Fenomena brainrot semakin sering dibicarakan, terutama ketika banyak orang merasa sulit fokus setelah terlalu lama scrolling media sosial.
Niatnya hanya lima menit membuka aplikasi, tahu-tahu hampir satu jam berlalu. Setelahnya, bukannya segar, justru muncul rasa kosong, lelah, dan sulit kembali berkonsentrasi pada pekerjaan atau tugas yang lebih serius.
Istilah ini makin sering muncul di media sosial, terutama ketika membahas penggunaan media sosial berlebihan dan kebiasaan menonton konten video pendek tanpa henti.
Di tengah arus short-video yang serba cepat dan instan, kemampuan kita untuk berkonsentrasi dalam waktu lama seolah terus diuji.
Apa Itu Fenomena Brainrot?
Menurut laporan Oxford University Press dalam pemilihan Word of the Year, brainrot menggambarkan penurunan kondisi mental atau intelektual akibat terlalu sering mengonsumsi konten daring yang dangkal atau kurang berkualitas. Sederhananya, otak terasa tumpul karena terus-menerus diberi asupan informasi ringan yang repetitif.
Penyebab utama brainrot saat ini erat kaitannya dengan pola konsumsi konten online. Beberapa faktor yang memicu kondisi ini antara lain:
1. Penggunaan Media Sosial Berlebihan
Sering scrolling media sosial tanpa jeda membuat otak jarang beristirahat. Jika sering melihat media sosial secara terus menerus tanpa jeda, hal ini akan memberikan rasa lelah dan kecemasan pada otak.
2. Menonton Konten Video Pendek secara Terus-Menerus
Konten short-video seperti Instagram Reels, Youtube Short, ataupun Tiktok dirancang untuk menarik perhatian dalam hitungan detik. Terlalu sering mengonsumsi short-video mengakibatkan otak menjadi dangkal dan sulit menerima informasi jangka panjang.
3. Kurangnya Aktivitas Fisik dan Sosial
Terlalu lama di depan layar akan mengurangi interaksi nyata dan gerak tubuh. Padahal, interaksi nyata, aktivitas fisik, dan aktivitas sosial membantu menjaga kestabilan mental bagi siapapun.
4. Kualitas Tidur yang Buruk
Kebiasaan doomscrolling sebelum tidur membuat otak tetap terstimulasi, sehingga sulit benar-benar beristirahat.
Dalam jangka panjang, brainrot bisa membuat seseorang lebih mudah terdistraksi, sulit fokus, bahkan kehilangan minat pada aktivitas yang membutuhkan konsentrasi mendalam.
Pola Konsumsi Short-Videos Content
Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari meningkatnya popularitas konten video pendek. Data terbaru dari We Are Social Juli 2025, menunjukkan tingginya frekuensi jumlah hari per minggu menonton short-video online di berbagai negara.
Nigeria berada di posisi teratas dengan skor 5,38, disusul Filipina (5,12) dan Indonesia (5,05). Setelahnya ada Kenya (5,01), Chile (4,95), Brazil (4,94), Ghana (4,9), Afrika Selatan (4,83), dan Serbia (4,8).
Angka ini menggambarkan betapa intensnya masyarakat global dalam mengonsumsi konten video pendek. Platform seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts berlomba-lomba menyajikan konten berdurasi singkat yang dirancang agar pengguna terus bertahan.
Algoritma platform ini bekerja dengan mempelajari preferensi pengguna lalu menyuguhkan video yang semakin relevan dan menarik secara personal. Hasilnya? Kita terdorong untuk terus melakukan scrolling media sosial tanpa sadar.
Satu video selesai, langsung muncul video berikutnya. Pola ini memperkuat kebiasaan konsumsi instan dan memperpendek toleransi terhadap konten berdurasi panjang.
Dampak Media Sosial pada Attention Span
Pertanyaan besarnya adalah apakah kebiasaan ini benar-benar memengaruhi kemampuan dalam fokus?
Sebuah studi dari Microsoft Corp. di Kanada memberikan gambaran menarik. Penelitian tersebut melibatkan 2.000 responden dan juga mengamati aktivitas otak 112 partisipan menggunakan EEG.
Hasilnya menunjukkan bahwa sejak tahun 2000 yang merupakan era ketika revolusi ponsel mulai berkembang, rata-rata attention span (rentang perhatian) manusia menurun dari 12 detik menjadi 8 detik.
Sebagai perbandingan, ikan mas dikenal memiliki rentang perhatian sekitar sembilan detik. Artinya, rata-rata manusia modern bahkan sedikit lebih singkat dalam mempertahankan fokus dibanding ikan mas.
Studi tersebut juga menemukan perbedaan generasi. Sebanyak 77% responden usia 18-24 tahun mengaku bahwa ketika tidak ada hal yang menyita perhatian mereka, hal pertama yang dilakukan adalah meraih ponsel. Sementara itu, pada kelompok usia di atas 65 tahun, angkanya hanya 10%.
Penurunan attention span ini tidak sepenuhnya negatif. Laporan tersebut mencatat bahwa kemampuan multitasking meningkat di era digital. Namun, di sisi lain, kebiasaan berpindah perhatian dengan cepat bisa berdampak pada sulit fokus saat membaca buku, mengerjakan tugas panjang, atau mengikuti diskusi mendalam.
Dalam kehidupan sehari-hari, gejala brainrot bisa muncul dalam bentuk mudah bosan, tidak tahan membaca teks panjang, atau refleks membuka aplikasi saat ada jeda beberapa detik saja.
Sudah Terlanjur Brainrot? Ini Cara Melatih Fokus Lagi
Kabar baiknya, otak memiliki kemampuan beradaptasi. Jika kebiasaan scrolling bisa membentuk pola baru, kebiasaan sehat pun bisa melatih ulang fokus kita. Berikut beberapa langkah sederhana yang bisa dicoba:
1. Batasi Waktu Layar
Tetapkan batas harian untuk media sosial, kamu bisa gunakan fitur pengingat waktu di ponsel agar lebih sadar durasi penggunaan.
2. Pilih Konten yang Berkualitas
Tidak semua konten video pendek buruk. Cobalah kurasi tontonan ringan dengan mengikuti akun edukatif atau inspiratif agar asupan informasi lebih bernilai.
3. Aktif Bergerak dan Bersosialisasi
Olahraga ringan, berjalan kaki, atau sekadar ngobrol langsung dengan teman dapat membantu menyeimbangkan paparan digital.
4. Jaga Kualitas Tidur
Hindari perangkat elektronik setidaknya satu jam sebelum tidur. Biarkan otak benar-benar beristirahat tanpa stimulasi layar.
5. Latih Pikiran secara Aktif
Membaca buku fisik, bermain game strategi, atau belajar keterampilan baru dapat membantu memperpanjang kembali attention span.
6. Lakukan Digital Detox Berkala
Ambil jeda sehari tanpa media sosial. Awalnya mungkin akan terasa gelisah, tetapi itu bagian dari proses memutus pola kecanduan media sosial.
Fenomena brainrot bukanlah masalah serius yang tak bisa diatasi, melainkan sinyal bahwa otak kita kewalahan menghadapi banjir informasi instan. Maka dari itu, kemampuan untuk berhenti sejenak dan selektif mengonsumsi konten menjadi keterampilan yang semakin penting.
Jadi, lain kali saat jempol mulai otomatis scrolling media sosial, mungkin ada baiknya kita bertanya dahulu, apakah ini benar-benar hiburan yang dibutuhkan, atau sekadar kebiasaan yang sulit dihentikan?
Penulis: Raka Adichandra
Editor: firda wandira