Perseteruan digital antara warganet wilayah Asia Tenggara dan Korea Selatan atau yang akrab disebut K-Netz pada awal hingga pertengahan Februari lalu menjadi sorotan publik dari banyak negara di media sosial.
Perseteruan ini bermula dari keluhan netizen Malaysia di forum Korea dan X yang menyoroti perilaku fansite asal Korea Selatan di konser Day 6 Malaysia yang menggunakan kamera profesional. Akibatnya, pemandangan penonton Malaysia terganggu dan perilaku tersebut dianggap melanggar etika konser di sana.
Mengetahui komplain perilaku fansite tersebut, sebagian K-Netz bereaksi dengan mengunggah postingan yang menyerang fisik dan mengarah pada rasisme, serta menyampaikan ujaran diskriminatif bahwa warganet Asia Tenggara tidak berhak menikmati musik K-Pop.
Sikap rasis dan diskriminatif tersebut kemudian memantik reaksi warganet Asia Tenggara, sampai-sampai istilah SEAblings (Southeast Asian Siblings) digunakan secara masif sebagai bentuk solidaritas untuk menghadapi serangan tersebut.
Aktivitas perseteruan digital di berbagai platform media sosial dipantau oleh Drone Emprit dari tanggal 1–18 Februari 2026 pukul 23.59 yang melibatkan 18.934 sampel mentions. Dengan menganalisis kata kunci, seperti “seablings”, “SEAblingsAgainstRacism”, “perang seablings”, ditemukan data sentimen publik sebagai berikut.
Baca Juga: Ini Deretan K-Pop Idol dengan Kemampuan Akting Terbaik 2025, Ada Favoritmu?
Sebanyak 51,1% percakapan di media sosial bersentimen positif. Pembahasan umumnya menyoroti gerakan SEAblings yang dianggap sebagai perwujudan solidaritas digital Asia Tenggara sekaligus bentuk perlawanan terhadap diskriminasi di media sosial.
Postingan bersentimen positif lainnya juga terkait dengan perasaan senang karena warganet luar Indonesia juga menyoroti isu tersebut dan menilai perseteruan K-Netz versus SEAblings sebagai hiburan baru.
Secara menguntungkan, perbincangan yang menjadi sumber perseteruan ini dimanfaatkan oleh warganet untuk mempromosikan budaya di Indonesia dan Asia Tenggara, mulai dari artis, musik, hingga keindahan alam. Gerakan ini juga ditandai dengan kampanye penggunaan tagar #SEApopRise sebagai upaya sadar untuk mempromosikan musik dan budaya pop Asia Tenggara yang dapat menandingi K-Pop.
Pakar Komunikasi Universitas Brawijaya, Anang Sunjoko, turut memberikan pandangan terkait faktor yang membuat persaudaraan warganet Asia Tenggara begitu kuat.
“Ketika kita berbicara mengenai persaudaraan, hal tersebut mulai muncul. Terlebih saat internet telah menjadikan dunia seolah tanpa batas, rasa persaudaran ini dapat bangkit begitu saja karena adanya musuh bersama,” ujarnya mengutip Metro TV pada Sabtu (14/2/2026).
Sementara itu, 9,6% percakapan memiliki sentimen bersifat negatif. Pembahasannya mencakup kekhawatiran bahwa perseteruan akan semakin memanas dan menyerang pihak lain, individu yang tidak bersalah bisa terkena imbas rasisme K-Netz, memicu rasisme yang lebih luas, hingga membandingkan kondisi ekonomi antara Korea Selatan dan Indonesia. Adapun 39,2% sisanya bersentimen netral.
Apabila ditinjau dari intensitas postingan, aplikasi X menjadi kanal yang paling ramai membahas isu ini dengan total 168,67 juta interaksi dari total 223,22 juta.
Puncak percakapan terjadi pada 16 Februari 2026, dengan jumlah tertinggi di media sosial X mencapai 3.631 mentions. Pemicu utamanya adalah perang unggahan meme berbentuk foto dan video kreatif buatan warganet Asia Tenggara sebagai respons terhadap konten bernuansa rasis dan diskriminatif dari sebagian K-Netz.
Baca Juga: 5 Aktor Korea Favorit Publik Indonesia, Ada Kesukaanmu?
Sumber:
https://x.com/DroneEmpritOffc/status/2024822937963077882
Penulis: Faiza Az Zahra
Editor: Editor