerja, inflasi, sampai situasi global yang sering berubah. Kondisi seperti ini memicu kecemasan yang tidak ringan. Belanja kemudian menjadi salah satu “jalan keluar” yang memberi rasa nyaman sekejap. Hal ini diperparah oleh dunia media sosial yang seakan-akan tidak pernah berhenti menawarkan hal baru. Paparan seperti itu membuat mereka merasa tertinggal kalau tidak ikut mencoba, dan akhirnya memicu perilaku konsumtif yang tidak terencana.

Lebih jauh lagi, beberapa penelitian menunjukkan bahwa pendapatan yang lebih tinggi justru bisa meningkatkan kecenderungan doom spending. Dalam studi kuantitatif di Kota Tegal dengan 384 responden, ditemukan bahwa pendapatan, paparan media sosial, dan gaya hidup konsumtif berpengaruh signifikan terhadap doom spending. Gaya hidup yang sudah terbentuk di lingkungan digital juga ikut andil, karena Gen Z terbiasa dengan ritme hidup yang cepat dan ingin serba instan. Ditambah lagi, literasi keuangan di kalangan anak muda tidak selalu merata. Hal ini membuat mereka mudah tergoda promo, diskon, maupun kemudahan transaksi digital tanpa benar-benar mempertimbangkan dampak jangka panjangnya.

Seperti Apa Perilaku Doom Spending Gen Z di Kehidupan Sehari-hari?

Doom spending muncul dalam banyak bentuk, dan seringkali tidak disadari. Banyak Gen Z yang memilih menghabiskan uang untuk pengalaman seperti kuliner, nongkrong di kafe, hingga menonton konser yang sedang ramai dibahas. Belanja barang juga tidak kalah populer, terutama fesyen, aksesoris, atau gadget terbaru yang terlihat kece di media sosial. Layanan digital seperti streaming, game berbayar, dan konten premium juga menjadi bagian dari kegemaran mereka, karena memberikan hiburan cepat yang dianggap bisa mengurangi stres.

Yang cukup mengkhawatirkan adalah semakin mudahnya fasilitas kredit digital seperti paylater, cicilan tanpa kartu kredit, hingga promo pembayaran instan. Kemudahan ini membuat Gen Z bisa membeli apa pun tanpa harus punya uang di awal. Menurut data dari ANTARA, pembiayaan paylater melonjak pesat, salah satu laporan menyebut bahwa pembiayaan paylater naik 39,3% YoY menjadi sekitar Rp 8,22 triliun dalam satu periode, pada Mei 2025 silam. Meskipun fenomena ini kadang membantu menggerakkan ekonomi, terutama di sektor kreatif dan UMKM, tetap ada risiko bahwa belanja impulsif ini membuat kondisi finansial mereka tidak stabil.

Temuan Data Tentang Doom Spending

Studi dari Universitas Panca Bhakti Pontianak menyebutkan bahwa kecemasan dan intensitas penggunaan media sosial berpengaruh besar terhadap perilaku doom spending, terutama di kalangan Gen Z dan milenial. Sementara itu, penelitian dari Journal MBIA dengan 384 responden di Tegal, memperlihatkan bahwa pendapatan, media sosial, dan gaya hidup punya pengaruh bersama-sama dalam membentuk kebiasaan ini.

Di sisi lain, survei-survei global dan lokal yang dimuat Detik.com menunjukkan angka yang cukup tajam, selain 35% Gen Z melakukan doom spending, sejauh 32% responden juga melaporkan bahwa mereka mengambil utang lebih banyak selama enam bulan terakhir akibat perilaku impulsif ini. Data lainnya dari sumber yang sama mengatakan bahwa 53% Gen Z merasa kenaikan biaya hidup jadi hambatan utama dalam mencapai keberhasilan finansial, yang menjadi salah satu pemicu doom spending.

Dampak Doom Spending Bagi Gen Z

Fenomena ini punya dua sisi. Dari sisi positif, konsumsi Gen Z bisa membantu menjaga pertumbuhan ekonomi karena mereka menjadi kelompok yang sangat aktif berbelanja, terutama pada sektor ritel, makanan dan minuman, serta hiburan digital. Bagi pelaku bisnis, ini memberikan peluang besar untuk terus berinovasi dan memenuhi kebutuhan pasar anak muda.

Namun, sisi negatifnya tidak bisa diabaikan. Doom spending dapat menimbulkan beban keuangan yang cukup berat. Karena 32% responden melaporkan mengambil utang akibat doom spending, banyak Gen Z yang akhirnya memiliki utang paylater atau cicilan digital tanpa perhitungan matang.

Tabungan juga cenderung tipis karena penghasilan habis untuk belanja impulsif. Secara psikologis, perilaku ini bisa menjadi siklus yang berbahaya, dari mulai munculnya kecemasan, lalu belanja untuk merasa lebih baik, lalu muncul stres baru karena uang habis atau utang menumpuk. Siklus ini bisa merusak stabilitas keuangan dan mental dalam jangka panjang.

Baca juga: Gen Z Dominasi Perokok Indonesia, Vape Jadi Gaya Hidup Baru?

Penulis: Emily Zakia
Editor: Muhammad Sholeh

Konten Terkait

Kebangkitan Ganda Campuran, Jafar/Felisha Tembus Peringkat 10 Besar BWF

Setahun terakhir, Jafar/Felisha jadi pasangan campuran pertama Indonesia yang berjaya tembus peringkat dunia 10 besar usai raih perak pada Australia Open 2025.

Daftar Wakil Indonesia pada Turnamen Hong Kong Open 2025!

Berikut daftar 12 wakil Indonesia dalam turnamen badminton Hong Kong Open 2025 yang akan digelar pada 9–14 September di Hong Kong Coliseum mendatang.

Terima kasih telah membaca sampai di sini

atau

Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.

Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook