APBN 2026: Anggaran Perpusnas Dipangkas 47%

Pada tahun 2026, Perpusnas RI hanya mendapat anggaran sebesar Rp378 triliun atau dipangkas 47,6% dari besaran sebelumnya yang mencapai Rp721,7 triliun.

APBN 2026: Anggaran Perpusnas Dipangkas 47% Gedung Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI yang terletak di Jakarta Pusat | Jakarta Smart City
Ukuran Fon:

Pemerintah melakukan penyesuaian alokasi anggaran untuk Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Republik Indonesia (RI) dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Setelah beberapa tahun terakhir relatif stabil, pagu anggaran lembaga tersebut kini mengalami pemangkasan cukup signifikan.

Berdasarkan Undang Undang (UU) RI Nomor 17 Tahun 2025 Tentang APBN Tahun Anggaran (TA) 2026 yang dirilis oleh Kementerian Keuangan (Kemenkeu) RI, Perpusnas hanya memperoleh alokasi sebesar Rp378 triliun, merosot sebanyak 47,6% dibandingkan pagu pada tahun 2025 yang mencapai Rp721,7 triliun.

Penurunan tajam ini menjadi yang paling drastis dalam enam tahun terakhir, setelah sebelumnya anggaran yang dijatuhi untuk lembaga tersebut relatif stabil dan bahkan sempat meningkat sejak tahun 2023.

Tren besaran APBN untuk Perpusnas RI pada tahun 2020-2026 | GoodStats
Tren besaran APBN untuk Perpusnas RI pada tahun 2020-2026 | GoodStats

Mulanya pada tahun 2020, besaran APBN yang dialokasikan untuk Perpusnas sebesar Rp659 triliun. Angka ini tumbuh sebanyak 2,5% menjadi Rp675,5 triliun pada tahun berikutnya.

Meski anggaran Perpusnas pada tahun 2022 mengalami sedikit penyusutan, yaitu sebesar 1,2% sehingga nominalnya menyentuh Rp667,5 triliun, nilainya kembali naik secara signifikan pada periode selanjutnya.

Belanja negara yang dianggarkan untuk Perpusnas pada tahun 2023 sebesar Rp723 triliun, atau naik sebanyak 8,3% sekaligus sebagai periode dengan pertumbuhan APBN tertinggi untuk Perpusnas dalam enam tahun terakhir.

Memasuki tahun 2024, angkanya cenderung stabil dengan kenaikan yang tipis, yaitu hanya sebesar 0,39% sehingga mencapai Rp725,8 triliun. Walaupun persentase kenaikannya menjadi yang terkecil dalam enam tahun ke belakang, nilai anggarannya mencatatkan rekor tertinggi sepanjang periode tersebut.

Sementara itu, besaran pagu anggaran untuk Perpusnas pada tahun 2025 sebesar Rp721,7 triliun atau kembali mengalami pengurangan yang kecil, yaitu hanya 0,5% sebelum akhirnya merosot tajam pada tahun ini.

Pemangkasan anggaran pada 2026 menandai perubahan arah belanja negara untuk perpustakaan dengan gedung tertinggi di dunia ini. Setelah beberapa tahun berada dalam tren yang relatif stabil, penurunan tajam ini menjadi momentum krusial dalam peta kebijakan fiskal sektor literasi nasional.

Baca Juga: Punya Perpustakaan Tertinggi di Dunia, Minat Baca di Indonesia Masih Rendah

Tingkat Kepuasan Pengguna Perpusnas

Dalam peningkatan kualitas layanan publik, Perpusnas melakukan Survei Kepuasan Pemustaka sebagai salah satu instrumen utama untuk mengumpulkan umpan balik langsung dari pengguna layanan.

Nilai Indeks Kepuasan Pemustaka (IKP) mencakup 28 jenis layanan yang tersedia di lingkungan Perpusnas dengan sembilan unsur pelayanan publik, meliputi persyaratan, sistem-mekanisme-prosedur, waktu penyelesaian, biaya/tarif, produk atau spesifikasi jenis layanan, kompetensi petugas, perilaku petugas, penanganan pengaduan, serta sarana dan prasarana.

Adapun setiap indikator diukur menggunakan skala Likert empat poin, berupa sangat tidak setuju, tidak setuju, setuju, dan sangat setuju.

Survei ini menggunakan metode simple random sampling dengan total 3.724 responden yang telah menggunakan salah satu layanan Perpusnas dalam tiga bulan terakhir, dengan tingkat kepercayaan 95% dan margin of error 5%.

