Nasional

Fenomena Bediding Datang Lagi, Ini 5 Daerah Terdingin di Jawa Timur Menurut BMKG

Fenomena bediding kembali membuat suhu malam hingga pagi terasa lebih dingin di sejumlah wilayah Indonesia. SImak penyebab utamanya dan daerah mana saja.

Fenomena Bediding Datang Lagi, Ini 5 Daerah Terdingin di Jawa Timur Menurut BMKG

Ilustrasi Bediding | Serhii Barkanov/Pexels

Fenomena bediding kembali dirasakan di sejumlah wilayah Pulau Jawa seiring memasuki puncak musim kemarau. Pada malam hingga menjelang pagi, suhu udara terasa jauh lebih dingin dibandingkan biasanya, meski siang hari tetap terik.

Kondisi ini banyak dirasakan masyarakat di Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga Jawa Barat, terutama di kawasan dataran tinggi.

Belakangan, laporan suhu minimum dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan beberapa daerah di Jawa Timur mencatat suhu di bawah 20 derajat Celsius. Bahkan kawasan Bromo mencatat suhu hanya 11,5 derajat Celsius.

Penurunan suhu ini merupakan bagian dari fenomena bediding yang memang lazim terjadi setiap musim kemarau.

Lantas, apa sebenarnya fenomena bediding? Mengapa udara bisa terasa sangat dingin saat musim kemarau, dan daerah mana saja yang paling merasakannya?

Baca Juga: BMKG Rilis 10 Kota Terpanas Maret 2026, Apakah Kotamu Termasuk?

Apa Itu Fenomena Bediding?

Fenomena bediding merupakan istilah yang berasal dari bahasa Jawa, yakni bedhidhing, untuk menggambarkan kondisi udara yang terasa sangat dingin pada malam hingga pagi hari ketika musim kemarau berlangsung. Meski malam terasa menusuk, suhu pada siang hari justru tetap panas akibat paparan sinar matahari yang intens.

Secara klimatologis, bediding merupakan fenomena alam yang normal terjadi setiap tahun. Kondisi ini umumnya muncul pada puncak musim kemarau, yakni sekitar Juni hingga September, dengan periode yang paling sering dirasakan antara Juli hingga awal September.

Pada periode tersebut, langit cenderung cerah dengan tutupan awan yang sangat sedikit. Curah hujan juga menurun sehingga udara menjadi lebih kering. Kombinasi inilah yang membuat suhu udara pada malam hari turun cukup signifikan dibandingkan musim lainnya.

Menurut BMKG, meski pada awal musim kemarau kondisi atmosfer di sebagian wilayah Indonesia bagian selatan masih dipengaruhi monsun Australia yang belum sepenuhnya kuat, suhu dingin tetap mulai dirasakan di sejumlah daerah, terutama wilayah pegunungan seperti Dieng, Lembang, hingga kawasan pegunungan di Jawa Timur.

Mengapa Fenomena Bediding Membuat Suhu Malam Terasa Lebih Dingin?

Fenomena bediding terjadi karena beberapa faktor meteorologis yang saling berkaitan. Berikut penyebab utama suhu udara menjadi lebih dingin saat musim kemarau.

  • Tutupan awan sangat minim. Langit yang cerah membuat panas yang diserap permukaan bumi pada siang hari lebih cepat dilepaskan kembali ke atmosfer saat malam hari.
  • Kelembapan udara rendah. Saat musim kemarau, kandungan uap air di udara berkurang sehingga tidak banyak panas yang tertahan di dekat permukaan bumi.
  • Radiasi panas berlangsung lebih efektif. Permukaan bumi kehilangan panas lebih cepat melalui radiasi gelombang panjang sehingga suhu udara terus menurun menjelang dini hari.
  • Pengaruh angin muson timur. Angin yang bertiup dari Australia membawa massa udara yang lebih dingin menuju wilayah Indonesia bagian selatan, termasuk Pulau Jawa.
  • Wilayah dataran tinggi lebih mudah mengalami penurunan suhu. Daerah pegunungan memiliki suhu dasar yang memang lebih rendah sehingga efek bediding terasa lebih kuat dibandingkan wilayah pesisir.

Deputi Meteorologi BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa suhu malam yang biasanya berkisar antara 21-23 derajat Celsius dapat turun hingga sekitar 17-19 derajat Celsius ketika fenomena bediding terjadi.

Di beberapa kawasan pegunungan, suhu bahkan bisa lebih rendah lagi sehingga memunculkan embun upas atau embun beku seperti yang sering terlihat di Dieng maupun kawasan Bromo.

Baca Juga: Jawa Timur Jadi Lumbung Susu Sapi Nasional, Ini 10 Daerah Penghasil Fresh Milk Terbanyak di Indonesia

5 Daerah Terdingin Saat Fenomena Bediding di Jawa Timur Menurut BMKG

Berdasarkan hasil pengamatan suhu minimum Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Timur periode 13 Juni 2026 pukul 07.01 WIB hingga 14 Juni 2026 pukul 07.00 WIB, berikut lima wilayah dengan suhu terendah.

5 Daerah Terdingin Saat Fenomena Bediding di Jawa Timur Menurut BMKG | GoodStats
5 Daerah Terdingin Saat Fenomena Bediding di Jawa Timur Menurut BMKG | GoodStats

Data tersebut menunjukkan kawasan Bromo menjadi wilayah terdingin di Jawa Timur dengan suhu minimum mencapai 11,5 derajat Celsius. Selisih suhu dengan daerah lain pun cukup jauh, mencerminkan pengaruh ketinggian wilayah terhadap penurunan suhu udara saat musim kemarau.

Kota Batu dan Malang juga masih mencatat suhu di bawah 18 derajat Celsius, sedangkan Tretes di Pasuruan dan Bondowoso turut mengalami udara yang lebih dingin dibandingkan rata-rata suhu malam hari.

BMKG mengimbau masyarakat untuk menggunakan pakaian hangat saat malam maupun pagi hari serta menjaga kondisi tubuh agar tetap fit. Bagi petani dan peternak, suhu rendah juga perlu diantisipasi karena dapat memengaruhi tanaman maupun ternak.

Daerah Jawa Barat dan Jawa Tengah yang Berpotensi Mengalami Fenomena Bediding

Selain Jawa Timur, beberapa daerah di Jawa Tengah dan Jawa Barat juga diperkirakan mengalami penurunan suhu yang cukup signifikan selama musim kemarau.

 

Daerah Jawa Barat dan Jawa Tengah yang Berpotensi Mengalami Fenomena Bediding | GoodStats
Daerah Jawa Barat dan Jawa Tengah yang Berpotensi Mengalami Fenomena Bediding | GoodStats

 

Wilayah pegunungan di Jawa Tengah masih menjadi kawasan yang paling berpotensi mengalami bediding. Temanggung diperkirakan menjadi salah satu daerah dengan suhu terendah, bahkan bisa mencapai sekitar 13 derajat Celsius.

Sementara itu, Wonosobo yang berada di sekitar Dataran Tinggi Dieng juga diprediksi mengalami suhu 14-17 derajat Celsius. Magelang dan Salatiga turut merasakan udara yang lebih sejuk dibandingkan hari-hari biasa.

Selain itu, di Jawa Barat, Garut menjadi salah satu wilayah dengan suhu terendah yang diperkirakan berada pada kisaran 11-17 derajat Celsius. Sementara itu, kawasan Ciwidey juga mengalami suhu rata-rata sekitar 15 derajat Celsius dan berpotensi turun lebih rendah pada malam hingga dini hari.

Kondisi tersebut membuat kawasan pegunungan di Jawa Barat menjadi lokasi yang paling terasa mengalami fenomena bediding selama musim kemarau.

Fenomena bediding merupakan bagian dari siklus musim kemarau yang rutin terjadi di Indonesia, khususnya wilayah selatan khatulistiwa seperti Pulau Jawa. Langit yang cerah, kelembapan udara yang rendah, serta pengaruh angin muson timur membuat suhu malam hingga pagi hari turun cukup drastis, terutama di kawasan dataran tinggi.

Meski bukan fenomena yang berbahaya, masyarakat tetap perlu mengantisipasi dampaknya dengan menjaga kondisi tubuh dan menggunakan pakaian hangat saat beraktivitas pada malam maupun pagi hari. Bagi sektor pertanian, suhu rendah juga perlu diwaspadai karena berpotensi memengaruhi kondisi tanaman, terutama di wilayah pegunungan.

Baca Juga: Papua Pegunungan Jadi Daerah Paling Sulit Akses Air Minum Layak, Ini Daftar Provinsi Lainnya

Sumber:

Hasil Riset GoodStats

Penulis: Raka Adichandra Editor: Firda Wandira

Terima kasih telah membaca sampai di sini

Lupa Sandi?