Stabilnya anggaran pemerintah yang dialokasikan untuk Perpusnas tampak berjalan seiring dengan skor IKP hasil survei. Dalam lima tahun terakhir, nilai IKP cenderung stagnan berada di atas 3,5 dari skala 0-4.

Tren tingkat kepuasan pengguna layanan Perpusnas RI pada tahun 2020-2025 | GoodStats
Tren tingkat kepuasan pengguna layanan Perpusnas RI pada tahun 2020-2025 | GoodStats

Berturut-turut selama dua tahun, skor indeks pada tahun 2020 dan 2021 sebesar 3,61. Angka ini kemudian meningkat tipis menjadi 3,62 pada tahun berikutnya.

Memasuki tahun 2023, nilai indeks terus naik menyentuh 3,63 sebelum akhirnya mencapai 3,86 pada tahun 2024, sekaligus sebagai periode dengan tingkat kepuasan pengguna tertinggi terhadap layanan di Perpusnas dalam lima tahun ke belakang.

Hal ini selaras pula dengan besaran APBN yang dialokasikan untuk Perpusnas pada tahun tersebut. Pada tahun 2023 dan 2024, belanja negara untuk Perpusnas berturut-turut sebesar Rp723 dan Rp725,8 triliun, tercatat sebagai anggaran tertinggi dalam periode terhitung.

Meski begitu, terdapat penurunan kepuasan pada tahun 2025. Skor IKP tercatat turun menjadi 3,58 atau menjadi yang terendah dibandingkan capaian lima periode sebelumnya.

Secara keseluruhan, tren indeks kepuasan Perpusnas dalam lima tahun terakhir menunjukkan pola yang relatif stabil dengan fluktuasi tipis. Kenaikan signifikan pada 2024 menjadi puncak capaian kualitas layanan, sebelum kembali menurun pada tahun berikutnya. Dinamika ini menjadi catatan penting di tengah perubahan alokasi anggaran pada 2026, terutama dalam menjaga konsistensi mutu layanan publik.

Dalam Rapat Dengar Pendapat (RPD) bersama Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI yang dilaksanakan pada Rabu (14/1/2026) di Jakarta, Kepala Perpusnas RI Endang Aminudin Aziz mengusulkan tambahan anggaran belanja pada tahun 2026. Menurutnya, ruang fiskal yang lebih sempit berpotensi memengaruhi pelaksanaan sejumlah program strategis yang telah dirancang.

“Dampak anggaran yang terbatas sangat terasa. Ada program yang seharusnya ditangani dua unit kerja namun belum bisa kami danai. Program seperti penyediaan 1.000 buku untuk satu Taman Bacaan Masyarakat (TBM) juga tidak bisa kami lakukan lagi,” ucapnya.

Komisi X DPR RI menyatakan dukungan terhadap usulan tambahan anggaran lembaga tersebut sebesar Rp644,7 triliun guna mendukung pelaksanaan berbagai program prioritas sesuai ketentuan, prosedur, dan mekanisme penganggaran yang berlaku.

Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Maria Yohana Esti Wijayati, menekankan pentingnya komunikasi lintas kementerian dan lembaga untuk memperkuat urgensi program literasi nasional.

“Kita butuh perbaikan cara komunikasi untuk meyakinkan Kementerian Keuangan, Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional), dan Setneg (Sekretariat Negara) mengenai urgensi program literasi. Peran Perpusnas sangat penting untuk mencapai target RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional),” paparnya.

Pemangkasan anggaran pada tahun 2026 menjadi tantangan bagi Perpusnas dalam menjaga kesinambungan program literasi di tingkat nasional maupun daerah. Di tengah keterbatasan fiskal, efektivitas belanja dan dukungan lintas lembaga akan menjadi faktor penentu agar layanan publik dan agenda penguatan budaya baca tetap berjalan optimal.

Baca Juga: Jumlah Kunjungan ke Perpusnas Terus Turun

Sumber:

https://www.kemenkeu.go.id/informasi-publik/keuangan-negara/uu-apbn-dan-nota-keuangan

Penulis: Shahibah A
Editor: Editor

Konten Terkait

Indonesia Jadi Negara Ke-2 Paling Rentan Terkena Penipuan di Dunia

Pakistan menjadi negara dengan risiko penipuan tertinggi (7,84 poin), disusul Indonesia (6,53 poin), dan Nigeria (6,43 poin) menurut Global Fraud Index 2025.

Virus Nipah Masuk Daftar Penyakit Prioritas WHO

Tingkat kematian virus Nipah mencapai 75 persen dipengaruhi deteksi dini kapasitas layanan kesehatan nasional regional global.

Terima kasih telah membaca sampai di sini

atau

Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.

Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook